SAAT ini, panggung seni Kota Serang menjadi saksi bisu runtuhnya dinding pembatas antara keterbatasan fisik dan kreativitas. Selanjutnya, puluhan siswa disabilitas SKH Negeri 2 bersinergi bersama pelajar SMP Negeri 15 membawakan harmoni gerak memukau.
“Seni adalah milik semua tanpa terkecuali,” ujar Ketua Pelaksana Agnia Khoirunnisa dalam sambutannya di tengah keriuhan penonton.
Sebelumnya, para penari mengikuti pelatihan intensif untuk menyatukan perasaan mereka dalam balutan tari kreasi Banten. Kemudian, penyelenggara menggunakan pendekatan hati ke hati agar pesan moral pertunjukan tersampaikan secara utuh kepada seluruh audiens.
“Setiap gerak yang tercipta merupakan bahasa jiwa,” kata Ketua Pelaksana Agnia Khoirunnisa sembari memberikan apresiasi tinggi.
Kenyatannya, kolaborasi lintas sekolah ini membuktikan bahwa panggung estetika merupakan ruang inklusif milik bersama seluruh elemen masyarakat. Setelahnya, perbedaan latar belakang siswa justru menjadi warna yang memperkaya karya seni asli daerah Banten tersebut.
“Kegiatan ini mampu memberikan inspirasi dan mempererat kebersamaan kita,” tegas Ketua Pelaksana Agnia Khoirunnisa penuh semangat.
Sementara itu, Balai Pelestarian Kebudayaan Banten turut memberikan dukungan penuh terhadap kemajuan kebudayaan lokal yang sangat inklusif. Bahkan, kehadiran para pejabat terkait mempertegas pentingnya sinergi antara instansi pemerintah dengan para orang tua siswa.
“Selamat dan semangat terus berkarya dalam bidang kebudayaan,” ungkap Kepala BPK Banten Swedhi Hananta memotivasi peserta.
Akhirnya, pentas seni tersebut mengubah paradigma publik dalam memandang potensi luar biasa dari para penyandang disabilitas. Pastinya, narasi keberagaman ini menyatu dalam bahasa universal bernama seni yang berdaulat atas ekspresi murni setiap manusia.
“Kami berharap masyarakat semakin mencintai nilai kemanusiaan melalui keindahan pertunjukan ini,” pungkas Ketua Pelaksana Agnia Khoirunnisa. (*)







Discussion about this post