Selama Ini Kita Salah? Makanan Lewat Tanggal Kemasan Belum Tentu Harus Dibuang

PERNAHKAH Anda membuang sebungkus biskuit, susu, atau roti hanya karena tanggal pada kemasannya telah lewat satu atau dua hari? Jika iya, Anda tidak sendirian. Banyak orang menganggap bahwa begitu tanggal pada kemasan terlewati, makanan otomatis menjadi berbahaya dan harus dibuang. Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian.

Kesalahpahaman sederhana ini ternyata memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada yang dibayangkan. Di Indonesia, jumlah susut dan sisa pangan (food loss and waste) mencapai sekitar 23–48 juta ton per tahun, setara dengan 115–184 kilogram per orang per tahun. Jumlah tersebut bahkan diperkirakan cukup untuk memberi makan 61–125 juta orang setiap tahunnya.

Baca Juga

Ironisnya, sebagian makanan yang dibuang sebenarnya masih layak dikonsumsi. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya pemahaman masyarakat terhadap informasi tanggal yang tertera pada kemasan. Di sinilah peran analisis pangan menjadi sangat penting, meskipun sering kali tidak disadari oleh konsumen.

Angka Kecil yang Menentukan Nasib Makanan

Ketika melihat tanggal pada kemasan, banyak orang mengira angka tersebut dibuat berdasarkan perkiraan produsen. Padahal, sebelum suatu produk dipasarkan, perusahaan harus melakukan berbagai pengujian ilmiah untuk menentukan berapa lama produk tersebut dapat mempertahankan mutu dan keamanannya.

Proses ini dikenal sebagai analisis umur simpan (shelf life analysis), salah satu bagian dari analisis pangan yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Melalui analisis ini, produk diuji secara berkala selama masa penyimpanan untuk mengetahui kapan kualitasnya mulai menurun dan kapan produk tidak lagi aman dikonsumsi.

Dengan kata lain, tanggal yang kita lihat pada kemasan bukan sekadar angka, melainkan hasil dari serangkaian pengujian laboratorium yang panjang.

Bagaimana Analisis Pangan Menentukan Umur Simpan?

Dalam analisis umur simpan, para peneliti mengamati berbagai perubahan yang terjadi pada produk selama penyimpanan. Jumlah mikroorganisme, kadar air, tingkat keasaman (pH), warna, aroma, rasa, hingga tekstur produk dipantau secara berkala. Hasil pengamatan tersebut kemudian digunakan untuk menentukan batas mutu dan keamanan produk.

Sebagai contoh, keripik yang menyerap uap air dari lingkungan akan kehilangan kerenyahannya. Susu dapat mengalami perubahan kualitas akibat pertumbuhan mikroorganisme. Minyak goreng yang disimpan terlalu lama dapat mengalami oksidasi dan menjadi tengik. Semua perubahan tersebut dapat diukur melalui analisis pangan sehingga produsen dapat menentukan umur simpan produk secara lebih akurat.

Tanpa analisis pangan, produsen tidak akan memiliki dasar ilmiah untuk mencantumkan tanggal pada kemasan produk yang dijual kepada masyarakat.

Tidak Semua Tanggal Berarti Produk Berbahaya

Bagian yang paling sering disalahpahami konsumen adalah perbedaan antara label best before dan use by.

Label best before umumnya menunjukkan batas waktu kualitas terbaik suatu produk. Setelah tanggal tersebut terlewati, kualitas produk mungkin mulai menurun, misalnya tekstur menjadi kurang renyah atau aroma tidak sekuat sebelumnya. Namun produk belum tentu langsung berbahaya untuk dikonsumsi apabila masih disimpan dengan baik.

Sebaliknya, label use by lebih berkaitan dengan aspek keamanan pangan, terutama pada produk yang mudah rusak seperti susu segar, daging, atau makanan siap saji. Oleh karena itu, memahami arti label menjadi sama pentingnya dengan melihat tanggalnya.

Kesalahan memahami informasi ini menyebabkan banyak makanan dibuang sebelum benar-benar mencapai kondisi tidak layak konsumsi.

Ketika Food Waste Menjadi Masalah Nasional

Membuang makanan mungkin terlihat sebagai tindakan kecil. Namun jika dilakukan oleh jutaan rumah tangga setiap hari, dampaknya menjadi sangat besar.

Kajian Bappenas menunjukkan bahwa kerugian ekonomi akibat food loss dan food waste di Indonesia diperkirakan mencapai Rp213–551 triliun per tahun, atau sekitar 4–5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Selain itu, makanan yang terbuang juga menghasilkan emisi gas rumah kaca dan memperbesar tekanan terhadap lingkungan.

Artinya, kesalahan memahami tanggal pada kemasan tidak hanya merugikan kantong konsumen, tetapi juga berdampak pada ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan.

Analisis Pangan yang Bekerja di Balik Layar

Ketika mendengar istilah analisis pangan, banyak orang membayangkan laboratorium dengan alat-alat rumit dan proses yang hanya dilakukan oleh ilmuwan. Padahal, salah satu hasil analisis pangan yang paling sering ditemui masyarakat setiap hari adalah informasi umur simpan pada kemasan makanan.

Sayangnya, hasil analisis tersebut justru sering disalahartikan. Masyarakat lebih fokus pada tanggal yang tertera dibanding memahami makna di baliknya. Padahal, angka tersebut merupakan hasil pengujian ilmiah yang bertujuan membantu konsumen membuat keputusan yang lebih tepat.

Saatnya Menjadi Konsumen yang Lebih Cerdas

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan, memahami informasi sederhana pada kemasan makanan menjadi keterampilan yang penting. Sebelum membuang suatu produk, konsumen perlu memahami jenis label yang digunakan, memperhatikan kondisi fisik produk, serta memastikan produk disimpan sesuai petunjuk.

Pada akhirnya, analisis pangan bukan hanya soal laboratorium dan angka-angka ilmiah. Analisis pangan hadir dalam kehidupan sehari-hari melalui informasi kecil yang sering kita abaikan.

Memahami bagaimana tanggal pada kemasan ditentukan bukan hanya membantu kita mengurangi pemborosan makanan, tetapi juga membuat kita menjadi konsumen yang lebih bijak, hemat, dan bertanggung jawab.

Berita Terkait

Discussion about this post