SERANG, BANPOS – Isu rendahnya cakupan imunisasi dasar anak yang menjadi perhatian serius dalam Participatory Workshop: Komitmen Daerah dan Sinergi Multisektoral dalam Upaya Peningkatan Cakupan Imunisasi Dasar Anak yang digelar oleh Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) bersama sejumlah mitra daerah di Hotel Aston Serang.
Forum ini menghadirkan diskusi panel lintas sektor yang mempertemukan unsur pemerintah, tokoh agama, dan tenaga kesehatan untuk membahas tantangan imunisasi dari berbagai perspektif.
Kegiatan tersebut menyoroti bahwa persoalan imunisasi tidak hanya berkaitan dengan aspek medis semata, tetapi juga menyangkut persepsi masyarakat, pemahaman keagamaan, serta efektivitas komunikasi publik di tingkat akar rumput.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Serang, Ahmad Hasanudin, dalam paparannya menekankan bahwa pemerintah daerah telah melakukan berbagai upaya penguatan sistem pelayanan imunisasi, terutama dari sisi teknis dan infrastruktur kesehatan.
Ia menjelaskan bahwa peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi salah satu fokus utama, termasuk pelatihan tenaga kesehatan terkait manajemen rantai dingin vaksin (cold chain system).
Sistem ini, menurutnya, sangat penting untuk memastikan kualitas vaksin tetap terjaga sejak dari distribusi hingga sampai ke fasilitas pelayanan kesehatan di tingkat bawah.
“SDM kami sudah dibekali pelatihan manajemen rantai vaksin, dan fasilitas penyimpanan seperti cold room di gudang farmasi juga sudah sesuai standar,” ungkapnya, Senin (6/7).
Meski demikian, ia mengakui bahwa tantangan terbesar justru terletak pada pengawasan berjenjang distribusi vaksin serta konsistensi suhu penyimpanan di seluruh rantai distribusi. Ia mempertanyakan sejauh mana sistem pengawasan tersebut benar-benar berjalan optimal dari tingkat produksi hingga pelayanan di lapangan.
Menurutnya, jika terjadi gangguan pada rantai dingin, maka kualitas vaksin dapat menurun meskipun secara administratif distribusi terlihat berjalan baik. Hal ini, lanjutnya, dapat berdampak pada efektivitas imunisasi di masyarakat.
Selain aspek teknis, ia juga menyoroti tantangan sosial yang masih dihadapi di lapangan, terutama terkait persepsi orang tua terhadap imunisasi. Ia menyebut masih adanya kekhawatiran yang berkembang di masyarakat bahwa imunisasi dapat menimbulkan efek samping yang berlebihan pada anak.
“Masih ada orang tua yang merasa kasihan kalau anaknya disuntik, takut demam atau rewel. Padahal tujuan imunisasi adalah melindungi anak dari penyakit berbahaya seperti TBC, hepatitis, dan campak,” ujarnya.
Dari sisi keagamaan, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), KH Matin Syarkowi, menilai bahwa salah satu tantangan besar dalam program imunisasi adalah masih kuatnya narasi keagamaan yang tidak utuh dalam memahami isu kesehatan.
Ia menjelaskan bahwa dalam beberapa kasus, penolakan imunisasi muncul karena adanya pemahaman bahwa urusan kesehatan sepenuhnya merupakan ketentuan Tuhan, sehingga intervensi medis dianggap tidak perlu atau bahkan diperdebatkan secara hukum agama.
“Memang ada narasi yang mengatakan hidup dan mati itu urusan Tuhan, sehingga sebagian orang mempertanyakan vaksin. Tapi itu sering tidak dibaca secara utuh dalam konteks ajaran agama,” ujarnya.
Matin Syarkowi menekankan bahwa dalam Islam terdapat prinsip penting yang justru mendorong upaya menjaga kesehatan dan mencegah penyakit. Ia merujuk pada konsep hifz al-nafs atau menjaga jiwa, yang merupakan bagian dari tujuan utama syariat Islam.
Menurutnya, banyak kesalahpahaman muncul ketika ayat-ayat Al-Qur’an dipahami secara parsial, tanpa mempertimbangkan konteks dan prinsip besar dalam hukum Islam. Ia juga menyoroti penggunaan dalil tertentu yang sering dikaitkan dengan isu halal-haram vaksin tanpa pemahaman yang komprehensif.
“Islam sangat menekankan penjagaan jiwa. Maka upaya pencegahan penyakit seperti imunisasi itu sejalan dengan maqasid syariah,” jelasnya.
Oleh karena itu, ia menilai peran tokoh agama sangat penting dalam memberikan edukasi yang benar, terutama di daerah dengan karakter religius yang kuat seperti Banten. Menurutnya, ceramah dan dakwah perlu disinergikan dengan pesan-pesan kesehatan agar tidak terjadi kesenjangan informasi di masyarakat.
Dari perspektif medis, dokter spesialis anak Rini Sekartini juga menyampaikan bahwa imunisasi merupakan salah satu intervensi kesehatan yang paling aman dan efektif dalam mencegah penyakit pada anak.
Ia menyampaikan bahwa dalam praktik klinisnya selama puluhan tahun, efek samping berat akibat imunisasi sangat jarang terjadi. Reaksi yang umum seperti demam ringan atau rewel menurutnya merupakan hal yang wajar dan dapat ditangani dengan mudah.
“Sebagian besar efeknya ringan. Demam iya, rewel iya, tapi efek berat itu sangat jarang sekali,” jelasnya.
Namun demikian, ia menyayangkan masih rendahnya cakupan imunisasi di Kota Serang, yang menurutnya masih didominasi oleh anak-anak dengan status zero dose atau belum pernah mendapatkan imunisasi dasar lengkap.
Ia menyebut kondisi tersebut cukup mengkhawatirkan, mengingat Kota Serang merupakan ibu kota provinsi yang seharusnya menjadi contoh dalam pelaksanaan program kesehatan masyarakat.
“Masih cukup tinggi anak yang tidak lengkap imunisasinya. Ini perlu menjadi perhatian bersama karena kita masih menghadapi risiko penyakit seperti polio dan campak,” ujarnya.
Menurutnya, ia sepakat keterlibatan tokoh agama, pemerintah daerah, hingga perangkat desa seperti RT dan RW sangat menentukan keberhasilan program.
Ia juga mengusulkan pendekatan edukasi yang dilakukan secara bersama-sama dalam satu forum agar pesan kesehatan lebih mudah diterima masyarakat.
“Kalau dilakukan bersama-sama dalam satu forum, pesan yang disampaikan jadi lebih kuat dan tidak membingungkan masyarakat,” tutupnya.







Discussion about this post