LEBAK, BANPOS — Sore itu suasana di Kampung Cibuah Kidul, Desa Cibuah, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak tampak syahdu. Semuanya berjalan tenang, tak banyak aktivitas yang terlihat di sana.
Namun di balik ketenangannya, Kampung Cibuah Kidul menyimpan sebuah kisah pilu. Kisah itu datang dari kehidupan seorang kakek berusia 70 tahun bernama Nurdin.
Di usia senjanya, ia harus bertahan dalam keadaan hidup serba terbatas. Kondisi itu bisa dilihat dari rumah yang Nurdin tempati saat ini.
Nurdin adalah seorang lansia sebatang kara. Ia tinggal dalam sepetak gubuk yang seluruh bangunannya terbuat dari anyaman bambu dengan atap berupa genteng serta lantai dari tanah liat.
Gubuk yang ia disebut ‘rumah’ itu ukurannya sangat sempit. Bahkan lebih sempit dari ukuran ruang tamu rumah KPR subsidi tipe 36. Kira-kira luasnya 10 meter persegi. Bangunan seluas itu harus berbagi ukuran dengan kamar, dapur, dan toilet.
Selain ukurannya sempit, gubuk yang ditempati Nurdin juga sudah nyaris ambruk menyatu dengan tanah lantaran sebagian sisi material bangunanya lapuk dimakan usia.
“Kalau hujan bocor. Air masuk,” katanya.
Jangan pernah membayangkan seberapa lengkap perabotan yang Nurdin miliki. Kasur usang nan tipis berbahan kapuk mungkin menjadi satu-satunya barang mewah yang ada di rumah itu.
Lalu untuk memasak, Nurdin pun hanya bisa mengandalkan tungku tanah liat dengan kayu kering sebagai bahan bakarnya. Lalu bagaimana untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus?
Nurdin terpaksa harus mengangkut seember air terlebih dahulu yang bersumber dari kobakan dengan jarak beberapa belas meter dari belakang rumahnya.
Semua kondisi itu jelas jauh dari kata layak untuk disebut sebagai hunian yang nyaman, aman, dan sehat.
Nurdin mengaku telah menempati bangunan itu selama 10 tahun lamanya. Dulu ia tidak tinggal sendiri. Istrinya sempat menemaninya tinggal di bangunan tersebut untuk beberapa saat hingga pada akhirnya meninggal dunia.
Seperti halnya istrinya, anak-anaknya pun juga telah lama pergi meninggalkannya sehingga kini ia hidup seorang diri.
Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari, Nurdin bekerja serabutan. Terkadang petani penggarap, terkadang menerima menjadi sosok pemimpin doa dalam sebuah riungan.
“Kegiatan sehari-hari biasa aja tani,” ujarnya.
Meski hidupnya dalam kondisi serba terbatas, Nurdin mengaku baru sekali menerima bantuan berupa beras dari pemerintah dan itu pun sudah lama terjadi. Untuk saat ini dirinya belum sekalipun terdaftar sebagai bagian dari penerima manfaat program bantuan dari pemerintah.
“Belum ada dan belum terdaftar,” ucapnya.
Mulyani — selaku tetangga Nurdin bercerita, Nurdin beserta istrinya dahulu sempat tinggal di sebuah rumah panggung yang lokasinya tidak jauh dari rumahnya saat ini. Rumah itu roboh menyatu dengan tanah lantaran kurangnya perawatan akibat keterbatasan ekonomi yang melandanya.
“Sebelum di sini itu rumahnya ada di belakang sudah roboh. Makanya sama warga dibuatkan lah rumah di sini. Sudah lama, lebih dari 10 tahun,” tuturnya.
Melihat kondisi Nurdin yang memprihatinkan, Mulyani serta tetangga lainnya mengaku merasa sedih. Sebagai bentuk kepeduliannya, mereka pun tak jarang menyalurkan berbagai bantuan agar kebutuhan hidup Nurdin bisa tetap terpenuhi
“Setidaknya kita bergerak walaupun tidak seberapa. Terkadang makan pun ada bantuan dari masyarakat sekitar,” ucapnya dengan nada getir.
Mulyani berharap, pemerintah dapat menaruh kepedulian kepada Nurdin agar ia dapat hidup dengan layak.
“Harapannya cepat tanggap membantu untuk bapak Nurdin, apalagi rumahnya sudah tidak layak. Dan untuk mendapat bantuan pun bapak Nurdin sangat layak di desa seperti PKH dan lain sebagainya,” pungkasnya. (*)







Discussion about this post