Bertahan di Antara Puing Bangunan, Warga Cimarga Dibayangi Bahaya Tanah Bergerak

LEBAK, BANPOS — Warga Kampung Angsana, Desa Karya Jaya, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak kini hidup dalam bayang-bayang kekhawatiran. Pasalnya, ancaman potensi bencana tanah bergerak kerap menghantui keselamatan mereka.

Hal itu tergambarkan pada rumah tempat mereka tinggal yang kini kondisinya sangat memprihatinkan. Retak dan amblas akibat tanah labil seakan menjadi pemandangan yang biasa bagi warga setempat. Untuk sementara, tercatat sudah ada sembilan rumah yang mengalami kerusakan parah akibat bencana tersebut.

Baca Juga

Erni, warga setempat, hanya bisa pasrah ketika melihat puing-puing reruntuhan sebagian rumahnya rata dengan tanah. Dia tak pernah menyangka jika rumah yang telah 15 tahun menemani perjalanan hidupnya akan berakhir tragis.

Erni bercerita, bagian rumah yang kini telah rata dengan tanah itu dulunya merupakan ruang tamu dan halaman teras depan. Tanda-tanda kerusakan mulai terjadi ketika tanah di rumahnya mengalami pergerakan hingga amblas sekitar tujuh bulan yang lalu.

Kondisi itu mengakibatkan patahan pada pondasi sehingga berdampak kerusakan parah pada bagian dinding dan lantai rumah. “Tadinya retak-retak, kemudian sedikit-sedikit mulai roboh,” tutur Erni ketika mengingat kembali awal mula kerusakan itu terjadi.

Kemudian peristiwa itu mulai menghadapi puncaknya ketika musim hujan di awal tahun 2026. Derasnya guyuran hujan mengakibatkan kondisi tanah di sekitar rumahnya semakin tidak stabil. Hal itu berdampak pula pada kerusakan rumah yang dialaminya.

Hingga pada akhirnya, Erni dan sang suami terpaksa mengambil keputusan nekad, meratakan bagian rumah yang nyaris roboh dengan hanya menyisakan bagian dapur demi keselamatan anggota keluarganya. “Takutnya nimpa orang,” ujarnya saat menjelaskan alasan keputusan merobohkan bagian bangunan tersebut.

Kini, Erni dan keluarganya terpaksa bertahan di antara puing-puing bangunan dengan menetap di bagian rumahnya yang tersisa. Terhitung sudah tujuh bulan lamanya Erni dan keluarganya menetap di sisa bangunan tersebut.

“Sedih. Mana punya penyakit nggak punya rumah,” ucapnya seraya menahan sedih.

Di tengah keterbatasan yang dihadapi, Erni selalu berharap pemerintah dapat segera turun tangan memberikan bantuan serta solusi agar kehidupannya dapat segera pulih kembali.

Erni hanyalah salah satu dari sembilan rumah di Kampung Angsana, Desa Karya Jaya yang mengalami kerusakan parah akibat pergerakan tanah. Warga lainnya bernama Maesaroh nasibnya tak kalah tragis.

Berprofesi sebagai ibu rumah tangga dan sang suami sebagai pegawai serabutan, Maesaroh hanya bisa pasrah ketika melihat bagian belakang rumahnya nyaris ambruk akibat pergerakan tanah. Puing-puing bangunan berserakan, lantah patah, dan tembok terbelah seakan sudah menjadi pemandangan yang biasa di rumahnya.

“Kejadiannya sudah delapan bulan,” ucapnya.

Bukannya tidak ingin mencari lokasi baru yang jauh lebih aman, Maesaroh mengaku, keterbatasan ekonomi menjadi alasan kuat mengapa ia dan keluarganya masih tetap bertahan walau kondisi rumah nyaris rata dengan tanah.

“Pengennya mah cepet pindah, tapi nggak ada buat pindahnya,” ujarnya.

Maesaroh mengungkapkan, sejauh ini peran dari pemerintah hanya sebatas menyalurkan bantuan pangan berupa beras dan mie instan kepada para penyintas. Namun untuk tindakan konkret berupa relokasi hingga saat ini belum terlihat.

“Pengen tolong dibantu, pengen cepet pindah takut ketimpahan,” kata Maesaroh saat mengungkapkan perasaannya. (*)

Berita Terkait

Discussion about this post