SERANG, BANPOS – Pemerintah Kecamatan Kasemen memastikan kondisi pertanian di wilayahnya masih relatif aman dari ancaman kekeringan meski musim kemarau mulai dirasakan di sejumlah daerah di Provinsi Banten.
Ketersediaan air irigasi yang masih mencukupi membuat aktivitas pertanian, khususnya masa panen yang sedang berlangsung, diperkirakan tidak akan mengalami gangguan berarti hingga Agustus mendatang.
Camat Kasemen, Sugiri, mengatakan terdapat beberapa wilayah di Kecamatan Kasemen yang hampir setiap tahun menjadi daerah langganan kekeringan ketika musim kemarau tiba. Wilayah tersebut di antaranya berada di kawasan Sawah Luhur dan Terumbu yang selama ini sangat bergantung pada pasokan air irigasi untuk mengairi lahan pertanian masyarakat.
“Kalau yang biasa mengalami kekeringan itu daerah Sawah Luhur dan Terumbu. Tetapi untuk saat ini, selama masa panen tidak melewati Agustus, insyaallah masih aman,” kata Sugiri saat diwawancarai di ruang kerjanya, Rabu (1/7).
Menurutnya, kondisi tanaman padi milik petani di wilayah Kasemen hingga saat ini masih terlihat baik dan belum menunjukkan tanda-tanda terdampak kekeringan. Berbeda dengan sejumlah daerah lain di Banten yang mulai menghadapi persoalan berkurangnya debit air, petani di Kasemen masih dapat memanfaatkan pasokan air irigasi yang mengalir secara normal.
Sugiri menuturkan, salah satu faktor yang membuat kondisi pertanian di Kasemen masih aman adalah keberadaan jaringan irigasi yang terhubung dengan aliran dari Bendungan Pamarayan. Aliran air tersebut disalurkan melalui saluran Kalimalang dan mengairi sejumlah areal persawahan di wilayah Kasemen hingga ke daerah Kilasah dan sekitarnya.
“Saya lihat irigasinya masih bagus, air juga masih cukup. Aliran dari Bendung Pamarayan sampai ke Kilasah masih berjalan dengan baik,” ujarnya.
Meski demikian, pihak kecamatan tetap mewaspadai kemungkinan terjadinya penurunan debit air apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang dari perkiraan. Kekhawatiran terbesar, kata Sugiri, akan muncul ketika memasuki bulan September hingga Oktober yang bertepatan dengan masa tanam kedua bagi petani.
Pada periode tersebut, kebutuhan air untuk lahan pertanian biasanya meningkat sehingga apabila pasokan air berkurang, maka potensi gangguan terhadap produktivitas pertanian akan semakin besar. Masyarakat setempat sendiri mengenal masa panen kedua tersebut dengan istilah panen cegeran, yakni masa panen ketika harga gabah maupun beras cenderung lebih tinggi dibandingkan musim panen sebelumnya.
“Kalau yang dikhawatirkan itu nanti September sampai Oktober karena sudah masuk masa tanam kedua atau yang biasa disebut masyarakat sebagai panen cegeran,” jelasnya.
Selain sektor pertanian, Sugiri mengungkapkan bahwa perhatian utama pemerintah daerah selama musim kemarau tidak hanya tertuju pada kebutuhan irigasi sawah, tetapi juga terhadap ketersediaan air bersih bagi masyarakat. Menurutnya, persoalan air bersih sering kali menjadi dampak paling dirasakan masyarakat ketika musim kemarau mencapai puncaknya.
Ia menilai kebutuhan dasar masyarakat seperti air minum dan air untuk keperluan mandi, cuci, dan kakus (MCK) harus menjadi prioritas utama penanganan apabila terjadi kekeringan berkepanjangan di wilayah Kasemen.
“Potensi kekeringan yang paling krusial itu masalah air minum dan air bersih untuk kebutuhan mandi, cuci, kakus (MCK). Itu yang paling penting,” tambahnya. (*)







Discussion about this post