RANGKASBITUNG, BANPOS – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax dikeluhkan para pengemudi ojek online (ojol) di Kabupaten Lebak.
Kondisi tersebut dinilai semakin memberatkan karena banyak Pertamini yang selama ini menjadi alternatif pengisian bahan bakar kini tidak lagi beroperasi.
Ketua Umum Baraya Driver Rangkas (B.D.R), Oky Aneksi atau yang akrab disapa Bokir, mengatakan kenaikan harga BBM berdampak langsung terhadap biaya operasional para pengemudi yang setiap hari mengandalkan sepeda motor untuk mencari nafkah.
“Yang paling terasa tentu biaya operasional harian. Kami bekerja di jalan dan sangat bergantung pada BBM. Ketika harga Pertamax naik, otomatis pengeluaran kami juga ikut naik,” kata Bokir, Kamis (11/6).
“Karena tidak selamanya kami pakai pertalite, untuk kecepatan pelayanan kami juga kalau sedang dapat orderan tidak bisa menunggu antre lama kan,” lanjutnya.
Menurutnya, para pengemudi tidak memiliki banyak pilihan selain tetap membeli bahan bakar agar dapat bekerja. Sementara di sisi lain, pendapatan dari layanan transportasi maupun pengantaran makanan tidak mengalami kenaikan yang signifikan.
Bokir menjelaskan, kondisi semakin sulit karena banyak Pertamini yang sebelumnya mudah dijangkau pengemudi kini tutup. Akibatnya, pengemudi harus mencari SPBU yang lokasinya lebih jauh dan terkadang harus mengantre.
“Dulu kalau bensin hampir habis bisa langsung isi di Pertamini terdekat. Sekarang banyak yang tutup, jadi harus ke SPBU. Selain menambah jarak tempuh, waktu untuk mencari order juga berkurang,” ujarnya.
Ia menilai situasi tersebut membuat penghasilan pengemudi semakin tergerus. Sebab, biaya operasional meningkat sementara waktu produktif di jalan berkurang.
“Kalau pengeluaran bertambah tapi pendapatan tetap, tentu yang dirasakan adalah berkurangnya penghasilan bersih yang dibawa pulang,” katanya.
Bokir berharap pemerintah dapat mempertimbangkan dampak kenaikan BBM terhadap pekerja sektor informal, termasuk pengemudi ojek online yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas di jalan.
“Kami berharap ada perhatian terhadap nasib para driver. Jangan sampai kebijakan yang diambil justru semakin menekan masyarakat kecil yang setiap hari berjuang mencari nafkah,” tandasnya. (*)







Discussion about this post