Fadli Zon Hadiri Peringatan 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari

SERANG, BANPOS – Peringatan 400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari berlangsung di kawasan Masjid Agung Banten Lama, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mengenang sekaligus menghidupkan kembali warisan perjuangan, pemikiran, dan spiritualitas tokoh besar Islam Nusantara tersebut.

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Syekh Yusuf merupakan sosok langka yang tidak hanya diakui sebagai pahlawan nasional Indonesia, tetapi juga di Afrika Selatan.

Baca Juga

“Saya kira beliau satu-satunya pahlawan nasional dari Indonesia yang juga diakui sebagai pahlawan nasional di Afrika Selatan. Di Indonesia tahun 1995, dan di Afrika Selatan tahun 2005,” ujar Fadli Zon dalam sambutannya, Selasa (28/4)

Menurutnya, keistimewaan Syekh Yusuf tidak hanya terletak pada perjuangan fisik melawan kolonialisme, tetapi juga kontribusinya dalam bidang intelektual dan tasawuf. Ia bahwa menyebut Syekh Yusuf sebagai figur yang komplit karena mampu memadukan perjuangan pemikiran dan aksi nyata.

“Banyak orang berjuang dengan pemikiran atau fisik, tetapi Syekh Yusuf berjuang dengan keduanya. Ini yang membuat beliau menjadi tokoh luar biasa yang patut diteladani,” lanjutnya.

Fadli Zon juga menyoroti perjalanan panjang pengasingan Syekh Yusuf, mulai dari Batavia, kemudian ke Sri Lanka selama 10 tahun, hingga akhirnya ke Cape Town, Afrika Selatan, tempat beliau wafat. Di sana, Syekh Yusuf dikenang sebagai pelopor penyebaran Islam di kawasan selatan Afrika.

“Kalau tidak ada Syekh Yusuf, mungkin Islam tidak berkembang seperti sekarang di Sri Lanka maupun Afrika Selatan. Bahkan di sekitar makamnya tertulis bahwa beliau membawa fajar Islam di Afrika Selatan,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan rencana strategis pemerintah, termasuk penguatan literasi karya-karya Syekh Yusuf, produksi film, hingga pembangunan Museum Syekh Yusuf di Cape Town sebagai rumah budaya Indonesia.

“Yang paling penting kita hidupkan literasinya. Dari situ akan lahir berbagai ekspresi lain. Kita juga sedang merintis museum Syekh Yusuf di Cape Town dan ini sudah mendapat persetujuan Presiden Prabowo Subianto,” tambahnya.

Selain itu, Fadli Zon menyampaikan terkait pentingnya pelestarian kawasan Banten Lama sebagai situs cagar budaya nasional, termasuk revitalisasi Keraton Surosowan, Keraton Kaibon, dan Benteng Speelwijk sebagai bagian dari identitas bangsa.

Sementara itu, Staf Ahli Gubernur Banten, Zaenal Mutaqin, yang hadir mewakili Gubernur Banten, menyampaikan bahwa peringatan ini menjadi puncak dari rangkaian kegiatan budaya dan spiritual di Banten.

“Hari ini langit Banten Lama menjadi saksi momentum langka. Ini adalah puncak dari rangkaian spiritualitas dan budaya, pada peringatan 400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari Al-Bantani,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa Syekh Yusuf memiliki kedekatan historis dan emosional yang kuat dengan Kesultanan Banten, terutama dengan Sultan Ageng Tirtayasa. Hubungan tersebut tidak hanya bersifat politis, tetapi juga spiritual dan kekeluargaan.

“Beliau bukan hanya penasihat kesultanan, tetapi juga menantu Sultan Ageng Tirtayasa, sekaligus panglima perang yang memimpin perlawanan terhadap VOC,” jelas Zaenal.

Lebih lanjut, ia menyebut bahwa Syekh Yusuf adalah simbol integrasi keilmuan, spiritualitas, dan perjuangan. Sebagai seorang sufi, ia dikenal lembut, namun juga tegas sebagai pemimpin dalam menghadapi penjajahan.

“Beliau adalah sufi yang lembut, tetapi juga panglima perang yang tidak gentar,” tandasnya. (*)

Berita Terkait

Discussion about this post