Erupsi GAK Tidak Berdampak Signifikan terhadap Pariwisata Kota Serang

SERANG, BANPOS – Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) tidak memberikan dampak signifikan terhadap sektor pariwisata di Kota Serang.

Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga (Disparpora) Kota Serang, Zeka Bachdi, mengatakan seluruh fasilitas pariwisata di Kota Serang masih beroperasi seperti biasa. Pemerintah daerah belum mengambil kebijakan untuk menutup destinasi maupun fasilitas wisata.

Baca Juga

“Untuk pariwisata sendiri kita tidak menutup. Tentu kita menghimbau kepada semua pelaku wisata yang ada di Kota Serang untuk menggunakan masker dan kacamata,” kata Zeka saat dihubungi BANPOS, Selasa (8/9).

Menurutnya, imbauan tersebut diberikan sebagai langkah antisipasi terhadap dampak aktivitas vulkanik GAK. Pemerintah juga mengarahkan masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan lebih banyak melakukan kegiatan di dalam ruangan.

“Instruksi dari Pak Wali juga tidak menutup fasilitas, hanya menghimbau kepada masyarakat untuk lebih banyak melaksanakan kegiatan di dalam ruangan dan menggunakan masker serta kacamata untuk aktivitas di luar ruangan,” ujarnya.

Zeka menyebut, hingga saat ini belum terlihat adanya penurunan jumlah kunjungan wisata maupun okupansi hotel akibat erupsi GAK.

Namun, pihaknya masih melakukan pemantauan terhadap jumlah pengunjung, khususnya pada akhir pekan yang menjadi waktu ramai aktivitas wisata.

“Kalau untuk Gunung Anak Krakatau sendiri pas erupsi tidak ada penurunan. Standar masih datanya. Tidak ada penurunan,” jelasnya.

Ia mengatakan, data kunjungan wisata pada Jumat hingga Minggu mendatang akan menjadi salah satu indikator untuk melihat apakah terdapat dampak terhadap sektor pariwisata atau tidak.

Sementara itu, tingkat okupansi hotel di Kota Serang juga disebut masih berada dalam kondisi normal, baik dari sisi ketersediaan kamar maupun pemesanan.

“Okupansi hotel juga masih normal seperti sebelum-sebelumnya di Kota Serang. Enggak ada masalah,” ungkap Zeka.

Zeka menegaskan, sejauh pemantauan sementara, dampak erupsi GAK terhadap sektor pariwisata Kota Serang belum menunjukkan perubahan yang signifikan.

Meski demikian, pihaknya tetap melakukan koordinasi dengan para pelaku wisata melalui kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dan kelompok kampung wisata (Kawita).

“Kita sudah ada grupnya, ada juga datanya dan kita sudah komunikasikan semua,” tuturnya.

Di sisi lain, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau turut menjadi perhatian Pemerintah Kota Serang dari aspek kualitas udara.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Serang, Farach Richi, mengatakan kualitas udara di Kota Serang saat ini berada dalam kategori sedang.

Ia menyebut, indeks kualitas udara sebelumnya sempat mencapai angka 89,67. Meski masih masuk kategori sedang, angka tersebut sudah mendekati kondisi tidak sehat.

“Keadaan sedang, dalam artian kemarin kita hampir mendekati 90, yaitu 89,67. Dan itu mendekati hampir tidak sehat meskipun masih sedang,” kata Farach.

Namun, Farach mengungkapkan bahwa kondisi saat ini mulai membaik. Berdasarkan pemantauan DLH, indeks kualitas udara saat ini berada di kisaran 44.

“Untuk saat ini nilainya sekitar 44. Itu menunjukkan ada penurunan, khususnya pada parameter yang tinggi saat ini adalah partikulat molekul 2,5 (PM2.5) dan ozon,” ujarnya.

Farach mengatakan, pihaknya juga terus memantau perkembangan kualitas udara. Berdasarkan informasi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), GAK mengalami tiga kali erupsi pada Selasa pagi.

Erupsi tersebut terjadi masing-masing pada pukul 05.08 WIB, 05.34 WIB, dan 07.49 WIB.

Menurut Farach, arah angin menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam memantau potensi penyebaran material vulkanik.

“Kita tinggal melihat arah angin itu jatuhnya ke mana. Jadi, setiap jam ini BMKG juga akan melakukan pemantauan,” jelasnya.

Untuk meningkatkan akurasi pemantauan, Kementerian Lingkungan Hidup juga akan mengirimkan mobil pemantau kualitas udara ke Kota Serang. Kendaraan tersebut rencananya ditempatkan di DLH Kota Serang dan dioperasikan selama kurang lebih satu pekan.

Farach menilai keberadaan alat pemantau tambahan tersebut penting agar pemerintah dapat mengambil langkah secara cepat apabila terjadi perubahan kualitas udara.

“Pemantau udara bantuan dari Kementerian LH ini bisa mengambil keputusan secara cepat dan tepat apa yang harus dilakukan pemerintah daerah,” tegasnya.

Selain melakukan pemantauan, DLH juga berkoordinasi dengan BPBD dan Dinas Pendidikan Kota Serang untuk mengantisipasi apabila kondisi akibat erupsi semakin memburuk.

“Kami melakukan koordinasi juga dengan BPBD dan Dinas Pendidikan, sehingga apabila terjadi sesuatu hal yang sangat krusial, kami sampaikan kepada Pak Wali untuk dilakukan proses kebijakan selanjutnya,” ungkap Farach. (*)

Berita Terkait

Discussion about this post