SERANG, BANPOS – Rumah Sakit Budi Asih Serang meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi bencana yang dapat terjadi di Kota Serang. Komitmen tersebut disampaikan dalam kegiatan sosialisasi dan penguatan mitigasi bencana yang melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Serang.
Direktur Rumah Sakit Budi Asih Serang, Tajus Ibrahim, menyampaikan bahwa kesiapsiagaan merupakan hal yang wajib dimiliki setiap institusi, terlebih rumah sakit yang menjadi garda terdepan dalam pelayanan kesehatan saat terjadi keadaan darurat.
“Ya semua harus siap, enggak ada istilah enggak siap kalau bencana ya. Mau rumah sakit, mau institusi daerah atau negara pasti harus siap,” ujarnya kepada awak media, Selasa (21/7).
Menurut Tajus Ibrahim, bencana merupakan peristiwa yang tidak dapat diprediksi oleh siapapun, sehingga seluruh unsur, baik pemerintah maupun lembaga pelayanan publik, harus memiliki sistem kesiapsiagaan yang matang.
Ia menjelaskan, pengalaman yang dimilikinya di bidang penanganan bencana turut menjadi modal dalam membangun sistem kesiapsiagaan di Rumah Sakit Budi Asih.
“Dan saya sendiri kebetulan pembina Tim Bantuan Medis Trisakti dan pelopor pendiri itu juga. Jadi saya sudah siap kalau terjadi apa-apa mereka bikin posko di sini di rumah sakit ini,” katanya.
Oleh sebabnya, rumah sakit telah menyiapkan skenario apabila terjadi keadaan darurat. Salah satunya dengan membuka posko penanganan bencana yang dapat menjadi pusat koordinasi pelayanan medis, penerimaan korban, hingga distribusi bantuan kesehatan.
Lebih lanjut, Tajus menekankan bahwa aspek paling penting dalam menghadapi bencana adalah kesiapan sumber daya manusia (SDM).
“Ya siapin SDM-nya. Kalau yang lain kan nanti biasa suka ada kucuran bantuan obat, bantuan apa sudah pasti itu. Pemda enggak akan tinggal diam. Ya karena ini rumah sakit swasta tentunya butuh dukungan dari Pemda maupun provinsi terkait alokasi obat,” ucapnya.
Ia menjelaskan bahwa tenaga kesehatan merupakan ujung tombak pelayanan saat kondisi darurat. Obat-obatan, logistik, maupun bantuan lainnya dapat dipenuhi melalui dukungan pemerintah, namun tanpa tenaga medis yang siap siaga, pelayanan terhadap korban tidak akan berjalan optimal.
Menurutnya, koordinasi antara rumah sakit swasta dengan pemerintah daerah menjadi sangat penting agar kebutuhan logistik kesehatan dapat segera dipenuhi ketika terjadi bencana berskala besar.
Sebagai pimpinan rumah sakit, Tajus Ibrahim juga membeberkan bahwa dirinya akan memimpin langsung penanganan apabila terjadi keadaan darurat.
“Mungkin kalau kejadian pasti saya standby di sini. Makan tidur di sini kali. Udah pasti karena garis komandonya kalau ada kejadian tanggap darurat bencana di suatu rumah sakit komandonnya itu adalah direktur rumah sakit. Itu enggak boleh panik, udah harus ngasih arahan,” katanya.
Selain kesiapan internal rumah sakit, Tajus juga mengingatkan sejumlah ancaman bencana yang rutin terjadi di Kota Serang.
Menurutnya, banjir menjadi bencana tahunan yang hampir selalu terjadi di sejumlah wilayah Kota Serang. Namun, ia juga menaruh perhatian besar terhadap potensi kebakaran yang dipicu kondisi jaringan kelistrikan yang dinilai belum tertata dengan baik.
Ia berharap penataan infrastruktur kelistrikan dapat menjadi perhatian bersama guna mengurangi risiko kebakaran di kawasan perkotaan. Untuk mengantisipasi gangguan listrik, Rumah Sakit Budi Asih juga telah meningkatkan kapasitas sistem kelistrikannya.
“Saya sudah gardu saya tambah, tadinya satu gardu sekarang sudah dua gardu. Mudah-mudahan enggak terjadi kebakaran karena rumah sakit sangat-sangat konsen terhadap kelistrikan. Mati listrik juga genset tetap hidup,” tutup Tajus Ibrahim. (*)







Discussion about this post