Mubes MATADEWA ke-4 Selesai, Manarul Hidayat Terpilih Jadi Ketua

SERANG, BANPOS — Mahasiswa Taktis Demokratis Wanasalam (MATADEWA) menggelar Musyawarah Besar (Mubes) ke-4 di RSS Pemda Kota Serang.

Dalam forum tersebut, Manarul Hidayat resmi terpilih sebagai Ketua Umum MATADEWA.

Baca Juga

Sementara Nadiah dipercaya sebagai Wakil Ketua, Indra Lesmana sebagai Sekretaris, dan Abdul Latif sebagai Bendahara.

Ketua Umum MATADEWA terpilih, Manarul Hidayat mengatakan, amanah yang diberikan kepadanya merupakan sebuah tanggung jawab untuk membawa organisasi agar tetap kritis dan dekat dengan persoalan masyarakat.

“Pertama tentunya saya ucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah memberikan kepercayaan. Ini bukan soal saya terpilih jadi ketua, tapi bagaimana setelah ini kita bisa jalan bareng dan membangun MATADEWA lebih baik lagi,” kata Manarul usai acara Mubes, Rabu (16/9).

Menurutnya, MATADEWA harus tetap menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar, berdiskusi dan terlibat langsung dalam menyelesaikan persoalan yang ada di masyarakat.

Manarul juga menuturkan, sikap kritis MATADEWA harus tetap dijunjung tinggi serta dibarengi dengan data dan solusi. Sehingga gerakan yang dilakukan tidak berhenti pada kritik, tetapi mampu memberikan dampak nyata.

“Kita pastikan tetap kritis, itu sudah menjadi bagian dari MATADEWA. Tapi kritisnya jangan asal kritik. Kita harus punya data, tahu persoalannya dan kalau bisa kita juga harus mampu kasih solusi,” tuturnya.

Sementara itu, Founding Father MATADEWA, Aas Al-Furqani yang hadir dalam Mubes tersebut menekankan agar kepengurusan baru tetap berpegang pada manifesto yang menjadi dasar berdirinya MATADEWA.

Menurut Aas, ruh utama MATADEWA merupakan sebuah pengabdian. Sebab, pengabdian yang dilakukan secara konsisten diyakini akan melahirkan perubahan.

“Pesan saya, MATADEWA harus tetap sesuai dengan manifestonya. Kalau pengabdian menjadi dasar perjuangan, maka dengan segera pergerakan itu akan berbuah perubahan,” kata Aas.

Ia menjelaskan, pengabdian MATADEWA harus dimulai dari lingkungan terdekat, terutama daerah asal organisasi tersebut, yakni Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak.

Namun, menurut Aas, pengabdian MATADEWA tidak boleh berhenti di Wanasalam. Sebagai organisasi mahasiswa, MATADEWA juga harus memiliki tanggung jawab yang lebih luas terhadap bangsa.

“Pengabdiannya bukan hanya untuk Wanasalam, tapi juga untuk bangsa. Jadi mulai dari kampung halaman kita, kemudian kita bawa semangat itu untuk kepentingan yang lebih luas. Karena mahasiswa punya tanggung jawab sosial,” katanya.

Ia berharap kepengurusan baru tidak terjebak pada rutinitas organisasi dan kegiatan seremonial. MATADEWA, kata Aas, harus tetap hidup melalui kerja nyata di tengah masyarakat.

Aas juga mengingatkan agar MATADEWA tetap menjadi ruang yang terbuka bagi mahasiswa untuk berpikir, berdiskusi dan bergerak bersama tanpa kehilangan identitas perjuangannya.

“Intinya jangan kehilangan ruh awal MATADEWA. Kita ini dibangun untuk mengabdi. Kalau pengabdian itu benar-benar dijalankan, saya yakin gerakan teman-teman tidak akan sia-sia dan pada akhirnya akan melahirkan perubahan,” pungkasnya. (*)

Berita Terkait

Discussion about this post