SERANG, BANPOS– Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten menggandeng Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) Provinsi Banten menggelar pelatihan Psychological First Aid (PFA) bagi relawan yang akan diterjunkan membantu penyintas banjir dan longsor di sejumlah daerah di Sumatera, seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Kegiatan berlangsung selama dua hari, 29–30 Desember, di kawasan Sindang Sari, Kabupaten Serang.
Kepala BPBD Provinsi Banten, Lutfi Mujahidin, mengatakan pendampingan psikologis di fase awal pascabencana menjadi bagian penting dari proses pemulihan.
Menurutnya, trauma yang tidak ditangani sejak dini dapat berdampak panjang terhadap kondisi mental penyintas.
“Pemulihan bukan hanya soal membangun kembali fisik, tetapi juga memulihkan kondisi batin korban. Di sinilah peran relawan yang memiliki bekal dasar pendampingan psikologis sangat dibutuhkan,” kata Lutfi.
Diketahui, pelatihan ini melibatkan unsur pesantren, mahasiswa, dan relawan kemanusiaan.
Sejumlah akademisi, praktisi kesehatan, serta psikolog dihadirkan untuk membekali peserta dengan kemampuan dasar mendampingi korban secara empatik dan menenangkan.
Ketua Presidium FSPP Provinsi Banten, KH E. Soleh Rosyad menilai pesantren memiliki kekuatan sosial yang besar dalam situasi kebencanaan.
Dengan jaringan ribuan pondok pesantren yang tersebar hingga pelosok, pesantren dinilai mampu bergerak cepat sebagai basis relawan berbasis komunitas.
“Pesantren terbiasa hidup bersama masyarakat. Ketika terjadi bencana, kami siap hadir dan membantu, tidak hanya secara fisik tetapi juga secara psikologis,” ujarnya.
Sinergi BPBD dan FSPP berlanjut dalam rapat koordinasi pada 31 Desember 2025 untuk mematangkan skema keterlibatan relawan pesantren dalam aksi kemanusiaan.
Dalam kerja sama tersebut, LAZ HARFA Banten turut dilibatkan untuk mendukung kebutuhan logistik dan penguatan jejaring bantuan.
Seluruh rangkaian kegiatan ini dirangkai dalam gerakan kemanusiaan bertajuk Ayo Cepat Tolong (ACT) Warga Banten untuk Sumatera.
Koordinator gerakan, Ais Komarudin, menyebut inisiatif tersebut sebagai bentuk solidaritas masyarakat Banten terhadap saudara-saudara di wilayah terdampak bencana.
“Yang kami bawa bukan hanya bantuan, tapi kepedulian dan kehadiran. Prinsipnya cepat, tepat, dan tetap menjunjung martabat kemanusiaan,” tandasnya. (*)







Discussion about this post