PANGGARANGAN, BANPOS – Saat ini, puluhan pemuda Bayah menggali kembali pengetahuan leluhur demi menghadapi ancaman gempa dan tsunami. Selanjutnya, lokakarya ‘Indigenous School for Disaster Preparedness’ ini menjadi fondasi membangun masyarakat tangguh bencana di Banten Selatan.
“Program ini membawa kekuatan pengetahuan masyarakat Bayah ke ruang pembelajaran yang lebih luas,” ujar Penanggungjawab Kegiatan Sucia Lisdamara.
Sebelumnya, sebanyak 30 peserta dari kalangan mahasiswa dan siswa mengikuti pelatihan intensif di Villa Hejo Kiarapayung. Kemudian, seluruh peserta mempelajari integrasi perspektif ilmiah dengan nilai budaya lokal dalam menghadapi risiko bencana alam.
“Kami berusaha menghidupkan kembali pengetahuan lokal sebagai upaya memperkuat kapasitas pemuda adat,” tambah Penanggungjawab Kegiatan Sucia Lisdamara.
Sementara itu, BPBD Provinsi Banten bersama pakar riset memberikan pembekalan teknis mengenai penyelamatan diri saat situasi darurat. Bahkan, para ahli mengingatkan masyarakat untuk memanfaatkan waktu emas secara maksimal guna menghindari dampak fatal tsunami.
“Waktu tersedia harus digunakan maksimal untuk menyelamatkan diri terutama saat terjadi tsunami,” tegas Asep Mulya Hidayat selaku perwakilan dari BPBD Provinsi Banten.
Kenyatannya, alam merupakan ruang kehidupan yang memiliki potensi bahaya nyata namun tetap bisa kita mitigasi secara tepat. Setelahnya, peserta mendalami konsep Smong sebagai bentuk warisan turun-temurun dalam mengenali tanda-tanda alam sebelum tsunami datang.
“Alam bukan sumber bencana melainkan sebuah bahaya yang harus kita hadapi dengan praktik pengetahuan,” kata Peneliti BRIN Dr. Herry Yogaswara.
Angkat Narasi Bayah Dikumbah
Selain itu, budayawan setempat mengangkat narasi Bayah Dikumbah sebagai memori kolektif masyarakat terhadap potensi tsunami masa lalu. Alhasil, pemahaman tradisi Sunda memandang bencana sebagai siklus kehidupan yang berkaitan erat dengan perilaku manusia terhadap alam. Faktanya, “Bencana terjadi ketika manusia mulai melupakan nilai-nilai peradaban dan keseimbangan alam,” ungkap Budayawan Anis Faisal Reza.
Akhirnya, para peserta merumuskan langkah konkret berupa penyusunan modul mitigasi berbasis kearifan lokal bagi anak-anak sekolah. Pastinya, kolaborasi lintas generasi ini memastikan warisan leluhur tetap relevan dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan zaman. Kesimpulannya, “Seluruh tahapan ini memperkuat kapasitas pemuda sebagai pelaku utama edukasi kebencanaan di Bayah,” pungkas Penanggungjawab Kegiatan Sucia Lisdamara.
Tentunya, kekuatan pengetahuan lokal menjadi benteng pertahanan utama bagi keberlangsungan hidup masyarakat pesisir di masa depan. Sekarang, gerakan kolektif ini membuktikan bahwa teknologi modern wajib bersanding dengan kearifan lokal dalam mengurangi risiko bencana. Harapannya, “Modul pembelajaran ini dapat membangun kesadaran kolektif anak-anak sejak usia dini,” tutup Penanggungjawab Kegiatan Sucia Lisdamara. (*)







Discussion about this post