SERANG, BANPOS – Di sebuah rumah sederhana yang mulai rapuh di Lingkungan Karundang Kolektor, RT 02 RW 05, Kelurahan Karundang, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, tersimpan harapan besar seorang nenek untuk masa depan dua cucunya.
Ardi dan Holikul Amin kini menanti keputusan yang akan menentukan apakah mereka dapat terus mengenyam pendidikan melalui Program Sekolah Rakyat (SR).
Dua kakak beradik itu telah lama diasuh sang nenek, Bu Wacih, setelah ditinggalkan kedua orang tuanya yang berpisah dan hingga kini tidak diketahui keberadaannya. Keterbatasan ekonomi membuat keduanya nyaris kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan.
Meski telah diusulkan sebagai calon peserta Sekolah Rakyat, Ardi dan Holikul Amin masih harus menunggu hasil verifikasi pemerintah. Proses tersebut terkendala perbedaan data administrasi kependudukan.
Holikul Amin tercatat dalam kartu keluarga neneknya yang masuk kategori desil satu. Sementara Ardi masih tercantum dalam kartu keluarga orang tuanya yang berdasarkan data sosial berada pada desil tiga, padahal salah satu syarat penerimaan Sekolah Rakyat berasal dari keluarga desil satu atau desil dua.
Penata Layanan Operasional sekaligus Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), Farhah Syibli, mengatakan proses pendampingan terhadap kedua anak tersebut telah dilakukan sejak Mei 2026.
“Penjangkauan Sekolah Rakyat (SR) sudah berjalan sejak Mei. Ardi dan Holikul Amin sudah kami lakukan penjangkauan, datanya sudah masuk ke aplikasi Setara dan sekarang tinggal menunggu SK penetapan,” ujar Farhah, Jum’at (10/7).
Menurut Farhah, Bu Wacih sebenarnya telah meminta agar kedua cucunya didaftarkan ke Sekolah Rakyat sejak Februari. Namun saat itu proses penjaringan belum dibuka sehingga pendataan baru dilakukan ketika program mulai berjalan.
Farhah menjelaskan, kondisi administrasi Ardi tidak menggambarkan keadaan sebenarnya. Meski secara administrasi masih terdaftar dalam kartu keluarga orang tuanya, Ardi telah lama tinggal bersama neneknya setelah kedua orang tuanya berpisah.
“Hasil pendataan sudah kami sampaikan sesuai kondisi yang sebenarnya di lapangan. Saat ini tinggal menunggu hasil verifikasi dan penetapan,” katanya.
Pendampingan yang dilakukan juga mengungkap bahwa kedua anak tersebut memang berada dalam kondisi rentan putus sekolah akibat persoalan ekonomi.
Ardi bahkan hampir menghentikan pendidikannya karena neneknya tidak mampu membiayai kebutuhan sekolah. Berkat bantuan dan perhatian guru-gurunya, ia akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan sekolah dasar dan kini bersiap melanjutkan ke jenjang SMP.
Sementara Holikul Amin yang akan naik ke kelas IV SD juga menghadapi ancaman serupa. Pendamping PKH telah berkoordinasi dengan pihak sekolah yang membenarkan kondisi ekonomi keluarga menjadi hambatan utama.
“Saya beberapa kali datang ke sekolah dan bertemu kepala sekolah. Informasi yang kami terima sama, kedua anak ini memang rentan putus sekolah. Dalam beberapa bulan terakhir saya juga sudah lebih dari enam kali mengunjungi rumah Bu Wacih untuk melakukan pendampingan,” ucap Farhah.
Ia berharap Ardi dan Holikul Amin dapat diterima di Sekolah Rakyat agar memiliki kesempatan mengubah masa depan melalui pendidikan.
“Pendidikan menjadi salah satu jalan untuk memutus mata rantai kemiskinan. Mudah-mudahan mereka bisa diterima,” ujarnya.
Di tengah segala keterbatasan, Bu Wacih tetap berusaha menjadi sandaran bagi tiga cucunya. Namun kemampuannya sangat terbatas.
Karena itu, ia hanya mengusulkan Ardi dan Holikul Amin mengikuti Sekolah Rakyat, sementara satu cucunya yang lain tetap tinggal bersamanya agar memiliki teman di rumah.
Dengan mata yang menyimpan harapan, Bu Wacih mengaku tidak lagi memiliki kemampuan untuk membiayai sekolah kedua cucunya.
“Saya tidak bisa membiayai sekolah mereka. Harapan saya Ardi dan Holikul Amin diterima di Sekolah Rakyat supaya tetap sekolah, jadi anak pintar, sukses, dan saleh,” ujarnya.
Ia berharap pendidikan mampu mengubah nasib kedua cucunya. “Saya ingin mereka jadi orang sukses, jangan seperti neneknya yang hidup serba kekurangan,” katanya.
Harapan yang sama juga tersimpan dalam diri Ardi. Bocah yang sebentar lagi memasuki bangku SMP itu mengaku ingin bersekolah tanpa lagi membebani neneknya.
“Saya memilih Sekolah Rakyat karena nenek tidak mampu membiayai sekolah. Saya ingin mendapat teman baru, fasilitasnya bagus, masih banyak yang ingin saya pelajari dari guru-guru. Harapan saya bisa diterima sampai lulus sekolah dan nanti menjadi orang sukses,” ujar Ardi. (*)







Discussion about this post