Tuti Nurasiah, Penggerak Kesetaraan Gender dan Penurunan Stunting di Lebak

LEBAK, BANPOS — Upaya mendorong kesetaraan gender sekaligus percepatan penurunan stunting di Kabupaten Lebak terus menunjukkan progres.

Di balik berbagai program tersebut, terdapat sosok Hj. Tuti Nurasiah yang ditetapkan sebagai Gender Champion 2025 oleh Pemerintah Kabupaten Lebak.

Baca Juga

Sebagai Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana pada DP3AP2KB Lebak, Tuti menghadirkan beragam inovasi yang menyasar keluarga sebagai pusat pembangunan.

Salah satu program yang menonjol adalah peningkatan peran laki-laki dalam keluarga berencana (KB).

Ia mendorong perubahan paradigma bahwa KB bukan hanya tanggung jawab perempuan.

“Pelayanan kontrasepsi tidak hanya diberikan bagi para wanita, melainkan juga untuk para laki-laki sebagai bentuk kesetaraan peran dalam keluarga,” kata Tuti dalam laporan Gender Champion 2025.

Melalui pembentukan Kelompok KB Pria Siliwangi di Rangkasbitung, partisipasi pria dalam ber-KB mulai meningkat.

Kelompok ini bahkan berhasil meraih prestasi di tingkat Provinsi Banten dan menjadi finalis nasional.

Di sisi lain, penguatan ketahanan keluarga juga dilakukan melalui program Kampung Keluarga Berkualitas di Desa Cireundeu.

Inovasi pemanfaatan lahan pekarangan menjadi salah satu strategi pemenuhan gizi keluarga sekaligus pencegahan stunting.

“Pemanfaatan lahan pekarangan menjadi sumber pemenuhan gizi keluarga merupakan bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan dan ketahanan keluarga,” jelasnya.

Program ini bahkan mengantarkan Desa Cireundeu meraih prestasi tingkat Provinsi Banten dan masuk dalam 16 besar praktik terbaik nasional dalam pendampingan keluarga berisiko stunting.

Tak hanya fokus pada keluarga muda, perhatian juga diberikan kepada kelompok lanjut usia melalui pengembangan Sekolah Lansia. Program ini memberikan ruang bagi lansia untuk tetap aktif dan produktif.

“Lansia bukan hanya penerima bantuan, tetapi juga pemberi nilai dan teladan dalam keluarga,” lanjut Tuti.

Dalam isu pengasuhan, Tuti juga menggagas penguatan peran ayah. Melalui berbagai gerakan, seperti mengantar anak di hari pertama sekolah dan mengambil rapor, diharapkan tercipta kedekatan emosional antara ayah dan anak.

“Peran ayah bukan sekadar pencari nafkah, tetapi juga pendamping tumbuh kembang anak,” tegasnya.

Sementara itu, untuk mendukung pasangan bekerja, program Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA) dikembangkan guna memastikan anak tetap mendapatkan pengasuhan berkualitas.

Dalam upaya percepatan penurunan stunting, inovasi “Jum’at SERIUS” menjadi salah satu andalan. Program ini menggalang donasi masyarakat untuk intervensi gizi secara terstruktur.

“Intervensi gizi yang dilakukan secara berkelanjutan terbukti memberikan dampak signifikan terhadap perbaikan status gizi anak,” ungkap laporan tersebut.

Selain itu, pemberdayaan ekonomi keluarga melalui program UPPKA juga terus diperkuat, dengan melibatkan seluruh anggota keluarga dalam meningkatkan pendapatan.

Di kalangan remaja, program Generasi Berencana (GenRe) menjadi wadah pembinaan agar generasi muda mampu menjadi agen perubahan.

Melalui berbagai program tersebut, Tuti menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan kesetaraan gender dan pembangunan keluarga berkualitas.

“Kesetaraan peran laki-laki dan perempuan menjadi kunci dalam membangun keluarga yang sehat, mandiri, dan sejahtera,” tandas Tuti. (*)

Berita Terkait

Discussion about this post