Madani Timpang Tanpa Identitas

  • Perayaan HUT Kota Serang ke-18 diwarnai kritik soal ketimpangan pembangunan antara pusat kota dan wilayah pinggiran.
  • Sejumlah tokoh menyoroti krisis identitas Kota Serang sebagai ibu kota Provinsi Banten yang tidak tegas tertulis dalam undang-undang.
  • Fasilitas pendidikan dan kesehatan di Kota Serang dinilai belum merata, terutama di wilayah pinggiran seperti Kasemen, Curug, dan Walantaka.
  • Pemkot Serang diminta untuk lebih serius memberdayakan pemuda, melestarikan budaya lokal, serta membenahi tata kelola pemerintahan.
  • Meski IPM Kota Serang meningkat, berbagai pihak berharap penataan infrastruktur, pemerataan layanan publik, dan penguatan identitas budaya menjadi fokus utama pasca-HUT ke-18.

Perayaan HUT Kota Serang ke-18, digelar meriah. Pameran hingga kirab budaya digelar untuk menyemarakkan hari jadi Ibukota Provinsi Banten itu. Namun, beragam persoalan menjadi tantangan bagi pemerintah untuk mewujudkan Kota Serang yang madani.

Walikota dan Wakil Walikota Serang, Budi Rustandi dan Nur Agis Aulia, membawa visi besar “Menjadikan Kota Serang Madani yang Maju Kotanya, Bahagia dan Sejahtera Warganya.” Namun, visi tersebut belum sepenuhnya menyentuh realita seluruh masyarakat di enam kecamatan dan 67 kelurahan di Kota Serang.

Setidaknya itu yang dilihat langsung oleh akademisi Universitas Bina Bangsa, Cecep Abdul Hakim. Menurut dia, ketimpangan antara pusat kota dengan wilayah pinggiran seperti Cipocok Jaya, Walantaka, dan Kasemen masih sangat mencolok.

Cecep menilai, sebagai ibu kota provinsi, Kota Serang seharusnya menjadi teladan dalam hal pemerataan pembangunan. Ia menyebut banyak daerah pinggiran masih kesulitan mendapatkan akses terhadap infrastruktur dasar, pendidikan berkualitas, hingga layanan kesehatan yang layak.

“Pembangunan yang tidak merata dan ketidaksetaraan dalam akses pelayanan publik menjadi kendala utama yang harus segera diatasi,” tegasnya.

Pemerintah Kota Serang sendiri telah meluncurkan 13 program unggulan sebagai wujud komitmen terhadap visi Madani. Program tersebut meliputi: Serang Makmur, Serang Cerdas, Serang Preneur, Serang Sehat, Serang Mengaji, Serang Kreatif Produktif, Serang Bebas Banjir, Serang Menyala, Serang Hijau, Serang Digital, Serang Bebas Pungli, Serang Bersih, dan Serang Bagus.

Namun Cecep mempertanyakan efektivitas program-program tersebut dalam menjawab persoalan riil di masyarakat, terutama di wilayah pinggiran. 

Ia menyoroti beberapa program yang menurutnya belum menyentuh akar persoalan. Misalnya, Serang Makmur yang ditujukan untuk pemberdayaan UMKM, namun pelaku UMKM di Cipocok Jaya masih kesulitan akses pasar dan pendanaan. Kemudian Serang Cerdas yang bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi fasilitas pendidikan di Kasemen dan Curug masih minim.

“Begitu juga dengan Serang Sehat, pelayanan kesehatan di Kasemen dan Walantaka masih jauh dari standar. Banyak puskesmas kekurangan fasilitas, warga pun harus menempuh jarak jauh hanya untuk mendapatkan layanan dasar,” tulis Cecep.

Ia merekomendasikan agar Pemkot Serang memprioritaskan pemerataan pembangunan dan pemberdayaan wilayah pinggiran. Menurutnya, sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta sangat dibutuhkan agar anggaran dan bantuan benar-benar sampai ke kelompok masyarakat yang paling membutuhkan.

