AMSTERDAM, BANPOS — Sejarawan sekaligus anggota DPR RI, Bonnie Triyana, menjadi pembicara dalam forum diskusi sejarah yang digelar di Amsterdam, Senin (4/5/2026) lalu.
Diskusi tersebut diselenggarakan Omroep ZWART bersama OBA Next Lab bertepatan dengan momentum peringatan berakhirnya Perang Dunia II di Belanda.
Kegiatan yang berlangsung di Perpustakaan Umum Kraaiennest, Amsterdam Zuidoost itu menghadirkan Bonnie bersama sejarawan dan penulis asal Belanda, Lara Nuberg, sebagai moderator.
Dalam forum yang dihadiri warga lintas latar belakang, mulai dari Belanda, Suriname, Afrika hingga Indonesia, Bonnie mengangkat pentingnya membangun pemahaman sejarah bersama antara Indonesia dan Belanda, terutama terkait masa dekolonisasi pada periode 1945-1949.
Menurut anggota Komisi X DPR RI tersebut, sejarah seharusnya menjadi sarana pembelajaran untuk memutus rantai kekerasan dan trauma masa lalu.
“Pelajaran sejarah harus membebaskan diri dari belenggu trauma masa lalu sekaligus memutus rantai kekerasan yang terjadi di tengah masyarakat, khususnya di ranah pendidikan,” ujarnya.
Dalam diskusi itu, Bonnie juga menyoroti dampak panjang kolonialisme Belanda yang dinilai masih menyisakan ketimpangan antara negara-negara di belahan utara dan selatan dunia.
Indonesia Sasaran Eksploitasi
Ia menilai Indonesia sejak dahulu terus menjadi sasaran eksploitasi sumber daya alam. Jika pada masa VOC komoditas rempah menjadi daya tarik utama, kini perhatian dunia bergeser pada sektor pertambangan, terutama nikel.
“Jika masa VOC Indonesia menjadi incaran karena hasil rempah-rempahnya, maka kini Indonesia menjadi incaran karena hasil tambangnya, terutama nikel,” katanya.
Bonnie menjelaskan, praktik kolonialisme pada masa lalu juga mempertahankan sistem feodalisme untuk mengontrol masyarakat dan sumber kekayaan alam. Menurutnya, hubungan patron-klien antara elite dan rakyat menjadi salah satu warisan yang masih terasa hingga kini.
Ia mencontohkan tokoh pergerakan nasional, Ki Hadjar Dewantara atau Soewardi Suryaningrat, yang pernah diasingkan ke Belanda akibat kritik tajam terhadap pemerintah kolonial.
“Kebebasan bicara pada era kolonial adalah kemewahan yang tak mungkin diperoleh oleh rakyat. Kritik pada era kolonial menjadi tindakan kepahlawanan,” ujarnya.
Bonnie juga menanggapi pertanyaan peserta diskusi terkait minimnya pembahasan sejarah kuli kontrak Jawa di Suriname dalam kurikulum pendidikan Indonesia. Ia mengakui penulisan sejarah di Indonesia masih cenderung elitis dan kurang memberi ruang bagi kisah rakyat kecil.
“Materi pengajaran sejarah pun luput mengedepankan kisah peran aktif rakyat dan kisah orang-orang kecil dalam sejarah,” katanya.
Selain itu, ia turut mengkritisi pandangan sebagian masyarakat Belanda yang memaknai era VOC sebagai masa kejayaan global. Menurut Bonnie, kejayaan tersebut tidak lepas dari praktik kekerasan dan eksploitasi di wilayah koloni.
Karena itu, ia menilai dialog sejarah antarbangsa penting dilakukan untuk membangun kesadaran kritis sekaligus mendekolonisasi cara pandang publik terhadap sejarah.
“Kolonialisme memang sudah berakhir usai Perang Dunia Kedua, namun kolonialitas sebagai mentalitas yang tetap melanggengkan hubungan masyarakat yang diskriminatif, eksploitatif, dan rasialistis masih tetap berlangsung sampai hari ini,” tegasnya. (*)







Discussion about this post