Jazuli Tegaskan Dakwah Moderat Jadi Jati Diri Mathla’ul Anwar

BANDUNG, BANPOS – Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Mathla’ul Anwar Masa Khidmat 2026-2031, Jazuli Juwaini, menjelaskan bahwa dakwah Islam yang moderat, toleran, dan mengedepankan kearifan lokal akan tetap menjadi jati diri organisasi yang telah berdiri sejak 1916 tersebut.

Hal itu disampaikan Jazuli dalam Pelantikan PB Mathla’ul Anwar dan Muslimat Mathla’ul Anwar Masa Khidmat 2026-2031 di Gedung Pakuan, Bandung.

Baca Juga

Menurut Jazuli, Mathla’ul Anwar sejak awal lahir membawa misi dakwah Islam yang rahmatan lil alamin, yakni Islam yang menghadirkan manfaat, kedamaian, dan kemaslahatan bagi seluruh umat manusia tanpa memandang latar belakang agama maupun kelompok sosial.

“Dakwah yang dikembangkan oleh Mathla’ul Anwar adalah membawa risalah Islam yang rahmatan lil alamin. Bukan saja rahmat bagi manusia, tetapi juga rahmat bagi alam semesta,” kata Jazuli, Sabtu (20/6).

Ia menjelaskan, dakwah yang diwariskan para pendiri Mathla’ul Anwar bukanlah dakwah yang mengedepankan konfrontasi, tapi dakwah yang menebarkan kesejukan, ketenteraman, dan kebijaksanaan dalam kehidupan bermasyarakat.

“Islam yang kita dakwahkan adalah Islam yang menyebarkan kesejukan, ketenangan, ketenteraman, kenyamanan sekaligus membangun izzah dan kemuliaan umat,” ujarnya.

Jazuli menilai keberhasilan penyebaran Islam di Nusantara tidak dapat dilepaskan dari pendekatan dakwah yang menghormati budaya dan tradisi masyarakat setempat.

Ia mencontohkan tradisi masyarakat Banten yang lebih banyak menggunakan kerbau sebagai hewan kurban dibandingkan sapi. Menurutnya, pilihan tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap masyarakat Hindu pada masa lalu yang memiliki ikatan budaya dengan sapi.

“Islam tidak menghilangkan substansi ibadah kurban, tetapi memilih cara yang lebih bijaksana agar tidak menimbulkan ketegangan sosial. Kurban tetap berjalan, tetapi hewan yang dipilih adalah kerbau,” ujarnya.

Bagi Jazuli, praktik tersebut menunjukkan bahwa dakwah Islam dapat berjalan seiring dengan penghormatan terhadap tradisi dan keberagaman masyarakat tanpa mengurangi nilai-nilai syariat.

Ia juga menyinggung hubungan masyarakat Baduy dengan Kesultanan Banten pada masa lalu sebagai contoh keberhasilan dakwah yang mengedepankan pendekatan damai.

Menurutnya, masyarakat Baduy tetap diberikan ruang untuk mempertahankan tradisinya selama mengakui otoritas pemerintahan Islam yang saat itu berkuasa.

“Ini menunjukkan bahwa para pemimpin Islam terdahulu mengedepankan kebijaksanaan. Tidak ada pemaksaan, tetapi tetap membuka ruang dakwah dengan cara bil hikmah wal mauidzatil hasanah,” katanya.

Jazuli juga menegaskan bahwa nilai toleransi telah menjadi bagian dari sejarah panjang Mathla’ul Anwar.

Ia mengingatkan bahwa sejumlah tokoh Mathla’ul Anwar turut terlibat dalam perjalanan organisasi Islam lainnya, termasuk Nahdlatul Ulama (NU).

“Ini adalah bukti toleransi Mathla’ul Anwar terhadap sesama organisasi Islam dan organisasi masyarakat lainnya,” ujarnya.

Menurutnya, semangat tersebut harus terus dipertahankan di tengah meningkatnya tantangan sosial dan berkembangnya polarisasi di masyarakat.

Karena itu, ia mengajak seluruh kader Mathla’ul Anwar untuk menjaga ukhuwah Islamiyah, ukhuwah insaniyah, dan ukhuwah wathaniyah sebagai fondasi persatuan bangsa.

Senada dengan Jazuli, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai keberhasilan para pendiri Mathla’ul Anwar membangun organisasi besar tidak terlepas dari ketulusan dalam menyebarkan nilai-nilai Islam yang damai.

Menurut Dedi, para pendiri organisasi Islam terdahulu tidak berorientasi pada kekuasaan maupun kepentingan material, justru berangkat dari keikhlasan untuk menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.

“Pendiri Mathla’ul Anwar mampu mengembangkan organisasi di tengah kolonialisme karena niatnya satu, ikhlas mengembangkan Islam sebagai nilai kehidupan yang aman, tenteram, damai, dan rahmatan lil alamin,” kata Dedi.

Ia menilai keikhlasan tersebut menjadi sumber karisma dan kepercayaan masyarakat terhadap para ulama dan tokoh agama pada masa itu.

“Keikhlasan itulah yang melahirkan karisma dan kepercayaan publik,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Dedi juga mengingatkan bahwa dakwah Islam tidak boleh berhenti pada simbol-simbol keagamaan semata.

Menurutnya, esensi ajaran Islam justru terletak pada keberpihakan terhadap keadilan sosial, perlindungan terhadap kaum lemah, dan upaya menciptakan kesejahteraan masyarakat.

“Yang harus kita jaga adalah kejujuran, kebenaran, dan keadilan. Melindungi anak-anak yatim dan orang-orang mustadhafin. Itulah nilai dasar yang diajarkan agama,” katanya.

Dedi mengingatkan bahwa organisasi Islam harus tetap menjadi kekuatan moral yang mampu menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat, terutama di bidang pendidikan dan kesejahteraan sosial.

Baginya, ukuran keberhasilan dakwah bukan terletak pada megahnya bangunan organisasi atau banyaknya atribut yang dimiliki, tapi sejauh mana ajaran Islam mampu diwujudkan dalam tindakan nyata yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

“Kekuatan kita bukan pada warna, bukan pada simbol, bukan pada jumlah jamaah. Kekuatan kita ada pada ruh perjuangan untuk amar makruf nahi mungkar, menjaga kejujuran, kebenaran, dan keadilan,” tegasnya. (*)

Berita Terkait

Discussion about this post