“Tanpa pemerataan yang nyata, visi Serang Madani hanya akan menjadi angan-angan.”

Akademisi Universitas Bina Bangsa, Cecep Abdul Hakim

Cecep menutup catatannya dengan menekankan pentingnya keadilan pembangunan agar seluruh warga. Hal itu berlaku baik yang tinggal di pusat kota maupun pinggiran, dapat menikmati manfaat pembangunan secara setara.

“Pemerintah Kota Serang harus bergerak lebih cepat dan tegas untuk memastikan 13 program unggulan ini benar-benar membawa kehidupan yang lebih baik bagi seluruh warga – tanpa ada yang tertinggal,” tandasnya.

Bukan Cuma pemerataan, di tengah gebyar HUT Kota Serang ke-18, wilayah pecahan dari Kabupaten Serang ini juga masing mengalami krisis identitas. Hal itu disampaikan tokoh masyarakat Kota Serang yang juga merupakan Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Serang, Manar MAS.

Manar menilai, Kota Serang saat ini masih mengalami krisis identitas mengenai statusnya di Provinsi Banten. Sebab, meski kerap disebut-sebut sebagai Ibu Kota Provinsi Banten namun di dalam Undang-Undang Pembentukan Provinsi Banten tidak disebutkan secara gamblang bahwa Kota Serang adalah ibu kota provinsi.

“Kita tidak cermat bahwa Undang-undang Pembentukan Pemprov Banten itu tidak secara jelas mencantumkan kata Kota Serang sehingga sangat ambigu menyangkut dua entitas bisa Kabupaten Serang bisa Kota Serang,” ujarnya.

Selain masalah krisis identitas, Manar juga menilai pemerintahnya belum memiliki hasrat untuk menumbuhkan watak berkota terhadap masyarakatnya. Hal itu bisa dilihat dari budaya masyarakatnya yang masih gemar membuang sampah sembarangan, tidak bisa menjaga fasilitas publik, dan lain sebagainya.

“Pemerintah kota belum kerja keras membangun watak berkota masyarakat, sehingga di sana-sini kita temukan hal-hal yang tidak layak dilakukan oleh orang kota,” ucapnya.

Kemudian hal lainnya, Manar menilai, pelaksanaan pembangunan di Kota Serang belum sepenuhnya merata. Sejauh ini menurutnya, Pemkot Serang terlalu menaruh perhatian terhadap wilayah tertentu di Kota Serang.

Padahal, katanya, pelaksanaan pembangunan daerah itu mestinya dilakukan dengan adil dan merata jangan sampai ada diskriminasi.

“Saya mengingatkan bahwa Kota Serang itu ada enam kecamatan, maka pendekatan pembangunannya tidak boleh diabaikan adalah pembangunan yang sifatnya merata menyeluruh.” 

Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kota Serang, Mannar MAS

Terpisah, Ketua Himpunan Mahasiswa Serang (Hamas), Irham, menilai bahwa perhatian pemerintah terhadap aktivitas kreatif pemuda masih terbilang samar. Meskipun, kata dia, beberapa program telah dijalankan dan menyasar anak muda namun, program yang diluncurkan Pemkot Serang hanya sebatas seremonial.

“Kita menilai, program-program tersebut cenderung bersifat seremonial semata, tanpa adanya tindak lanjut yang jelas untuk memantau progres atau dampaknya,” katanya.

“Padahal, peran pemuda saat ini sangat penting dan memiliki potensi besar yang harus dikembangkan. Pemerintah seharusnya hadir secara nyata untuk memfasilitasi sarana dan prasarana yang mendukung kreativitas anak muda,” sambungnya.

Ia menegaskan, hal ini seharusnya menjadi catatan penting bagi pemerintah dalam upaya meningkatkan kualitas pemuda di Kota Serang. “Karena merekalah generasi penerus yang akan menjawab tantangan masa depan,” ujarnya.

Irham menilai, Pemkot Serang hingga di usianya yang menginjak 18 tahun kurang melibatkan generasi muda dalam berbagai aspek pemerintahan. Menurutnya, saat ini, pemerintah jarang meminta pendapat dari pemuda. Sehingga, kata dia, kerap terjadi dominasi kepentingan elit dan ambisi kekuasaan semata.

