Budi Rustandi Kenang Syafrudin sebagai Sahabat dan Senior Kepemimpinan

SERANG, BANPOS – Suasana duka menyelimuti kediaman mantan Walikota Serang periode 2018–2023, almarhum Syafrudin, di Jalan Bhayangkara, Cipocok Jaya, Kecamatan Serang, Kota Serang.

Sejak pagi, rumah duka dipadati pelayat dari berbagai kalangan. Selain keluarga, kerabat, dan masyarakat, sejumlah pejabat Pemerintah Kota Serang turut hadir untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang pernah memimpin Kota Serang tersebut.

Baca Juga

Tampak hadir Walikota Serang Budi Rustandi, Wakil Walikota Serang Nur Agis Aulia, Sekretaris Daerah Kota Serang Nanang Saefudin, para kepala organisasi perangkat daerah (OPD) Kota Serang, serta sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat lainnya.

Kehadiran mereka bukan sekadar bentuk penghormatan kepada mantan kepala daerah, tapi juga menjadi pertemuan terakhir dengan sosok yang selama ini dikenal dekat dengan masyarakat dan kalangan birokrasi. Berdasarkan informasi yang dihimpun, almarhum juga direncanakan dimakamkan di TPU Sumur Pecung, Kota Serang.

Walikota Serang Budi Rustandi mengaku sangat kehilangan atas wafatnya Syafrudin. Menurutnya, almarhum bukan hanya mantan walikota, bagi Budi almarhum merupakan sahabat sekaligus senior yang memiliki peran penting dalam perjalanan kepemimpinannya di Kota Serang.

“Yang mana saya adalah sahabatnya beliau dan tentu saya merasa sedih. Karena bagaimanapun beliau saya anggap sebagai orang tua dan senior dalam kepemimpinan,” ujar Budi Rustandi saat bertakziah di rumah duka, Selasa (23/6).

Budi mengenang hubungan baik yang telah terjalin sejak dirinya menjabat Ketua DPRD Kota Serang, sementara Syafrudin menjabat sebagai Walikota Serang. Pada masa itu, keduanya sering berkoordinasi dan membangun sinergi untuk menjalankan berbagai program pembangunan daerah.

Menurut Budi, hubungan tersebut tidak hanya terjalin dalam urusan formal pemerintahan, tetapi juga dalam komunikasi sehari-hari yang penuh keakraban. Ia mengaku banyak menerima nasihat dan masukan dari almarhum yang hingga kini masih diingatnya.

“Ketika beliau menjabat wali kota, saya juga menjabat Ketua DPRD. Kami berdua selalu bersinergi dalam menjalankan roda pemerintahan Kota Serang,” katanya.

Budi menuturkan, salah satu nasihat sederhana yang paling membekas dalam ingatannya adalah pesan almarhum agar selalu menjaga kesehatan dan memulai hari dengan suasana yang positif.

“Yang selalu saya ingat, beliau pernah bilang, ‘Pak Ketua, kalau pagi jangan lupa minum air putih hangat sambil ketawa-ketawa’. Itu obrolan-obrolan pagi sambil ngopi bersama beliau,” ungkapnya.

Bagi Budi, pesan sederhana tersebut menggambarkan karakter Syafrudin yang hangat, sederhana, dan selalu berusaha membangun kedekatan dengan siapa pun. Di tengah kesibukannya sebagai kepala daerah, almarhum tetap mampu menciptakan suasana komunikasi yang cair dan penuh kekeluargaan.

Lebih jauh, Budi juga menyampaikan bahwa sejumlah program pembangunan yang saat ini dijalankan Pemerintah Kota Serang tidak terlepas dari gagasan dan cita-cita yang pernah dirancang oleh Syafrudin ketika memimpin Kota Serang.

“Setiap kali kami berdiskusi soal program-program pembangunan, beliau punya banyak cerita dan harapan untuk Kota Serang. Hari ini saya berupaya melanjutkan cita-cita beliau. Apa yang saya kerjakan sekarang, sebagian juga merupakan mimpi dan harapan yang pernah beliau sampaikan,” tuturnya.

Di akhir keterangannya, Budi menyampaikan doa agar almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT serta segala amal ibadahnya diterima.

“Saya mengucapkan belasungkawa. Semoga beliau dilapangkan kuburnya dan husnul khatimah,” ucapnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Serang Nanang Saefudin menyebut Syafrudin sebagai salah satu putra terbaik yang pernah dimiliki Kota Serang. Menurutnya, selama memimpin daerah, almarhum telah memberikan banyak kontribusi bagi pembangunan dan pelayanan masyarakat.

“Tentu beliau adalah putra terbaik bagi warga Kota Serang. Beliau pernah memimpin pada periodenya dan banyak hal yang telah beliau lakukan untuk masyarakat Kota Serang,” kata Nanang.

Sebagai birokrat yang pernah bekerja bersama Syafrudin, Nanang mengaku memiliki banyak kenangan dan pengalaman selama mendampingi kepemimpinan almarhum. Ia menilai Syafrudin merupakan sosok pemimpin yang memiliki kepedulian tinggi terhadap masyarakat dan jajaran aparatur sipil negara (ASN).

“Tentu kami sebagai ASN banyak belajar dari beliau. Dengan gaya kebapakannya, beliau sangat peduli kepada masyarakat. Beliau juga sangat perhatian kepada bawahannya,” ujarnya.

Nanang menuturkan, kedekatan Syafrudin dengan masyarakat terlihat dari kebiasaannya yang selalu hadir dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Menurutnya, almarhum tidak pernah membedakan status sosial masyarakat yang ditemuinya.

“Kalau ada warga yang meninggal dunia, beliau sering hadir. Kalau ada hajatan masyarakat, beliau juga datang. Orangnya sangat bersahaja dan saya bersaksi beliau adalah orang baik,” katanya.

Menurut Nanang, salah satu karakter yang paling menonjol dari Syafrudin adalah kemampuannya mengendalikan emosi dalam berbagai situasi. Meski menghadapi banyak persoalan pemerintahan maupun dinamika politik, almarhum dikenal sebagai sosok yang tenang dan tidak mudah terpancing emosi.

“Beliau orang yang pandai memanage emosional. Jarang beliau marah. Beliau selalu bisa mengelola kemarahannya dengan baik dan selalu bertutur kata dengan baik,” jelas Nanang.

Karakter tersebut, lanjutnya, menjadi teladan penting bagi para birokrat dan generasi pemimpin berikutnya. Sebab, kepemimpinan tidak hanya diukur dari kemampuan mengambil keputusan, tetapi juga dari cara memperlakukan orang lain dan menjaga komunikasi yang santun.

Nanang juga menyoroti perjalanan karier Syafrudin yang dimulai dari bawah hingga akhirnya menjadi wali kota. Menurutnya, perjalanan tersebut menunjukkan dedikasi dan konsistensi almarhum dalam mengabdi kepada masyarakat.

“Beliau berkarier mulai dari lurah, camat, kepala dinas, sampai akhirnya masuk ke dunia politik dan menjadi walikota,” ujarnya.

Selain itu, Nanang menilai almarhum merupakan figur yang menjunjung tinggi etika demokrasi. Hal itu terlihat ketika Syafrudin mengikuti kontestasi politik dan menerima hasil pemilihan dengan lapang dada.

“Beliau orang yang konsekuen. Ketika mengetahui hasil pemilihan dan dinyatakan kalah, beliau langsung mengucapkan selamat kepada pemenang. Itu menjadi contoh yang baik bagi birokrasi maupun para politisi,” katanya. (*)

Berita Terkait

Discussion about this post