LEBAK, BANPOS — Puluhan pedagang kaki lima (PKL) di Rangkasbitung kecewa dengan kebijakan relokasi Bupati Lebak, Hasbi Jayabaya. Alasannya karena tempat yang baru dinilai sepi sehingga khawatir berpengaruh terhadap pendapatan mereka.
Sebelumnya, para PKL itu biasa berjualan di sekitar Alun-alun Rangkasbitung, Kabupaten Lebak. Namun, kini, Hasbi Jayabaya merelokasi mereka ke Jalan Abdi Negara, Kecamatan Rangkasbitung.
Salah seorang PKL bernama Lina menilai, kebijakan tersebut sepihak. Sebab, dia bersama pedagang lainnya tidak diajak berunding terlebih dahulu dengan bupati sebelum kebijakan tersebut diambil.
“Sebelumnya nggak ada pemberitahuan, langsung aja (diimbau pindah) baru kemarin,” katanya sembari tersenyum getir, Selasa (9/6).
Lina mengaku, saat berjualan di Alun-alun Rangkasbitung dirinya mampu mengantongi keuntungan sekitar Rp300 ribu pada hari biasa. Sementara pada hari libur, Sabtu-Minggu, keuntungan yang mampu dikantongi lebih dari itu.
“Tergantung, kalau hari biasa pernah Rp300 ribuan. Kalau Sabtu-Minggu bisa lebih apalagi kalau CFD (car free day) itu bisa lebih,” ujar pedagang es teh itu.
Namun dengan direlokasi ke Jalan Abdi Negara, Lina pesimis mampu membawa pulang keuntungan seperti saat masih berjualan di Alun-alun Rangkasbitung. “Kan carinya yang strategis sambil main gitu. Main terus jajan begitu. (Jln Abdi Negara) kurang ramai dari dulu,” tuturnya.
Atas kebijakan tersebut Lina secara terang-terangan mengaku sangat kecewa. Dia meminta supaya para pedagang dapat kembali berjualan di Alun-alun Rangkasbitung.
“Gini aja nggak apa-apa tidak diperbolehkan (berjualan di alun-alun), tapi saya minta kebijaksanaan (dapat berjualan di alun-alun) hari Sabtu-minggu aja udah gitu. Jadi malam minggu itu kita bebas lah ke alun-alun,” ucapnya berharap.
Perasaan yang sama juga dirasakan oleh PKL lainnya. Yani secara tegas menyatakan ketidaksetujuannya terhadap kebijakan tersebut.
Dia menilai, lokasi yang ditetapkan sebagai tempat baru bagi PKL tidaklah strategis sehingga ia khawatir akan berdampak terhadap dagangannya.
Biasanya, kata Yani, saat masih berjualan di Alun-alun Rangkasbitng dirinya mampu membawa pulang keuntungan Rp100 ribu dari hasil berjualan cireng pada hari biasa. Sedangkan pada hari libur keuntungan yang bisa dibawa pulang bisa lebih dari itu.
“Ya biasanya jam segini mah bisa dapat Rp100 ribu di hari biasa. Kalau hari libur bisa gede, apalagi kalau di hari Jumat kan ada santri jam segini bisa dapat lebih dari Rp300 ribu itu pagi doang belum sorenya. Bikin menangis di sini mah.”
Sama halnya seperti Lina, Yani pun merasa kecewa atas kebijakan relokasi tersebut. Dia pun berharap dapat memperkenankan kembali berjualan di sekitar Alun-alun Rangkasbitung.
“Bukan kecewa lagi, bikin menangis ini mah. Inginnya bali lagi ke sana yang strategis,” pungkasnya. (*)







Discussion about this post