“Akibatnya, capaian bersama untuk membangun daerah tidak pernah tercapai secara maksimal,” jelasnya.

“Baru-baru ini muncul mengenai sikap pemimpin tertinggi di Kota Serang yang mencerminkan watak kekuasaan yang represif. Hal ini menjadi cermin bahwa ruang ekspresi dan demokrasi di kalangan anak muda masih terbatas.”

Ketua Umum PP Hamas, Irham

Sebagai Kota Madani, Irham menyebut bahwa Kota Serang juga masih jauh dari makna Madani. Kata dia, dalam realita saat ini, masih banyak kelemahan, khususnya dalam penegakan peraturan daerah (Perda).

“Padahal, jika konsep Kota Madani ini dijalankan secara konsisten, Serang bisa menjadi kota yang maju. Kota ini memiliki banyak perguruan tinggi, serta wisata religi yang rutin dikunjungi dari berbagai daerah. Potensi besar ini seharusnya bisa didukung dengan tata kelola pemerintahan yang baik dan berorientasi pada nilai-nilai madani,” jelasnya 

Di momentum hari ulang tahun Kota Serang yang ke-18, Irham berharap adanya wujud perubahan yang nyata. Seperti penataan kota yang merata dan berkelanjutan, Penerangan jalan umum (PJU) yang memadai, penertiban parkir liar dan penataan PKL di lokasi yang tepat, serta adanya integrasi angkutan umum.

Kemudian pembenahan layanan publik, termasuk optimalisasi pemanfaatan teknologi digital serta penambahan jembatan penyeberangan orang (JPO). “Bukan hanya seremonial semata, tetapi juga perubahan nyata,” tegasnya.

Sementara itu, Tokoh Banten, Embay Mulya Syarief, mengatakan sebenarnya saat ini Kota Serang telah bertransformasi menjadi kota yang lebih maju. Namun, Kota Serang perlu gebrakan, terutama dalam tata kelola pemerintahan dan tata kelola aset yang dimiliki Pemkot Serang.

“Ini Kota Serang butuh gebrakan dari Walikota yang saat ini menjabat. Seperti penataan pasar RAU dan pencegahan Banjir,” jelasnya.

“Apalagi kan sekarang banyak, tempat yang menjadi genangan air berubah jadi perumahan. Jadi pak Walikota dan jajarannya harus memikirkan jangan sampai terus-terusan kebanjiran,” tambahnya.

Embay menuturkan, Pemkot Serang harus bisa menggali budaya-budaya yang saat ini belum terlirik. Karena, kata dia, Kota Serang ini merupakan mantan sebuah Kota di pusat kesultanan Banten.

“Budaya kita ini sebenarnya sederhana, karena kita ini perpaduan antara Sunda dan Jawa. Nah di Kota Serang ini ada kesenian Rudat. Hanya saja kurang diperhatikan lebih serius,” ujarnya.

“Rudat itu yang ada di Sukalila, Kecamatan Serang itu masih ada tinggal itu diurus segala sesuatunya jangan sampai punah,” lanjutnya.

Selain itu, Embay juga menegaskan, Pemkot Serang perlu segera menerbitkan Perda untuk melindungi cagar budaya yang kini masih ada.

“Kota Serang kan ada dinas kebudayaan ada dinas pariwisata, ini harus lebih serius lagi menggali. Karena memang Kota Serang ini kota tua dan itu juga merupakan aset untuk menarik banyak wisatawan. Sayang beberapa bangunan tua itu banyak yang roboh,” terangnya.

“Padahal Kota Serang ini kaya akan sejarah. Hanya kurang diangkat ke permukaan,” tambahnya.

Embay juga mengatakan bahwa kesenian Rudat yang merupakan kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang di lingkungan pesantren di Banten, khususnya di Kota Seran bisa menjadi salah satu kesenian yang perlu dikembangkan dan dikenalkan kepada masyarakat luas.

