Peneliti FKUI Ungkap Hoaks dan Kekhawatiran Efek Samping Jadi Penghambat Imunisasi Anak di Kota Serang

SERANG, BANPOS – Tim peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mengungkapkan bahwa hoaks, kekhawatiran terhadap efek samping vaksin, hingga anggapan vaksin tidak halal masih menjadi faktor utama yang menghambat kelengkapan imunisasi dasar anak di Kota Serang.

Temuan tersebut dipaparkan Ketua Tim Peneliti FKUI, Ahmad Fuady, dalam kegiatan Participatory Workshop: Komitmen Daerah dan Sinergi Multisektoral dalam Upaya Peningkatan Cakupan Imunisasi Dasar Anak yang digelar di Aston Serang, Senin (6/7).

Baca Juga

Fuady menjelaskan, penelitian tersebut dimulai sejak 2025 di tiga provinsi, yakni Aceh, Maluku, dan Banten. Di Provinsi Banten, penelitian difokuskan di Kota Serang dan Kabupaten Pandeglang setelah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Banten.

“Kami memulai studi sejak 2025 di tiga lokasi, yaitu Aceh, Maluku, dan Banten. Di Banten kami memilih Kota Serang dan Pandeglang. Tujuannya untuk membantu menemukan apa sebenarnya permasalahan yang menyebabkan cakupan imunisasi belum optimal,” ujar Fuady dalam pemaparannya, Senin (6/7).

Menurutnya, hasil penelitian tidak hanya berhenti sebagai laporan atau publikasi ilmiah, tapi diharapkan mampu untuk memberikan rekomendasi yang dapat diterapkan pemerintah daerah.

“Kami tidak ingin hasil studi ini selesai di laporan atau hanya menjadi paper publikasi saja, tetapi juga memberikan dampak nyata. Rekomendasi nantinya berasal dari pemerintah daerah dan para pelaku di lapangan karena merekalah yang paling memahami kondisi masyarakat,” katanya.

Fuady mengatakan, penelitian di Banten melibatkan 346 responden, terdiri atas 148 pengasuh anak di wilayah kerja Puskesmas Banjar Agung, Kota Serang, serta 198 responden di wilayah Kaduhejo, Pandeglang.

Selain survei, tim juga melakukan wawancara mendalam terhadap pengasuh anak, petugas imunisasi, kepala puskesmas, hingga tokoh masyarakat.

Dari penelitian tersebut ditemukan masih tingginya jumlah anak dengan status zero dose, yakni anak yang belum pernah menerima imunisasi DTP pertama.

“Yang disebut zero dose adalah anak yang belum mendapatkan imunisasi DTP pertama. Ini menunjukkan kemungkinan adanya persoalan akses maupun pemanfaatan layanan kesehatan. Ternyata jumlahnya masih cukup banyak, mencapai sekitar 26 persen dari kelompok imunisasi yang tidak lengkap,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, motivasi orang tua menjadi faktor penting dalam menentukan kelengkapan imunisasi anak. Motivasi tersebut dipengaruhi oleh cara berpikir dan perasaan orang tua terhadap keamanan vaksin.

“Kalau pengasuh tidak memiliki motivasi, kemungkinan anaknya tidak mendapat imunisasi lengkap menjadi lebih tinggi. Motivasi itu dibentuk oleh persepsi apakah imunisasi dianggap penting, bermanfaat, dan aman,” jelasnya.

Berdasarkan hasil penelitian, kata Fuady, persoalan terbesar di Kota Serang bukan pada rendahnya pengetahuan mengenai manfaat imunisasi, melainkan persepsi bahwa vaksin tidak aman.

“Yang paling bermasalah di Serang adalah persepsi soal keamanan vaksin. Banyak orang tua khawatir setelah imunisasi anak menjadi demam, sehingga pengalaman itu membuat mereka enggan melanjutkan imunisasi berikutnya,” katanya.

Selain itu, ia menilai penyebaran hoaks dan disinformasi pascapandemi Covid-19 turut memperburuk kepercayaan masyarakat terhadap vaksin.

“Setelah Covid-19, hoaks dan disinformasi semakin banyak. Ada yang takut vaksin karena isu-isu yang tidak benar. Ini menunjukkan edukasi, komunikasi, dan penyampaian informasi tentang imunisasi belum berjalan dengan baik,” ujarnya.

Fuady juga mengungkapkan bahwa isu halal dan haram vaksin masih cukup dominan di Banten, bahkan lebih kuat dibandingkan dugaan awal yang mereka temukan di Aceh.

“Ketika ditanya vaksin mana yang dianggap haram, sebenarnya mereka juga tidak tahu. Persepsi itu muncul karena hoaks dan informasi yang keliru,” katanya.

Selain itu, praktik multi injeksi atau pemberian lebih dari satu suntikan dalam satu kali kunjungan juga menjadi kekhawatiran sebagian orang tua.

“Mereka khawatir kalau disuntik lebih dari satu kali anak akan mengalami efek yang lebih berat. Akibatnya, ketika sudah terlambat imunisasi, sebagian memilih tidak melanjutkan karena takut harus menerima beberapa suntikan sekaligus,” pungkasnya.

Berita Terkait

Discussion about this post