SERANG, BANPOS – Kondisi lingkungan di sepanjang ruas Jalan Jati, Kampung Jerakah, Kelurahan Warung Jaud, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, sangat memprihatinkan akibat maraknya pembuangan sampah liar oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
Tumpukan sampah yang menumpuk di pinggir jalan tersebut kini menjadi keluhan utama warga karena menimbulkan bau busuk menyengat dan berpotensi mengancam kesehatan masyarakat.
Sampah yang didominasi plastik, sisa makanan, kardus bekas, hingga limbah rumah tangga lainnya menumpuk dan sebagian telah menutupi area pinggir jalan.
Ironisnya, kondisi tersebut tetap terjadi meski di sekitar lokasi telah terpasang papan peringatan larangan membuang sampah. Hal itu menunjukkan rendahnya kesadaran sebagian masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
Selain merusak pemandangan, tumpukan sampah tersebut juga mengeluarkan aroma tidak sedap yang sangat mengganggu pengguna jalan maupun warga yang tinggal di sekitar lokasi.
Saat cuaca panas, bau menyengat dari sampah bahkan tercium hingga beberapa meter dari titik pembuangan.
Salah seorang pemilik sawah yang lahannya berada tidak jauh dari lokasi tumpukan sampah, Mahyadi, mengaku geram dengan kondisi tersebut.
Ia mengaku bingung mengapa kawasan pinggir jalan yang berdekatan dengan area persawahan terus dijadikan lokasi pembuangan sampah liar.
“Ya, lokasinya berdekatan dengan sawah saya. Saya juga bingung kenapa sampah bisa terus dibuang di sini. Padahal sudah jelas ada larangan membuang sampah,” ujar Mahyadi kepada BANPOS, Rabu (17/6).
Menurutnya, keberadaan sampah tidak hanya mengganggu kenyamanan warga, tetapi juga berpotensi mencemari lahan pertanian yang menjadi sumber mata pencaharian masyarakat sekitar.
“Semoga pihak terkait segera mengangkut tumpukan sampah ini agar pengguna jalan tidak lagi mencium bau busuk saat melintas dan sawah kami tidak tercemari,” harapnya.
Keluhan serupa juga disampaikan warga setempat. Mereka menilai persoalan sampah liar tersebut sudah berlangsung cukup lama tanpa penanganan yang maksimal.
Jepri mengungkapkan bahwa tumpukan sampah tersebut telah berada di lokasi selama kurang lebih enam bulan. Selama itu pula warga harus menghadapi dampak lingkungan yang ditimbulkan.
“Sudah hampir enam bulan tumpukan ini dibiarkan. Kalau terus seperti ini saya khawatir akan mengundang bibit penyakit dan menjadi sarang lalat maupun tikus,” katanya.
Ia menjelaskan, saat musim hujan tiba kondisi akan menjadi lebih buruk karena air lindi yang berasal dari sampah berpotensi meresap ke dalam tanah dan mencemari lingkungan sekitar.
“Apalagi sekarang musim hujan. Air lindi dari sampah itu pasti meresap ke tanah. Kalau terus dibiarkan, bukan tidak mungkin berdampak pada kesehatan masyarakat dan lingkungan sekitar,” ujarnya.
Warga berharap pemerintah daerah melalui instansi terkait dapat segera mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Menurut mereka, pengangkutan sampah saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan pengawasan dan penegakan aturan yang tegas.
Masyarakat juga meminta adanya patroli atau pengawasan rutin di titik-titik yang kerap dijadikan lokasi pembuangan sampah liar. Pasalnya, setelah sampah diangkut, tidak lama kemudian lokasi tersebut kembali dipenuhi sampah baru yang diduga dibuang pada malam atau dini hari.
“Pemerintah perlu memberikan sanksi tegas kepada pelanggar yang tertangkap tangan membuang sampah sembarangan. Tanpa efek jera, budaya buang sampah liar ini akan terus berulang,” tegas Jepri. (*)







Discussion about this post