“Resepsi hari jadi Kota Serang, tampilkan itu Rudat dari Sukalila, makanan-makanan khas. Itu kan Kota Serang kampung tua,”paparnya.

Menurut Embay, identitas Kota Serang sebagai Kota Madani perlu kembali ditegaskan dan sampai luntur dengan jargon-jargon setiap pergantian kepemimpinan.

“Ya jargon sah-sah saja. Kaya sekarang Walikota Budi ya bisa misal, Kota Serang Madani Berbudi. Jangan ditinggal Madani-nya.”

Tokoh Banten, Embay Mulya Syarief

Senada dengan Embay, budayawan Kota Serang, Ibnu PS Megananda, juga menekankan perlunya identitas budaya lokal dikuatkan di Kota Serang. Dirinya menuturkan, salah satu budaya lokal yang bisa menjadi identitas Kota Serang yakni budaya santri dengan berbagai macam kebiasaan di dalamnya.

“Diharapkan Kota Serang ini bisa memunculkan budaya asli, khas ke-Banten-annya. Budaya khas seperti kesenian-kesenian. Karena jati dirinya perlu,,” katanya.

“Munculkan, Budaya Santri, tradisi pesantren salafi. Ada riungan, ngaropok. Jadi, santri itu umum tapi disini ada warna santri sendiri. Seperti kalau padang bulan kita baca kitab, ada panjang mulud. Kan tidak semua daerah ada budaya itu,” ucapnya.

Dalam hut ke-18 ini, Ibnu mengungkapkan sebagai Kota yang berdiri di wilayah kesultanan Banten. Budaya khas dari Kota Serang tidak terlepas dari budaya-budaya keraton. “Karena Kota Serang itu Banten, Surosowan itu ada di Kota Serang. Ya kesenian Banten yang muncul dari iklim dari budaya keraton itu merupakan budaya Kota Serang juga,” jelasnya.(*)

PENATAAN DEMI PEMERATAAN

Pengendara melintas saat banjir di Cimanggung, Kota Serang.

Tidak lama lagi Kota Serang akan merayakan hari jadinya yang ke-18 tahun. Di usianya yang telah beranjak dewasa itu Kota Serang kini tengah gencar melakukan penataan. Wajar saja penataan itu dilakukan, sebab Kota Serang merupakan wajah dari Ibu Kota Provinsi Banten. 

Sebagai ibu kota provinsi, mestinya Kota Serang mampu menunjukkan wajah terbaiknya kepada khalayak luas. Namun, urusan Pembangunan saja sampai saat ini masih belum terselesaikan. Masalah ketimpangan dirasakan menjadi salah satu penyebab belum meratanya Pembangunan di Kota Serang.

Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Serang, Evie Shofiyah Usman, mengakui belum meratanya pelayanan Pendidikan untuk Masyarakat Kota Serang. Penyebab utamanya adalah belum idealnya jumlah dan penyebaran fasilitas pelayanan pendidikan di Kota Serang.

Hal itu disebabkan karena jumlah sekolah di Kota Serang masih kurang. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, jumlah SD Negeri di Kota Serang tercatat ada sebanyak 221 sekolah sedangkan SMP Negeri jumlahnya ada sebanyak 29 sekolah.

Selain jumlahnya yang kurang, persoalan lainnya adalah pembangunan sekolah di Kota Serang masih terkonsentrasi di satu wilayah. Masih dari data BPS, terlihat pembangunan sekolah di Kota Serang baik SD maupun SMP masih terkonsentrasi di Kecamatan Serang. Sementara kecamatan lainnya terkesan kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Oleh sebab itu Evie berharap di tahun 2026 ada penambahan jumlah unit sekolah baru di setiap wilayah Kota Serang.

Harapannya dengan adanya penambahan itu masalah daya tampung siswa bisa teratasi. Dan pemerataan akses pendidikan di Kota Serang dapat terwujud. “Mudah-mudahan di tahun depan itu bertambah supaya lebih merata. Karena kami berkeinginan nambah sekolah lagi, mudah-mudahan,” harapannya.

