AROMA keringat bercampur debu tipis menghiasi sesi latihan sore di sudut sebuah lapangan tanah. Selanjutnya, seorang pria berseragam merah Tapak Suci berdiri tegak memandu puluhan anak dengan tatapan penuh wibawa.
“Saya belajar bahwa sukses merupakan tentang seberapa kuat kita menahan perih untuk tetap berdiri,” ujar Pelatih Rohimi.
Sebelumnya, sosok tangguh ini hanyalah seorang bocah kecil dengan lutut gemetar saat pertama kali menginjak matras. Kemudian, pelatih senior bernama Anies memberikan pertanyaan retoris yang membakar semangat juang sang pesilat cilik tersebut.
“Saya ingat betul kaki rasanya mau copot saat menerima ratusan kali tendangan modal awal,” kenang Pelatih Rohimi.
Kenyatannya, ratusan tendangan tersebut menjadi kontrak tak tertulis yang harus dibayar mahal dengan cucuran keringat setiap hari. Setelahnya, repetisi gerakan yang membosankan perlahan meresap ke dalam jiwa hingga menjadi memori otot yang melekat kuat.
“Pelatih selalu meminta saya menambah satu tendangan lagi demi masa depan yang lebih cerah,” ungkap Pelatih Rohimi.
Kini, sabuk yang melingkar di pinggangnya bukan lagi sekadar simbol pencarian jati diri melainkan tanda pengabdian tulus. Bahkan, Rohimi kini berdiri di barisan depan membimbing wajah-wajah polos yang mengingatkan pada masa kecilnya dahulu.
“Sekarang saya ingin mereka menjadi juara dalam kehidupan bukan hanya di dalam gelanggang,” ucap Pelatih Rohimi.
Lahirkan Generasi Pesilat Tangguh
Selain itu, ia menanamkan filosofi iman dan akhlak agar muridnya tumbuh menjadi pribadi yang disiplin serta rendah hati. Padahal, visi besarnya adalah melahirkan generasi pesilat tangguh yang memiliki jiwa pengabdian tanpa mengharap imbalan materi.
“Sukses sejati terjadi saat melihat murid tetap jujur bertanding dan tegar saat mengalami kekalahan,” tutur Pelatih Rohimi.
Akhirnya, prestasi demi prestasi mulai mengalir deras di bawah bimbingan tangan dingin sang mantan pesilat cilik ini. Pastinya, medali hanyalah bonus karena pencapaian sesungguhnya adalah melihat muridnya bermanfaat bagi masyarakat luas di sekitarnya.
“Harapanya Semua orang bisa sukses asalkan mereka memiliki kemauan keras untuk terus berusaha,” tegas Pelatih Rohimi mengingatkan.
Tentunya, estafet kebaikan ini akan terus berlanjut melampaui waktu melalui lingkaran kecil diskusi setelah latihan berakhir. Sekarang, pertanyaan sakral yang dulu mengubah hidupnya kembali menggema di telinga para pesilat muda yang sedang berjuang.
“Kami tahu bahwa semangat juang ini akan tetap hidup melampaui diri saya sendiri,” pungkas Pelatih Rohimi. (*)







Discussion about this post