LEBAK, BANPOS – Sekolah Rakyat (SR) di Kabupaten Lebak tidak hanya dituntut memberikan pendidikan akademik kepada para siswa. Persoalan lain yang dinilai perlu mendapat perhatian serius adalah kondisi psikologis anak yang harus menjalani kehidupan di asrama dan terpisah dari keluarga.
Kepala Bidang DaldukKB DP3AP2KB Lebak, Tuti Nurasiah mengatakan, pihaknya mengusulkan pembentukan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) di Sekolah Rakyat untuk seluruh jenjang pendidikan.
Menurutnya, PIK-R dapat menjadi ruang bagi siswa untuk mendapatkan informasi, edukasi sekaligus tempat yang nyaman untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi.
“PIK-R jadi tempat yang tepat untuk ruang konseling yang nyaman seluruh siswa. Wadah untuk komunikasi, edukasi, informasi dan konseling,” kata Tuti kepada BANPOS, Jumat (18/9).
Ia menjelaskan, pola pembinaan PIK-R di Sekolah Rakyat pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan sekolah umum. Namun, keberadaan asrama membuat waktu pendampingan siswa jauh lebih panjang sehingga harus dimanfaatkan secara efektif.
“Untuk modul akan sama dengan sekolah umum lainnya. Metode dan mekanisme kurang lebih sama, ada yang membedakan karena SR punya peluang waktu yang lebih panjang harus dimanfaatkan seefektif mungkin karena tinggal di asrama. Karena di luar jam sekolah siswa tetap ada,” ujarnya.
Perbedaan lainnya terletak pada pola pendampingan. Jika di sekolah umum pembinaan lebih banyak dilakukan oleh guru, di Sekolah Rakyat pendampingan akan melibatkan wali asuh dan wali asrama. Pola kegiatan PIK-R nantinya disesuaikan dengan aktivitas siswa selama berada di lingkungan asrama.
Tuti menilai, keberadaan ruang konseling menjadi penting karena siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi paling rentan. Di Lebak, siswa SR berasal dari kelompok desil 1 dan 2.
Ia mengungkapkan, saat proses identifikasi ditemukan sejumlah cerita yang menunjukkan adanya beban emosional pada sebagian siswa. Salah satunya siswa yang enggan makan bukan karena makanan yang disediakan tidak enak, melainkan teringat kondisi keluarganya yang masih mengalami kesulitan mendapatkan makanan.
“Pas diidentifikasi ternyata banyak cerita yang nggak mau makan, tidak nyaman. Saat ditanya, makanan enak, tapi ingat keluarga yang kesulitan makan,” ungkapnya.
Menurut Tuti, kondisi semacam itu tidak boleh dianggap sepele. Tanpa pendampingan yang tepat, tekanan emosional yang awalnya terlihat ringan dapat berkembang menjadi persoalan perilaku.
Bahkan, ia menyinggung kemungkinan munculnya tindakan seperti siswa meninggalkan asrama. Meski alasan yang melatarbelakanginya dapat dipandang positif, tindakan tersebut tetap menunjukkan adanya persoalan yang perlu dipahami dan ditangani.
“Hal baik ini jangan sampai menjadi belok ke hal buruk karena diabaikan, tidak diperhatikan sehingga ke arah negatif. Kabur misalnya, meski alasan kabur itu baik. Ini sebenarnya butuh ahlinya agar tekanan mental ini menjadi semangat,” jelasnya.
Karena itu, DP3AP2KB Lebak mendorong agar PIK-R tidak berhenti sebagai kegiatan formal sekolah. Program tersebut diharapkan dapat menjadi percontohan dalam membangun sistem pendampingan psikososial bagi siswa Sekolah Rakyat.
Terlebih, menurut Tuti, remaja, khususnya siswa SMP dan SMA, sering kali lebih nyaman menceritakan persoalan pribadi kepada teman sebaya dibandingkan kepada orang dewasa.
PIK-R nantinya juga dapat membentuk dan membina siswa-siswa potensial untuk menjadi pendidik sebaya maupun konselor sebaya. DP3AP2KB Lebak siap memberikan pembinaan secara langsung sejak proses pembentukan hingga pengembangan kapasitas para siswa tersebut.
“Karena mereka butuh ruang untuk mengadu. Dan remaja khususnya SMP dan SMA lebih nyaman untuk bercerita ke teman sebaya,” katanya.
Di sisi lain, Tuti menilai Sekolah Rakyat memiliki karakter yang berbeda dengan lembaga pendidikan berasrama lainnya seperti pondok pesantren. Siswa SR harus beradaptasi dengan lingkungan baru sekaligus menjalani kehidupan jauh dari orang tua.
Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi tekanan tersendiri bagi sebagian anak. Karena itu, DP3AP2KB Lebak juga menyarankan agar Sekolah Rakyat menyediakan tenaga psikolog yang dapat melakukan pendampingan secara profesional.
“Kita juga menyarankan agar disediakan psikolog, untuk menjaga mental juga. Terpisah dengan orang tua itu menyerang mental untuk sebagian siswa,” tuturnya.
Ia menambahkan, persoalan kesehatan mental pada anak tidak selalu terlihat secara kasat mata. Tekanan yang tampak kecil dan berlangsung dalam waktu lama justru dapat memengaruhi kondisi psikologis serta perilaku anak pada masa mendatang.
“Kalau nggak ada psikolog, akan kesulitan memahami masalah mental siswa. Masalah mental ini mungkin tipis, tapi lama-lama akan sangat mempengaruhi kesehatan mental ke depan yang dapat mengubah perilaku,” tandasnya. (*)







Discussion about this post