Anggota Komisi X DPR RI Soroti Kasus Stunting di Lebak Tertinggi Kedua di Banten

LEBAK, BANPOS — Kasus stunting di Kabupaten Lebak mendapat sorotan dari anggota Komisi X DPR RI, Ade Rossi. Pasalnya, jumlah kasus tersebut dalam dua bulan terakhir di tahun ini mengalami kenaikan cukup signifikan, yakni mencapai sekitar 50 persen bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Berdasarkan data yang dimiliki, anggota legislatif dari Fraksi Golkar itu menyebut jumlah kasus stunting di Kabupaten Lebak pada Februari 2026 tercatat sekitar 6.000 anak. Sedangkan di Januari 2026 jumlah mencapai sekitar 4.000 anak.

Baca Juga

Dengan data tersebut membuat Kabupaten Lebak berada di posisi kedua sebagai daerah dengan jumlah penderita stunting terbanyak se-Provinsi Banten setelah Kabupaten Pandeglang.

“Kondisi stunting di Lebak ini terburuk kedua se-Provinsi Banten setelah Pandeglang,” katanya saat ditemui usai mengisi acara peningkatan kapasitas penggunaan riset dan inovasi untuk masyarakat di Kecamatan Warunggunung, Senin (2/3).

Menurutnya, lonjakan angka tersebut sangat mengkhawatirkan. Fakta ini menjadi alasan kuat mengapa dirinya menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk turun gunung memberikan intervensi langsung kepada para kader Posyandu, PKK, hingga Kepala Desa yang menjadi ujung tombak di lapangan.

Ade Rossi menegaskan, persoalan stunting tidak bisa dipandang sebelah mata. Penanganannya bukan sekadar memberikan makanan tambahan saat anak sudah lahir, melainkan harus dimulai sejak masa kehamilan.

Edukasi mengenai asupan asam folat, protein, hingga vitamin bagi ibu hamil menjadi kunci agar anak terbebas dari stunting di 1.000 hari pertama kehidupan.

“Perhatian terhadap anak stunting bukan hanya pada saat anak sudah lahir, tetapi bagaimana seorang ibu hamil bisa diberikan edukasi mengenai kehamilan yang baik. Asupan gizinya, asam folat, protein, karbohidrat, vitamin, dan lain-lain harus terpenuhi,” ujarnya.

Namun, di luar persoalan gizi fisik, istri dari mantan Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy ini menyoroti aspek humanis yang kerap luput dari perhatian, yakni kesehatan mental ibu dan anak.

“Bicara masalah kesehatan gizi tidak terlepas dari masalah kesehatan mental. Seorang ibu yang tidak didampingi pasangannya dengan baik bisa mengalami baby blues. Hal itu bisa mengakibatkan si anak bukan hanya kekurangan gizi, tetapi juga bisa kehilangan nyawa,” tegasnya.

Ia juga menyinggung fenomena kesehatan mental yang kini merambah usia sekolah akibat perundungan (bullying) hingga himpitan ekonomi keluarga. Kondisi ini dinilai dapat menciptakan ‘lingkaran setan’ yang menghambat tumbuh kembang anak.

Oleh karena itu, Ade Rossi mendorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI untuk tidak hanya fokus pada kurikulum akademis, tetapi juga memasukkan kesehatan mental sebagai prioritas yang berjalan beriringan dengan program Kementerian Kesehatan.

Khusus kepada Pemerintah Kabupaten Lebak dan Pemerintah Provinsi Banten, Ade Rossi memberikan peringatan keras terkait politik anggaran.

Ia meminta pemerintah daerah tidak setengah hati dalam mengalokasikan dana untuk penanganan stunting, meskipun di tengah tantangan inflasi daerah.

Ia berbagi pengalaman saat melakukan intervensi di desa, di mana program pemberian makanan bergizi tidak bisa dilakukan secara sporadis.

“Intervensi itu tidak bisa satu kali diberikan program makan bergizi. Harus tiga bulan berturut-turut. Artinya setiap harinya anak ini dilihat makannya, dilihat kebersihannya. Itu membutuhkan jelas perhatian, anggaran, dan program yang kontinu,” paparnya.

Ade Rossi menekankan, anggaran penanganan stunting bukanlah pengeluaran konsumtif, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan daerah. Oleh sebab itu menurutnya, masalah stunting mesti dipandang sebagai persoalan serius dan mendapatkan perhatian dari semua pihak.

“Urusan anak ini kita bukan berbicara urusan 2-3 tahun yang akan datang, tapi kita berbicara 5, 10, hingga 15 tahun ke depan. Investasi negara dan daerah adalah bagaimana anak-anaknya pintar, berbudi, berakal, dan sehat,” tandasnya. (*)

Berita Terkait

Discussion about this post