Namun untuk bisa mewujudkan harapan itu Evie mengaku, masalah keterbatasan anggaran masih menjadi persoalan yang sering dihadapi. Oleh karenanya dia berharap penambahan unit sekolah baru di Kota Serang tidak hanya mengandalkan anggaran dari APBD maupun APBN, namun juga dapat diwujudkan melalui kerja sama dengan pihak swasta melalui dana tanggung jawab sosial atau dana CSR.

“Mudah-mudahan ada dibantu oleh CSR-CSR atau pihak lain yang akan membantu pendidikan di Kota Serang.”

Sekretaris Dindikbud Kota Serang, Evie Shofiyah Usman

Tidak meratanya fasilitas pelayanan juga terjadi di sektor kesehatan. Masalahnya sama yakni, pembangunan fasilitas kesehatan (Puskesmas) tidak tersebar secara merata di seluruh kelurahan Kota Serang. 

Kepala Dinkes Kota Serang, Ahmad Hasanuddin, menyampaikan jumlah Puskesmas di Kota Serang tercatat ada sebanyak 16 unit. Semua Puskesmas itu tersebar di enam kecamatan Kota Serang.

Meski tiap kecamatan telah memiliki Puskesmas, namun masing-masing kecamatan memiliki jumlah Puskesmas yang berbeda-beda. Misalnya, Kecamatan Kasemen tercatat ada sebanyak tiga unit Puskesmas.

Kemudian Kecamatan Walantaka ada dua unit, Kecamatan Curug satu unit. Lalu Kecamatan Taktakan ada dua unit, Kecamatan Cipocok ada dua unit, dan terakhir Kecamatan Serang enam unit.

“Jadi memang tidak merata,” ujar Hasan kepada BANPOS pada Kamis (7/8).

Untuk mengatasi ketidakmerataan itu, Hasan mengatakan, Pemkot Serang menggagas program integrasi layanan primer dengan membangun Puskesmas Pembantu (Pustu). Pustu itu dibangun dalam rangka untuk lebih mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

“Insyaallah tahun ini delapan Pustu yang akan dibangun bertahap sehingga lebih mendekatkan lagi kepada masyarakat.”

Kepala Dinkes Kota Serang, Ahmad Hasanuddin

Selain itu Dinkes Kota Serang juga menggagas program lain yang tujuannya sama yakni, program cek kesehatan gratis (CKG). Melalui program tersebut Dinkes Kota Serang turun langsung mendatangi masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan mereka.

Terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Serang, Iwan Sunardi, mengatakan bahwa dalam proyek pembangunan menyambut momen 18 Tahun Kota Serang saat ini, Walikota Serang sangat konsen terhadap segala jenis pembangunan infrastruktur.

“Pak Walikota saat ini tidak hanya fokus kepada pembangunan infrastruktur yang bersifat ke-PU-an, namun juga fokus kepada infrastruktur-infrastruktur penunjang lainnya yang kebetulan sebagian besar pembangunan infrastruktur itu berada di kewenangan DPUPR,” kata Iwan.

Iwan menjelaskan, saat ini dirinya sesuai dengan arahan Walikota sedang melakukan penguatan di internal Pemkot dan juga berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi hingga Pemerintah Pusat untuk lebih konsen terhadap persoalan infrastruktur yang selama ini belum optimal.

“Jadi, di usia ke-18 ini tentunya saya secara pribadi bersama Pak Walikota dan Pemerintah Kota Serang berharap, di momen 18 tahun ini Pemkot betul-betul mengedepankan infrastruktur yang layak bagi masyarakat Kota Serang,” jelasnya.

Iwan menerangkan, pada APBD Perubahan Kota Serang akan lebih fokus kepada infrastruktur yang mengalami kerusakan akibat banjir ataupun genangan.

“Pada anggaran awal tahun 2025 ini kita menginventarisasi semua titik-titik kerusakan infrastruktur, dianggarkan di Perubahan kita akan meminimalisir dampak dan akan menyelesaikan nanti. Makanya dilakukan beberapa pembongkaran, yang alhamdulillah titik-titik genangan itu bisa diminimalisir,” terangnya.

