SERANG, BANPOS — Proyek film Kitab Nuswantara: Laras Menjaga Tanah Leluhur resmi dimulai. Banten dipilih sebagai lokasi perdana produksi film yang mengangkat potensi lokal, kearifan, serta kekayaan budaya daerah.
Film yang diproduksi PT Memayu Hayuning Nuswantara dan disutradarai Aby Azi TR itu dikemas melalui pendekatan cerita dongeng yang diadaptasi dengan kehidupan masa kini.
Berdasarkan pantauan BANPOS, ratusan peserta mengikuti proses open casting untuk mendapatkan kesempatan terlibat dalam proyek film tersebut.
Juri sekaligus pengisi special performance, Nugie, mengatakan Banten dipilih sebagai daerah pertama karena memiliki kedekatan dengan tim produksi.
“Kita memulai di Banten karena domisili tempat tinggal kita di Banten. Jadi akan lebih banyak kemudahan dalam berkoordinasi dengan teman-teman yang punya, dalam tanda kutip, per-partner-an sama kita, karena kita mengangkat tema yang paling dekat dengan kehidupan kita sehari-hari di Banten. Dan juga belum banyak cerita yang mengangkat tentang Banten,” ujar Nugie, Kamis (3/9).
Menurut Nugie, film tersebut tidak mengadaptasi cerita rakyat atau sejarah Banten secara mentah. Konsep itu dipilih untuk menghindari persinggungan dengan literasi, norma adat, maupun isu SARA.
“Justru kita membuat dongeng baru. Mengangkat tema dongeng-dongeng yang sebenarnya adalah inspirasi bebas yang kita dapatkan pada saat kita menjelajah di Banten supaya tidak bersinggungan dengan literasi, bersinggungan dengan unsur SARA,” katanya.
Ia menjelaskan, cerita film tersebut terinspirasi dari berbagai lokasi dan nilai keluhuran yang ditemukan selama menjelajahi wilayah Banten.
Dari sisi pendanaan, Nugie memastikan proyek film tersebut tidak menggunakan APBD.
“Yang pasti kita enggak pakai APBD. Kita udah sepakat, kita enggak mau ganggu pemerintah dan enggak mau ganggu kewajiban-kewajiban yang lain. Tapi kita mau mengajak semua stakeholder yang ada di wilayah Banten untuk bisa ikut bersinergi,” tuturnya.
Film petualangan tersebut ditargetkan dapat dinikmati semua kalangan usia. Proses pengambilan gambar direncanakan berlangsung pada November 2026.
“Rencana kita akan melakukan syuting itu di November. Insya Allah di November kita akan melakukan syuting,” ungkap Nugie.
Pastikan Delapan Kabupaten/Kota Terwakili
Sutradara Kitab Nuswantara: Laras Menjaga Tanah Leluhur, Aby Azi TR, mengatakan tantangan terbesar tim kreatif adalah merangkum keberagaman Banten ke dalam durasi film layar lebar.
Menurutnya, Banten memiliki banyak potensi cerita dan keunikan yang tidak mungkin seluruhnya ditampilkan dalam durasi 90 hingga 120 menit.
“Banten ada begitu banyak hal-hal ajaib lah ya. Yang mungkin kalau kita visualkan itu enggak mungkin bisa kita visualkan dalam waktu 120 menit atau 90 menit. Nah, makanya kita sebagai tim kreatif beberapa minggu, bulan ke belakang kita mencari formula bagaimana caranya semua itu ter-cover di satu film,” jelas Aby Azi.
Ia memastikan seluruh kabupaten dan kota di Banten akan mendapatkan porsi dalam film tersebut.
“Formula itu alhamdulillah udah kita temukan. Insya Allah nanti di visualkan itu 8 kota/kabupaten. Semua ada di dalam visual itu. Jadi jangan takut ketika memang kalian tinggal di kabupaten apa, wilayah mana. Saya jamin itu pasti muncul di film ini semua,” tegasnya.
Prioritaskan Talenta Lokal
Sementara itu, Produser Lumbung Dongeng Nusantara (LDN), Brama Yudha, mengapresiasi antusiasme masyarakat yang mengikuti proses open casting.
Ia mengatakan proyek tersebut tidak hanya ditujukan untuk menghasilkan film, tetapi juga membuka ruang bagi talenta daerah untuk masuk ke industri perfilman nasional.
“Percayalah, kita sedang membuat sejarah baru di dunia perfilman Indonesia. Sejarah baru, semangat baru akan hadirnya sebuah cerita dari daerah di setiap provinsi, tapi kita mulai dan spesial yaitu di Provinsi Banten,” ujar Brama saat memberikan sambutan.
Menurut Brama, pencarian bakat lokal dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor. Di antaranya pemerintah daerah, Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekraf), komunitas seni teater, serta perguruan tinggi seperti Untirta dan Uniba.
Ia menyebut dukungan dari Pemprov Banten juga diberikan dalam memfasilitasi kebutuhan produksi.
Melalui open casting yang dilakukan, pihak produser berkomitmen memprioritaskan talenta lokal untuk mengisi sejumlah peran dalam film tersebut.
“Karena kenapa ini harus menjadi roadshow? Karena saya ingin memberikan peluang banyak sekali untuk teman-teman Banten tampil dan hadir dalam film yang kita garap di Banten ini. Buat apa saya mendatangkan artis ke Banten? Saya ingin menemukan pemeran utamanya di Banten. Saya ingin menemukan the next Dian Sastro, saya ingin menemukan the next Reza,” tegasnya. (*)







Discussion about this post