SERANG, BANPOS – Praktisi Corporate Social Responsibility (CSR) sekaligus perwakilan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT ASDP Indonesia Ferry, Nugroho W Susilo, menegaskan bahwa program CSR saat ini tidak lagi sekadar kegiatan berbagi bantuan, melainkan harus mampu menciptakan dampak berkelanjutan bagi masyarakat.
Hal tersebut disampaikan dalam Workshop Manajemen CSR untuk Pemberdayaan Masyarakat yang diselenggarakan Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Untirta bersama Forum CSR dan PKBL (Forkapi) Banten di Ruang Sidang Gedung FISIP Untirta Kampus Sindangsari, Kamis (18/6).
Dalam pemaparannya, Nugroho menjelaskan bahwa perkembangan CSR telah mengalami transformasi signifikan. Menurutnya, pada tahap awal CSR identik dengan kegiatan filantropi berupa pemberian bantuan yang manfaatnya bersifat sementara.
“Dulu CSR identik dengan charity atau filantropi, misalnya pembagian sembako. Itu memang bermanfaat, tetapi dampaknya hanya sesaat. Saat ini orientasinya sudah bergeser menjadi pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, transformasi tersebut dimulai dari CSR berbasis filantropi, berkembang menjadi community development melalui pelatihan dan pendampingan, kemudian optimalisasi potensi lokal, hingga saat ini memasuki era CSR 4.0 yang terintegrasi dengan konsep Environmental, Social and Governance (ESG).
Menurut Nugroho, CSR merupakan bagian penting dari implementasi ESG yang kini menjadi perhatian utama perusahaan, khususnya Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
“CSR adalah bagian dari ESG. Karena itu program yang dijalankan harus memberikan manfaat nyata, terukur, dan berkelanjutan bagi masyarakat maupun lingkungan,” katanya.
Nugroho juga memaparkan sejumlah program unggulan TJSL ASDP yang berhasil memperoleh berbagai penghargaan nasional, termasuk Top CSR Awards 2024 dan 2025. Salah satu program yang mendapat perhatian adalah pengelolaan sampah plastik melalui skema ekonomi sirkular.
Melalui program tersebut, botol plastik yang dikumpulkan masyarakat diolah menjadi serat kain dan berbagai produk bernilai ekonomi seperti tas, pouch, serta tempat telepon genggam.
“Program ini tidak hanya membantu mengurangi sampah plastik, tetapi juga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat yang terlibat,” jelasnya.
Selain itu, ASDP juga aktif dalam kegiatan tanggap bencana dengan memanfaatkan armada kapal untuk mendukung distribusi bantuan logistik, alat berat, hingga kendaraan operasional menuju daerah terdampak bencana di berbagai wilayah Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Nugroho menekankan pentingnya tahapan perencanaan dalam program CSR. Ia menjelaskan bahwa setiap program harus diawali dengan social mapping atau pemetaan sosial guna mengidentifikasi kebutuhan masyarakat dan potensi wilayah yang akan menjadi sasaran program.
“Perencanaan menjadi tahapan yang sangat penting. Bahkan sejak awal sudah harus dipikirkan strategi keberlanjutannya agar masyarakat nantinya mampu mandiri ketika program selesai,” ujarnya.
Ia menambahkan, fokus utama program TJSL BUMN pada tahun 2025 hingga 2026 diarahkan pada tiga sektor prioritas, yakni pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan lingkungan hidup.
Sebagai perusahaan yang bergerak di sektor transportasi penyeberangan, ASDP juga terus mendukung pembangunan wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) melalui layanan konektivitas antarpulau.
“ASDP memiliki peran sebagai agent of development atau agen pembangunan. Karena itu, kami tidak hanya menyediakan layanan transportasi, tetapi juga berupaya menghadirkan program-program sosial yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar wilayah operasional,” pungkasnya. (*)







Discussion about this post