TANGERANG, BANPOS – Persoalan sampah organik rumah tangga coba diurai mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Tematik Reguler Kelompok 08 Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) melalui cara sederhana yang bisa diterapkan dari lingkungan rumah.
Bersama Ibu-ibu PKK Pokja III Desa Sasak, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, mahasiswa KKM menggelar edukasi sekaligus praktik pembuatan lubang resapan biopori, Sabtu (25/7).
Kegiatan yang dipusatkan di Kebun Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Sasak tersebut diarahkan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan sampah organik rumah tangga.
Sampah yang selama ini berpotensi menjadi limbah, diperkenalkan untuk diolah melalui biopori hingga menghasilkan kompos yang dapat dimanfaatkan untuk tanaman.
Dalam kegiatan itu, mahasiswa tidak hanya memberikan penjelasan secara teori.
Peserta diajak melihat langsung proses pembuatan biopori, mulai dari membuat lubang, memilih dan memasukkan sampah organik, hingga melakukan perawatan agar proses penguraian berjalan optimal.
Setelah demonstrasi, peserta kemudian mempraktikkan langsung tahapan pembuatan biopori dengan pendampingan mahasiswa.
Antusiasme terlihat dari keaktifan peserta mengikuti setiap tahapan serta mengajukan pertanyaan seputar pengelolaan sampah organik, proses pengomposan dan pemanfaatan hasilnya.
Penanggung jawab kegiatan sekaligus pemateri, Saeli Malini Utamy, mengatakan biopori dapat menjadi langkah sederhana yang bisa dilakukan masyarakat untuk menangani sampah organik sekaligus menjaga lingkungan.
“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga mendorong masyarakat untuk mulai menerapkan biopori secara mandiri di lingkungan rumah. Dengan begitu, sampah organik dapat dimanfaatkan menjadi kompos yang bermanfaat dan lingkungan menjadi lebih bersih serta sehat,” ujarnya.
Selain membantu proses pengolahan sampah organik, lubang resapan biopori juga diperkenalkan sebagai upaya meningkatkan daya resap air ke dalam tanah.
Kompos yang dihasilkan nantinya dapat dimanfaatkan untuk menunjang pertumbuhan tanaman di pekarangan maupun kebun.
Anggota PKK Pokja III Desa Sasak mengapresiasi edukasi yang diberikan mahasiswa KKM Untirta tersebut. Menurutnya, praktik secara langsung membuat masyarakat lebih mudah memahami cara kerja dan tahapan pembuatan biopori.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat karena memberikan pengetahuan baru kepada kami tentang cara mengolah sampah organik melalui lubang resapan biopori. Demonstrasi dan praktik yang dilakukan membuat kami lebih mudah memahami setiap tahapannya sehingga kami dapat menerapkannya di rumah dan mengajak masyarakat lainnya melakukan hal yang sama,” tuturnya.
Melalui kegiatan tersebut, Kelompok 08 KKM Tematik Reguler Untirta berharap pemanfaatan biopori tidak berhenti pada kegiatan praktik, tetapi dapat diterapkan secara mandiri oleh masyarakat Desa Sasak.
Upaya tersebut diharapkan menjadi kebiasaan baru dalam mengelola sampah organik dari sumbernya, sekaligus mendorong terbentuknya lingkungan desa yang lebih bersih, sehat dan produktif. (*)







Discussion about this post