Ia memaparkan, salah satu kendala dalam pemerataan infrastruktur di Kota Serang adalah  kondisi fiskal yang terbatas. Namun, lanjutnya, pihaknya tidak mengeluh dan menyalahkan kondisi itu, melainkan melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak terutama Pemerintah Pusat dan Provinsi. Karena menurutnya, baik pusat maupun provinsi dapat mengintervensi jalan yang berada dibawah kewenangan Pemerintah Kota.

“Nah dengan kolaborasi ini, makanya Pak Walikota  sering berkoordinasi dengan Pak Gubernur dan alhamdulillah Pak Gubernur melihat datanya dan memberikan respon positif untuk pembangunan beberapa bidang di Kota Serang. Ini mudah-mudahan apa yang menjadi kekhawatiran warga Serang, di tahun 2026-2027 bisa terselesaikan,” terangnya.

Ia menegaskan, saat ini Pemkot Serang tengah fokus membenahi ketimpangan infrastruktur yang ada di wilayah pinggiran. Salah satunya wilayah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Serang, yang mana pihaknya akan melakukan betonisasi secara menyeluruh di jalan-jalan tersebut.

“Pak Walikota ini ingin pembangunan menyeluruh secara bertahap. Bertahap ini dimulai dari wilayah kota dulu selesaikan, setelah itu baru menyelesaikan wilayah pinggiran itu tadi.”

Kepala DPUPR Kota Serang, Iwan Sunardi

“Pak Walikota ini ingin pembangunan menyeluruh secara bertahap. Bertahap ini dimulai dari wilayah kota dulu selesaikan, setelah itu baru menyelesaikan wilayah pinggiran itu tadi,” tegasnya.

“Kita harus berfikir bahwa pembangunan infrastruktur merupakan penunjang untuk adanya investasi. Maka dari itu, kita berkolaborasi atau bersinergi dengan banyak pihak. Karena bukan hanya betonisasi, tapi juga akan diperlebar,” tandasnya.(*)

BENAHI BIROKRASI HINGGA SDM

Dalam penataan Kota Serang, sejumlah pihak menyadari ada banyak kekurangan di wilayah ini perlu segera dibenahi. Salah satu yang menyadari adanya kekurangan itu adalah Walikota Serang, Budi Rustandi.

Ditemui di sela-sela acara Kirab Budaya HUT Kota Serang ke-18 Tahun pada Rabu (6/8) kemarin, Budi mengatakan ada banyak hal yang perlu dibenahi di Kota Serang. Salah satunya yakni soal birokrasi dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).

Kemudian selain itu masalah infrastruktur juga turut menjadi persoalan berulang yang perlu segera dibenahi sesegera mungkin. “Terutama infrastruktur dimana kita ingin memiliki ikon di Kota Serang ini,” ujar Budi.

Terhadap semua persoalan itu Budi menyadari perlu adanya upaya yang besar serta dukungan dari semua pihak agar semua itu bisa dibenahi. Oleh sebab itu dia meminta kepada masyarakat untuk saling bahu-membahu membenahi Kota Serang menjadi lebih baik lagi.

“Harapan besar saya kepada warga Kota Serang bantu saya sama-sama menjadi suatu bagian yang kompak, yang ingin sama-sama punya niat yang baik untuk kemajuan Kota Serang dan menjadikan Kota Serang ini ibu kota yang sesungguhnya,” ucapnya.

Wakil Walikota Serang, Agis Nur Aulia, mengatakan bahwa dalam refleksi 18 tahun berdirinya Kota Serang, ia dengan Walikota Serang, Budi Rustandi saling berbagi peran dalam pembangunan baik infrastruktur maupun Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM).

“Insyaallah kedepan Kota Serang akan memiliki SDM unggul dengan tiga ciri khusus yakni Cerdas, Sehat, Religius, peduli lingkungan, sosial budaya, spirit entrepreneurship dan melek teknologi,” Kata Agis.

