SERANG, BANPOS – Pemerintah Kota (Pemkot) Serang resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) sebagai langkah strategis dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya bagi warga kurang mampu.
Walikota Serang menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam menghadirkan solusi konkret terhadap berbagai persoalan sosial, termasuk penanganan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dan rumah roboh.
“Ini bentuk komitmen Pemerintah Kota Serang bersama BWA untuk membantu masyarakat yang tidak mampu. Salah satu programnya adalah bantuan RTLH yang akan segera ditindaklanjuti melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan dinas terkait seperti Dinas Sosial dan Perkim,” ujarnya, Kamis (2/4/2026).
Menurutnya, kehadiran BWA menjadi alternatif solusi percepatan bantuan tanpa harus sepenuhnya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Selama ini, penanganan rumah roboh kerap memerlukan waktu lama karena menunggu proses penganggaran.
“Kalau dulu harus menunggu hingga satu tahun untuk pencairan, sekarang bisa dipercepat. Ada yang dari APBD, ada juga dari BWA. Ini sangat membantu pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan warga,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, saat ini jumlah RTLH di Kota Serang mencapai sekitar 7.600 unit. Oleh karena itu, Pemkot terus melakukan berbagai upaya, termasuk menjalin kerja sama dengan lembaga seperti BWA dan menggandeng pihak swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
“Saya melakukan lobi-lobi dengan BWA dan para pengusaha agar bantuan CSR tidak melalui pemerintah, tetapi langsung kepada masyarakat. Pemerintah hanya memfasilitasi agar bantuan tepat sasaran,” tegasnya.
Penyaluran Bantuan Disesuaikan Dengan Kebutuhan
Sementara itu, Ketua Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) Muhammad Ihsan Salam menjelaskan bahwa mekanisme penyaluran bantuan akan dilakukan berdasarkan hasil survei dan asesmen lapangan. Setiap bantuan disesuaikan dengan kebutuhan riil di lapangan.
“Teknisnya, kami akan menghitung kebutuhan terlebih dahulu, kemudian menurunkan tim untuk melakukan survei. Setelah itu baru ditentukan bentuk dan besaran bantuan sesuai hasil asesmen,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa bantuan dari BWA tidak bersifat seragam, melainkan disesuaikan dengan kondisi masing-masing penerima manfaat.
Untuk target awal, program ini direncanakan mencakup sekitar 100 rumah, meski angka tersebut masih akan disesuaikan dengan hasil pendataan dan ketersediaan anggaran.
“Semua tergantung hasil survei. Kami akan data dan sesuaikan dengan kebutuhan serta kemampuan anggaran,” katanya. (*)







Discussion about this post