Dekan FUDA UIN Banten Bahas Teologi Islam dan AI dalam Webinar Nasional

PADANG, BANPOS – Dekan Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Masykur, menjadi sorotan dalam gelaran KINMU National Student Webinars seri kedua yang diselenggarakan Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Imam Bonjol Padang secara daring melalui Zoom.

Dalam forum bertema “Teologi Islam dan Kecerdasan Buatan” tersebut, Masykur tampil sebagai keynote speaker dengan membawakan materi mengenai respons Teologi Islam dan Artificial Intelligence (AI) terhadap kasus kekerasan seksual di pesantren dalam perspektif filsafat agama.

Baca Juga

Menurutnya, kekerasan seksual di lingkungan keagamaan tidak dapat dipandang semata sebagai pelanggaran hukum atau penyimpangan individual, melainkan bagian dari krisis teologis akibat penyalahgunaan otoritas, kebebasan, dan simbol-simbol kesakralan agama.

“Kasus kekerasan seksual di pesantren harus dibaca sebagai krisis teologis, bukan hanya krisis hukum,” ujar Masykur dalam pemaparannya, Senin (25/5).

Ia menegaskan bahwa prinsip tauhid sejatinya membongkar otoritas absolut, sementara nilai keadilan (‘adl) dan kasih sayang (rahmah) menuntut adanya pemulihan terhadap korban.

“Maka prinsip tauḥīd membongkar otoritas absolut, sementara ‘adl dan rahmah menuntut pemulihan korban. AI dapat mendukung safeguarding, tetapi wajib tunduk pada amanah, privasi, keadilan, dan martabat manusia,” tambahnya.

Gagasan tersebut mendapat perhatian peserta webinar karena dinilai menghadirkan perspektif baru dalam melihat relasi antara agama, etika, dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan di tengah tantangan sosial kontemporer.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Imam Bonjol Padang, Sefriyono, mengapresiasi terselenggaranya forum akademik tersebut.

Ia menyebut perkembangan AI membutuhkan respons teologis yang adaptif dan komprehensif dari kalangan akademisi, khususnya mahasiswa Fakultas Ushuluddin.

“Melalui wadah ini, kita berharap mahasiswa Fakultas Ushuluddin tidak hanya menjadi pengamat teknologi, melainkan mampu merumuskan pijakan etis dan teologis dalam merespons kemajuan AI,” ungkapnya.

Diskusi berlangsung interaktif dipandu moderator Rafiatul Hasanah dari UIN Imam Bonjol Padang. Webinar ini juga menghadirkan tujuh narasumber mahasiswa dari berbagai Fakultas Ushuluddin UIN di Indonesia, di antaranya perwakilan dari UIN Raden Fatah Palembang, UIN Antasari Banjarmasin, UIN Alauddin Makassar, UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, dan UIN Mataram. (*)

Berita Terkait

Discussion about this post