Di Balik Label Pangan: Fungsi Analisis Pangan dalam Melindungi Konsumen

TREN hidup sehat semakin populer di masyarakat. Banyak produk makanan kemasan yang kini hadir dengan berbagai klaim seperti tinggi protein, rendah gula, sumber serat, banyak vitamin, dan rendah lemak. Produk-produk ini mudah ditemukan di minimarket, supermarket, atau toko online yang banyak dikunjungi orang. Banyak orang memilih produk berdasarkan desain kemasan yang menarik dan informasi yang ditampilkan di bagian depan produk.

Kepercayaan terhadap berbagai klaim tersebut seringkali bergantung pada satu hal yang mungkin tidak banyak orang tahu, yaitu proses pengujian yang dilakukan sebelum produk dijual. Banyak orang mengira bahwa informasi pada label hanyalah sebuah trik dari suatu pemasaran. Padahal, setiap angka dan keterangan yang dicantumkan memiliki kaitan erat dengan hak kita sebagai konsumen untuk mendapatkan informasi yang akurat tentang produk pangan yang akan kita konsumsi

Baca Juga

Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan semakin meningkat, sehingga membuat orang lebih peduli dengan informasi tentang makanan yang akan dikonsumsi. Banyak konsumen yang kini membandingkan kandungan protein, gula, lemak, maupun natrium sebelum membeli suatu produk. Beberapa orang bahkan memilih produk tertentu karena alasan kesehatan atau kebutuhan gizi khusus. Kondisi ini sejalan dengan meningkatnya perhatian terhadap penyakit tidak menular di Indonesia. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, 34,1% penduduk Indonesia mengidap hipertensi, 8,5% mengidap diabetes melitus, dan 10,9% stroke. Angka- angka ini menunjukkan bahwa pola konsumsi masyarakat berpengaruh besar terhadap kesehatan jangka panjang.

Validitas informasi pangan sangat penting dan tidak dapat dipisahkan dari analisis pangan.  Analisis pangan adalah bagian dari ilmu pangan yang mempelajari cara menguji dan menentukan kandungan berbagai komponen dalam makanan segar maupun olahan, seperti yang dikemukakan oleh Purwasih pada tahun 2021. Penggunaan metode ini membuat kita dapat mengidentifikasi berbagai komponen, seperti protein, lemak, karbohidrat, gula, air, mineral, dan senyawa lainnya sebelum produk tersebut dijual kepada masyarakat. Setelah pengujian selesai, hasilnya digunakan untuk membuat informasi tentang nilai gizi dan berbagai klaim yang tercantum pada kemasan produk.

Informasi nilai gizi pada kemasan produk bukan hanya sekadar hiasan atau iklan. Angka-angka tersebut adalah hasil pengujian laboratorium yang dilakukan sebelum produk dijual. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mewajibkan semua produsen makanan untuk mencantumkan informasi nilai gizi pada berbagai produk pangan olahan melalui Peraturan BPOM Nomor 26 Tahun 2021 tentang Informasi Nilai Gizi pada Label Pangan Olahan. Ketentuan tersebut bertujuan memberikan informasi yang jelas mengenai kandungan gizi produk sehingga masyarakat dapat memilih pangan yang sesuai dengan kebutuhan gizinya. Keberadaan informasi nilai gizi membantu masyarakat memahami kandungan produk yang akan dikonsumsi dan menjadi pertimbangan dalam menentukan pilihan pangan sehari-hari.

Peran analisis pangan tidak berhenti pada penentuan kandungan gizi. Pengujian laboratorium juga dilakukan untuk memastikan keamanan dan mutu produk pangan. Keberadaan cemaran mikroba, residu bahan kimia, logam berat, maupun penggunaan bahan tambahan pangan yang melebihi batas yang diizinkan dapat diketahui melalui proses analisis. Pengujian tersebut menjadi bagian penting dalam mencegah beredarnya produk yang berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat.

Perkembangan industri pangan saat ini sangat pesat, sehingga kebutuhan akan analisis pangan juga semakin besar. Banyak produk pangan yang kini banyak beredar di pasar, termasuk produk dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Provinsi Banten memiliki letak yang strategis di ujung barat Pulau Jawa dan didukung oleh infrastruktur yang terus berkembang, sehingga memiliki potensi ekonomi dan industri yang besar, seperti yang disampaikan oleh Irtiyah et al. pada tahun 2025. Jika mutu, keamanan dan informasi produk dapat dibuktikan melalui proses pengujian yang memadai, maka kepercayaan konsumen terhadap produk lokal akan semakin meningkat.

Masyarakat sebagai konsumen masih memiliki peran penting dalam memanfaatkan informasi yang tersedia pada kemasan produk. Klaim seperti tinggi protein atau rendah lemak dapat menjadi informasi awal, tetapi informasi nilai gizi memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai kandungan suatu produk. Membiasakan diri membaca label pangan sebelum membeli produk merupakan langkah sederhana yang dapat membantu konsumen membuat keputusan yang lebih bijak.

Analisis pangan dilakukan di laboratorium dan sering kali tidak terlihat oleh masyarakat. Namun, manfaatnya dapat dirasakan secara langsung melalui tersedianya informasi yang akurat, produk yang lebih aman, serta jaminan mutu yang lebih baik. Setiap label pada kemasan pangan yang kita beli sebenarnya melalui proses pengujian yang ketat dengan tujuan untuk melindungi konsumen dari produk yang tidak aman. Analisis tidak hanya penting bagi industri, tetapi juga bagi masyarakat. Kita berhak mendapatkan pangan yang aman, bermutu, dan sesuai dengan informasi yang diberikan pada label.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2021). Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 26 Tahun 2021 tentang Informasi Nilai Gizi pada Label Pangan Olahan. Jakarta: BPOM RI. https://jdih.pom.go.id/preview/slide/1313/26/2021/1000

Irtiyah, K., A. Rustamana, S. N. Ramadita, A. Azzara, F. Zahra, Q. A. Az-Zahra, dan M. Badrussalam. 2025. Potensi Ekonomi dan Industri Dan Infrastruktur Pembangunan di Banten. COMSERVA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, 5(6): 1655-1665.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. https://repository.badankebijakan.kemkes.go.id/id/eprint/3514/

Purwasih, R. 2021. Analisis Pangan. Subang: POLSUB PRESS.

Berita Terkait

Discussion about this post