SERANG, BANPOS – Tim Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) 2026 menggelar pelatihan inovasi pengolahan hasil perikanan bagi keluarga nelayan di Perum Mina Bakti, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Rabu (1/7).
Kegiatan ini difokuskan pada peningkatan nilai tambah komoditas kerang hijau yang selama ini umumnya hanya diolah secara sederhana seperti direbus atau ditumis, sehingga nilai ekonominya cenderung tidak berkembang.
Melalui pelatihan tersebut, tim mahasiswa memperkenalkan produk olahan bernama Kaki Naga berbahan dasar kerang hijau yang dipadukan dengan daging ikan gabus (jolot).
Inovasi ini dirancang tidak hanya untuk meningkatkan variasi produk konsumsi, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi keluarga nelayan di wilayah pesisir Kasemen.
Dalam praktiknya, peserta diberikan pendampingan langsung mulai dari proses persiapan bahan baku, penimbangan adonan dengan standar 25 gram per unit untuk menjaga konsistensi produk, hingga teknik pengolahan seperti pengukusan dan pelapisan tepung panir dua kali (double breading) guna menghasilkan tekstur yang lebih renyah saat digoreng.
Kombinasi kerang hijau dan ikan gabus menghasilkan produk dengan kandungan gizi yang tinggi. Ikan gabus dikenal kaya albumin yang bermanfaat bagi pemulihan tubuh, sementara kerang hijau mengandung zat besi yang baik untuk kesehatan.
Perpaduan ini menjadikan Kaki Naga tidak hanya sebagai produk pangan bernilai jual, tetapi juga sebagai alternatif pangan bergizi bagi masyarakat.
Dosen Pembimbing Lapangan sekaligus Penanggung Jawab Program PMM, Devi Faustine Elvina Nuryadin, menegaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat pesisir melalui pengolahan hasil laut.
“Lewat pelatihan ini, kami berharap masyarakat bisa memiliki alternatif pendapatan tambahan. Tidak hanya menjual kerang dalam bentuk mentah, tetapi juga dalam bentuk olahan yang memiliki nilai jual lebih tinggi dan daya simpan lebih lama,” ujarnya.
Kegiatan ini juga dilengkapi dengan evaluasi akademik melalui metode Pre-Test dan Post-Test untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta terkait aspek gizi, keamanan pangan, serta peluang usaha rumah tangga. Hasil evaluasi tersebut menjadi indikator efektivitas program pengabdian yang dijalankan.
Partisipasi warga terlihat tinggi sepanjang kegiatan berlangsung. Tidak hanya diikuti oleh para istri nelayan, pelatihan ini juga melibatkan para nelayan laki-laki yang turut aktif mempraktikkan proses pengolahan dan berdiskusi mengenai potensi usaha dari produk tersebut.
Salah satu peserta, Zainudin, nelayan setempat, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan ini.
“Acaranya seru dan ramai. Rasa nugget kerangnya juga mantap. Harapannya kegiatan seperti ini bisa rutin dilakukan,” ujarnya.
Program PMM UNTIRTA 2026 ini mendapat dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemendiktisaintek melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PBM), serta dukungan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNTIRTA.
Kegiatan ini diharapkan dapat terus berlanjut sebagai upaya penguatan ekonomi masyarakat pesisir berbasis inovasi produk lokal. (*)







Discussion about this post