SERANG, BANPOS – Di tengah kesibukan menyelesaikan skripsi dan menghadapi berbagai tuntutan sebagai mahasiswa semester akhir, Najmudin memilih jalan yang tidak biasa.
Pria kelahiran Desa Cilangkap, Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak itu kini serius menekuni usaha berjualan es kelapa muda di kawasan Ciwaktu, Kelurahan Sumurpecung, Kecamatan Serang, Kota Serang.
Setiap hari, sejak pukul 07.00 WIB hingga 22.00 WIB, mahasiswa Universitas Prigmagraha (UPG) ini melayani para pelanggan yang datang untuk menikmati segarnya es kelapa muda yang ia jual dengan harga terjangkau.
Satu cup es kelapa muda dibanderol Rp5.000, sementara satu butir kelapa muda dijual Rp10.000. Dari satu buah kelapa muda, ia mampu menghasilkan sekitar lima cup minuman yang siap dijual kepada konsumen.
Di balik kesederhanaan lapak es kelapa muda itu, tersimpan kisah perjuangan seorang mahasiswa yang berusaha bertahan dan mandiri di tengah kebutuhan ekonomi serta tuntutan pendidikan yang harus diselesaikan.
Najmudin mengaku, sebelum menjalankan usaha ini dirinya sempat bekerja di Tangerang. Saat itu aktivitas perkuliahan masih memungkinkan untuk dijalani dari jarak jauh sehingga ia dapat bekerja sambil tetap mengikuti proses belajar.
Namun kondisi berubah ketika memasuki tahap akhir perkuliahan. Kegiatan penyusunan skripsi dan bimbingan dengan dosen membuatnya harus lebih sering berada di kampus.
Situasi itu membuatnya harus meninggalkan pekerjaan sebelumnya dan mencari alternatif penghasilan yang lebih fleksibel.
“Tadinya saya bekerja di Tangerang, namun karena saya sekarang semester akhir kuliah jadi harus sering ke kampus untuk menyusun dan bimbingan skripsi. Kalau dulu kan pembelajarannya masih banyak yang online, jadi saya bisa tetap bekerja di Tangerang,” ujar Najmudin kepada BANPOS, Senin (15/6).
Keputusan meninggalkan pekerjaan bukanlah hal mudah. Di satu sisi ia harus fokus menyelesaikan pendidikan, namun di sisi lain kebutuhan hidup sehari-hari tetap harus dipenuhi. Dari kondisi itulah muncul ide untuk membuka usaha es kelapa muda.
Menurutnya, berjualan menjadi pilihan yang paling memungkinkan karena waktu kerjanya bisa disesuaikan dengan jadwal kuliah dan bimbingan skripsi.
Selain itu, usaha tersebut dapat dijalankan secara mandiri tanpa harus terikat dengan jam kerja perusahaan.
“Ya mau gimana lagi, saya harus punya cara untuk membiayai kebutuhan saya. Hitung-hitung belajar mandiri juga,” katanya.
Najmudin tidak ingin menjadikan kondisi sebagai alasan untuk berhenti berusaha.
Sebaliknya, ia melihat tantangan ekonomi sebagai kesempatan untuk belajar membangun usaha sendiri sekaligus mengasah kemampuan berwirausaha sejak masih berstatus mahasiswa.
Usaha yang baru berjalan sekitar dua bulan itu memang belum menghasilkan omzet besar. Namun Najmudin tetap bersyukur karena perlahan usahanya mulai dikenal masyarakat sekitar.
Ia mengungkapkan, saat ini rata-rata sekitar 15 butir kelapa muda terjual setiap hari. Meski jumlahnya masih relatif kecil, angka tersebut menjadi modal optimisme bagi dirinya untuk terus mengembangkan usaha.
“Karena saya baru sekitar dua bulan buka, jadi baru sekitar 15 kelapa muda yang terjual per harinya,” ujarnya.
Jika dihitung secara sederhana, dari 15 buah kelapa muda yang masing-masing dapat menghasilkan lima cup minuman, maka terdapat sekitar 75 cup yang bisa dijual setiap hari.
Dengan harga Rp5.000 per cup, omzet kotor yang diperoleh bisa mencapai Rp375.000 per hari.
Meski demikian, Najmudin menjelaskan bahwa pendapatan tersebut tidak selalu tetap karena sebagian pembeli memilih membeli kelapa muda secara utuh, bukan dalam bentuk cup.
“Satu kelapa itu bisa dijadikan lima cup. Satu cup saya jual lima ribu rupiah, jadi kalau dikali bisa sekitar tiga ratus tujuh puluh lima ribu rupiah per hari. Tapi tidak tentu juga karena suka ada yang beli satuan,” jelasnya.
Bagi Najmudin, pencapaian saat ini bukan semata-mata soal keuntungan. Yang lebih penting adalah bagaimana usaha tersebut dapat terus berjalan dan berkembang seiring waktu. Ia memahami bahwa membangun usaha membutuhkan proses panjang, konsistensi, serta kesabaran.
Salah satu hal yang membuatnya semakin bersemangat adalah dukungan dari teman-teman kampus yang menjadi pelanggan setia.
Setiap kali selesai mengikuti bimbingan atau aktivitas perkuliahan, sejumlah mahasiswa kerap mampir ke lapaknya untuk membeli es kelapa muda.
Kondisi ini membuat lapak sederhana milik Najmudin tidak hanya menjadi tempat berjualan, tetapi juga ruang pertemuan dan interaksi bagi sesama mahasiswa.
Di tengah persaingan usaha minuman yang semakin ketat, Najmudin memilih mempertahankan harga yang terjangkau agar dapat dinikmati berbagai kalangan.
Najmudin percaya bahwa pelayanan yang baik, kualitas produk yang segar, serta kejujuran dalam berusaha menjadi kunci utama untuk mempertahankan pelanggan.
Ke depan, Najmudin berharap penjualan es kelapa mudanya dapat lebih stabil dan terus meningkat. Ia bertekad untuk tetap menekuni usaha tersebut meskipun nantinya telah menyelesaikan pendidikan.
“Mudah-mudahan ke depannya bisa stabil penjualannya setiap hari. Insyaallah akan terus saya tekuni jualan ini, karena prinsip saya pekerjaan yang baik adalah pekerjaan yang dilakukan oleh tangan sendiri,” tuturnya. (*)







Discussion about this post