Peringati 30 Tahun Kudatuli, PDI Perjuangan Kota Serang Gaungkan Pentingnya Merawat Demokrasi

SERANG, BANPOS – DPC PDI Perjuangan Kota Serang memperingati 30 tahun Peristiwa Kerusuhan 27 Juli 1996 (Kudatuli) dengan menggelar diskusi publik dan malam renungan di Sekretariat DPC PDI Perjuangan Kota Serang.

Kegiatan mengangkat tema “Meretas Jalan Demokrasi” itu menjadi momentum untuk mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, memahami sejarah perjuangan demokrasi Indonesia.

Baca Juga

Acara dihadiri kader partai, aktivis, mahasiswa, dan berbagai elemen masyarakat. Diskusi publik menghadirkan eksponen Aktivis 98 Karna Wijaya dan wartawan senior Banten Saepudin sebagai narasumber yang mengulas makna Peristiwa Kudatuli dalam perjalanan demokrasi nasional.

Dalam paparannya, Karna Wijaya menilai Kudatuli merupakan bagian penting dari proses menuju Reformasi 1998. Menurutnya, penyerbuan terhadap Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, pada 27 Juli 1996 menjadi simbol pembungkaman terhadap suara demokrasi.

“Peristiwa 27 Juli adalah pengingat bahwa demokrasi yang kita nikmati hari ini lahir melalui proses panjang, penuh tekanan, bahkan pengorbanan. Karena itu, generasi muda perlu memahami sejarah agar tidak mudah melupakan nilai-nilai demokrasi,” ujar Karna, Minggu (26/7).

Sementara itu, Saepudin menilai PDI Perjuangan merupakan salah satu partai politik yang mampu menjaga konsistensi sikap politiknya dalam berbagai dinamika nasional.

“PDI Perjuangan partai yang konsisten. 32 Tahun di luar kekuasaan, akhirnya menang Pemilu 1999. Begitu pun di era Kepemimpinan SBY,” katanya.

Diskusi berlangsung dinamis. Mahasiswa dan kalangan muda memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdialog mengenai tantangan demokrasi di era digital, termasuk persoalan disinformasi dan menurunnya partisipasi politik generasi muda.

Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Serang Mochamad Nasir mengatakan peringatan tiga dekade Kudatuli tidak dimaksudkan untuk menghidupkan kembali luka masa lalu, melainkan sebagai sarana pendidikan politik agar masyarakat memahami proses panjang lahirnya demokrasi di Indonesia.

“Kita tidak sedang hidup di masa lalu. Tetapi kita tidak boleh melupakan sejarah. Kudatuli mengajarkan bahwa demokrasi, kebebasan berpendapat, dan hak rakyat untuk menentukan masa depan bangsa bukanlah sesuatu yang datang dengan sendirinya. Semua itu lahir dari perjuangan panjang,” kata Nasir.

Pria yang akrab disapa Ocing itu menambahkan, PDI Perjuangan memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga ingatan sejarah sekaligus mewariskan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda.

“Perjuangan demokrasi tidak berhenti setelah Reformasi. Tantangannya berubah mengikuti zaman. Hari ini tugas kita adalah menjaga demokrasi tetap berpihak kepada rakyat, menjunjung hukum, menghormati perbedaan, dan memastikan ruang kebebasan tetap hidup,” ujarnya.

Usai diskusi, kegiatan tersebut dilanjutkan dengan malam renungan yang berlangsung khidmat. Para peserta diajak merefleksikan perjuangan demokrasi melalui penyampaian refleksi sejarah serta pemutaran film dokumenter mengenai Peristiwa Kudatuli 1996.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, DPC PDI Perjuangan Kota Serang berharap semangat perjuangan, keberanian melawan ketidakadilan, dan komitmen menjaga demokrasi tetap hidup di tengah masyarakat. (*)

Berita Terkait

Discussion about this post