“Ini yang akan kita dorong. Seluruh stakeholder, pendidikan formal, nonformal, informal, semuanya sudah satu tujuan untuk melahirkan SDM unggul dengan tujuh ciri tersebut.”

Wakil Walikota Serang, Nur Agis Aulia

Ia menjelaskan, selama ini dirinya bersama Walikota telah melakukan berbagai aksi untuk Kota Serang yang mana dalam tiap aksinya selalu melibatkan berbagai pihak baik dalam sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi dan lain sebagainya.

“Banyak aksi yang dilakukan, misal peduli lingkungan dengan mengadakan bank sampah di sekolah. Atau aksi lainnya yang berkolaborasi dengan berbagai pihak. Makanya informasi ini perlu disampaikan agar meresap ke masyarakat dan bisa menciptakan SDM unggul dengan tujuh ciri tadi di Kota Serang,” tandasnya.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Serang, Ina Linawati, mengatakan bahwa Pertumbuhan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Serang pada periode 2020-2024 berada di atas rata-rata IPM Provinsi Banten serta IPM Nasional. Menurutnya, capaian ini dipengaruhi oleh tiga komponen utama, yaitu Indeks Pengetahuan, Indeks Kesehatan, dan Indeks Pendapatan. 

“Peningkatan Indeks Kesehatan di Kota Serang didorong oleh naiknya angka Usia Harapan Hidup (UHH) dengan capaian tahun 2020 (75,25), 2021 (75,53), 2022 (76,01), 2023 (76,43) dan 2024 (76,90),” kata Ina.

Ina memaparkan, peningkatan kesejahteraan masyarakat Kota Serang tercermin dari kemajuan Indeks Pembangunan Manusia yang mengukur tiga aspek utama, yakni umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, serta standar hidup layak. 

Selama periode 2020-2024, IPM Kota Serang terus menunjukkan tren meningkat. Pada tahun 2024, IPM Kota Serang mencapai 76,90 poin, meningkat dibandingkan tahun 2023, dengan komponen penyusunnya yaitu Indeks Pendidikan sebesar 65,41 poin, Indeks Kesehatan 85,09 poin, dan Indeks Pengeluaran 81,71 poin.

“Dari ketiga aspek tersebut, Indeks Kesehatan memiliki nilai tertinggi, yang mencerminkan kualitas layanan kesehatan di Kota Serang yang relatif baik,” paparnya.

Ina menjelaskan, Pemerintah Kota Serang senantiasa berupaya untuk melakukan pelestarian dalam sektor sosial-budaya ditengah masyarakat. Kebijakan pemerataan pembangunan sosial budaya di Kota Serang fokus pada pelestarian dan pengembangan budaya lokal.

“Pemerintah juga mengintegrasikan budaya ke dalam RPJPD 2025-2045, menekankan pelestarian, inovasi sosial-budaya, serta pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya, sebagai alat ukur ada indikator Indeks Pembangunan Kebudayaan yang merupakan salah satu Indikator Utama Pembangunan yang tercantum di dalam dokumen perencanaan,” jelasnya.

Lanjut ina, Visi RPJMD Kota Serang ialah menjadikan Kota Serang Madani yang maju kotanya, bahagia dan sejahtera warganya.

 “Visi RPJPD-nya Kota Serang Madani sebagai Kota Perdagangan dan Jasa Kreatif yang maju dan berkelanjutan. Konsep ‘Madani’ di sini mencerminkan pembangunan berbasis nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan partisipasi Masyarakat.”

Kepala Bappeda Kota Serang, Ina Linawati

Ia berharap, di usia 18 tahun ini, Kota Serang dapat menjadi kota yang lebih maju dan sejahtera bagi semua warganya. Ia juga berharap agar infrastruktur semakin merata dan berkualitas, perekonomian berkembang pesat dan masyarakatnya hidup bahagia dengan layanan yang berkualitas. 

“Kota Serang terus berkarya dan jadi kebanggaan Banten yang mana pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan, dan layanan kesehatan yang merata dapat menciptakan lingkungan yang maju sekaligus membahagiakan warganya,” tandasnya.(*)

Berita Terkait

Discussion about this indepth