SPEBA Perkuat Kader Tani, Siapkan Aksi Besar Hari Tani Nasional

SERANG, BANPOS – Serikat Perjuangan Tani Banten (SPEBA) mulai memperkuat konsolidasi organisasi dengan meningkatkan kapasitas kader muda. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya meneruskan perjuangan kaum tani di Banten yang hingga kini masih menghadapi berbagai persoalan mendasar.

Sekretaris Jenderal Pusat SPEBA, Kahfi, mengatakan organisasi tersebut lahir dari kegelisahan terhadap kondisi masyarakat miskin pedesaan, khususnya kaum tani garapan di wilayah Banten Selatan.

Baca Juga

Kahfi sebelumnya dikenal sebagai aktivis muda Kota Serang. Dalam Musyawarah Besar (Mubes) pertama SPEBA yang digelar Juni 2026, ia dipercaya secara langsung menjadi Sekretaris Jenderal Pusat SPEBA.

Menurut Kahfi, SPEBA merupakan kelanjutan dari organisasi Serikat Petani Banten (SPB) yang telah ada sejak tahun 2000-an. Perjuangan tersebut kini kembali dilanjutkan dengan fokus pada persoalan hak-hak dasar kaum tani di tingkat basis.

“SPEBA ini adalah merupakan wadah yang sudah ada sejak tahun 2000an dengan nama SPB atau Serikat Petani Banten, dan hari ini kita hanya ingin meneruskan perjuangan para pendahulu tentang persoalan-persoalan hak-hak dasar kaum tani yang belum terselesaikan di basis-basis seperti Lahan Garapan, Pupuk, Pendidikan Anak Tani Garapan, Rumah yang layak, serta air bersih,” kata Kahfi.

Sebagai langkah awal kepemimpinannya, Kahfi memilih penguatan kaderisasi sebagai salah satu agenda utama organisasi. Pendidikan kaderisasi SPEBA telah dilaksanakan pada 25-28 Agustus 2026 di Sekretariat SPEBA, Ciceri, Kota Serang.

Kegiatan tersebut mengangkat tema “Tidak Ada Gerakan Revolusioner Tanpa Teori Revolusioner.”

Kahfi menjelaskan, tema tersebut dipilih berdasarkan pandangan bahwa gerakan sosial membutuhkan landasan pemikiran yang kuat agar perjuangan tidak kehilangan arah.

“Tema ini saya angkat atas dasar pada satu kenyataan pahit, yakni aksi tanpa teori adalah tindakan membabi buta, sedangkan teori tanpa aksi adalah ilusi semata,” ujarnya.

Ia menilai semangat perjuangan dan gerakan massa saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat. Menurutnya, gerakan juga membutuhkan kemampuan menganalisis persoalan secara tajam serta merumuskan langkah perjuangan yang tepat.

“Sering kali kita melihat semangat juang yang meluap-luap, gerakan massa yang massif, dan aksi yang bergelora. Namun, jika gerakan tersebut tidak dilandasi oleh analisis yang tajam, pemikiran yang teruji, dan pisau analisis yang kuat, maka gerakan itu akan mudah dipatahkan, diadu domba, dan kehilangan arah di tengah jalan,” katanya.

Karena itu, kaderisasi SPEBA tidak diarahkan sekadar menjadi agenda formal organisasi. Ruang pendidikan tersebut dimaksudkan untuk membangun kemampuan berpikir dan mental para kader dalam menghadapi berbagai persoalan di lapangan.

“Kaderisasi ini digelar bukan hanya untuk mengisi daftar hadir atau memenuhi formalitas organisasi. Ruang ini dihadirkan untuk mendidik gagasan kalian, menguji argumen kalian, dan menempa kapasitas intelektual serta mental kalian,” tegas Kahfi.

Ia menekankan, seorang penggerak tidak cukup hanya memiliki keberanian menyuarakan tuntutan. Kemampuan memahami persoalan dan menyusun solusi yang berpihak kepada masyarakat juga menjadi bagian penting dalam perjuangan.

“Di sini, kita belajar bahwa menjadi penggerak bukan soal siapa yang paling keras berteriak, melainkan siapa yang paling jernih dalam menganalisis masalah dan paling konsisten merumuskan solusi bagi orang banyak. Teori revolusioner adalah kompas; tanpa kompas tersebut, pergerakan kita hanya akan berputar-putar di tempat,” ungkapnya.

Selain meningkatkan kualitas kader muda, kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari konsolidasi organisasi untuk mempersiapkan agenda aksi pada momentum Hari Tani Nasional yang diperingati 24 September 2026 mendatang.

Kahfi pun mendorong para kader SPEBA menjadikan proses pendidikan sebagai bekal menghadapi agenda perjuangan organisasi ke depan.

“Bakar semangatmu, pertajam pikiranmu! Tidak ada gerakan revolusioner tanpa teori revolusioner!” tandasnya. (*)

Berita Terkait

Discussion about this post