SERANG, BANPOS – Dewan Pimpinan Cabang PDI Perjuangan Kota Serang menggelar peringatan Hari Kartini. Selanjutnya kader partai menegaskan komitmen penguatan peran strategis perempuan ranah publik.
“Kami melaksanakan rangkaian kegiatan ini secara sangat komprehensif,” ujar panitia.
Kemudian pengurus mengawali seluruh susunan acara melalui ziarah taman makam pahlawan. Setelahnya para peserta menanam bibit pohon pendamping pangan kawasan Kelurahan Cilaku.
“Kegiatan penanaman pohon menyimbolkan kemandirian perempuan mengelola keluarga,” kata panitia.
Menariknya puncak acara menghadirkan forum dialog publik kawasan Kafe Kalonoia Serang. Lalu panitia mengundang sejumlah narasumber dari kalangan legislatif maupun praktisi perlindungan.
“Forum ini menyoroti isu pemberdayaan perempuan akar rumput,” jelas ketua.
Hakikat Emansipasi
Di samping itu Sarifah Ainun Jariah memaparkan makna hakikat emansipasi sejati. Bahkan anggota dewan ini mendorong perempuan terus mengembangkan kompetensi diri pribadi.
“Semangat perjuangan Kartini membuktikan bahwa kaum perempuan sangat mampu,” ujarnya.
Selain itu politisi senayan mencatat peningkatan persentase keterwakilan perempuan kursi parlemen. Maka keterlibatan strategis tersebut mendorong pengesahan aturan perlindungan pekerja rumah tangga.
“Kita bisa melaksanakan peran politisi sekaligus ibu rumah tangga,” tambahnya.
Lebih dari itu Sarifah menekankan pentingnya investasi kualitas diri melalui pendidikan. Oleh karenanya setiap perempuan harus mencari ilmu sebanyak mungkin tanpa batasan.
“Perempuan berpendidikan selalu memegang kunci utama kemajuan suatu bangsa,” terangnya.
Sementara itu Mochamad Nasir mengingatkan pesan ideologis mendiang Presiden Soekarno dahulu. Seterusnya pemimpin cabang membedah isi buku Sarinah secara tajam dan mendalam.
“Tokoh bangsa menempatkan perempuan sebagai tiang penyangga utama negara,” ucapnya.
Tak hanya itu Ipda Febby menyoroti tingginya kasus kekerasan seksual anak. Karenanya aparat kepolisian menangani dua puluh delapan kasus pelecehan sepanjang tahun.
“Makanya, orang tua wajib memberikan pemahaman area tubuh sensitif anak,” jelasnya.
Selaras dengan itu kepolisian mensosialisasikan lima bagian tubuh rawan incaran pelaku. Sehingga anak mengetahui potensi bahaya dari tindakan manipulasi fisik pihak luar.
“Tentu saja, edukasi sejak dini mencegah ancaman pintu awal kekerasan,” tegasnya.
Lebih lanjut dokter Hena Arlini menekankan penguatan pola pikir pendidikan keluarga. Padahal instansi pemerintah telah menyelesaikan empat puluh delapan kasus kekerasan perempuan.
“Peran keluarga sangat menentukan ketahanan mental anak mengatasi ancaman,” tuturnya.
Pada akhirnya kegiatan ini memperkuat posisi perempuan akar rumput lingkungan masyarakat. Begitu pula peringatan ini mencetak pahlawan perubahan sosial era milenial tangguh.
“Harapannya, peringatan historis ini memampukan kita melawan kekerasan dan penyebaran hoaks,” tutupnya. (*)







Discussion about this post