SERANG, BANPOS – Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara Perguruan Tinggi Keagamaan (PTK) se-Indonesia Tahun 2026 resmi dibuka di Auditorium lantai tiga UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten.
Dengan mengusung tema “Merawat Ekoteologi, Menjaga Tradisi: Meneguhkan Iman, Melestarikan Alam”, kegiatan tersebut tentunya menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sosial dan lingkungan.
Rektor UIN SMH Banten, Prof. Muhammad Ishom, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas kehadiran Menteri Agama RI Prof. KH. Nasaruddin Umar dalam kegiatan tersebut.
Menurutnya, kehadiran Menteri Agama menjadi momentum penting bagi penguatan kualitas dan perkembangan UIN SMH Banten menuju perguruan tinggi bertaraf internasional.
“Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada guru kita Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar yang berkenan hadir di tengah-tengah kampus UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Mudah-mudahan dengan kehadiran beliau UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten akan cepat melesat ke level internasional,” ujar Ishom dalam sambutannya, Rabu (15/7).
Menurut Ishom, dukungan dan arahan dari Menteri Agama menjadi energi positif bagi civitas akademika UIN SMH Banten untuk terus meningkatkan mutu pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.
Ia berharap kehadiran tokoh nasional seperti KH. Nasaruddin Umar dapat memberikan inspirasi bagi mahasiswa agar tidak hanya unggul dalam akademik, tapi juga memiliki kepedulian sosial yang kuat.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Muhammad Ishom juga melaporkan pelaksanaan Kukerta tahun 2026 yang melibatkan ribuan mahasiswa UIN SMH Banten. Dari total peserta, sebagian besar telah diberangkatkan ke berbagai wilayah pengabdian, sementara sebagian lainnya mengikuti program KKN Nusantara bersama mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi keagamaan di Indonesia.
“Alhamdulillah pada tahun ini peserta Kukerta secara umum adalah 1.400. 1.200 sudah kami lepas tadi pagi berhubung Pak Camat sudah menunggu di masing-masing kantor kecamatan. Dan tersisa ini adalah peserta Kukerta Nusantara yang totalnya 240,” kata Isom.
Ia menjelaskan bahwa pelaksanaan Kukerta merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat.
Selanjutnya, Prof. Ishom menjelaskan alasan pemilihan wilayah Baduy sebagai lokasi KKN Nusantara. Menurutnya, masyarakat Baduy memiliki nilai-nilai kehidupan yang selaras dengan konsep ekoteologi, yakni hubungan antara manusia, agama, dan alam.
“Mudah-mudahan dari seluruh penjuru Indonesia yang telah atau yang akan merencanakan Kukerta di tanah Baduy banyak mendapatkan hikmah dan pembelajaran,” ujarnya.
“Karena sesungguhnya kita sengaja memilih tema merawat ekoteologi karena pada dasarnya orang Baduy itu memiliki nilai-nilai ekologis yang luar biasa,” lanjutnya.
Menurut Isom, masyarakat Baduy telah lama menerapkan prinsip menjaga keseimbangan alam melalui aturan adat yang diwariskan secara turun-temurun.
Ia menjelaskan bahwa di wilayah Baduy terdapat masyarakat Baduy Dalam yang masih mempertahankan adat secara ketat, serta Baduy Luar yang lebih terbuka terhadap perkembangan zaman.
“Di Baduy ada kampung Baduy Dalam, ada kampung Baduy Luar. Kalau Baduy Dalam memang total segala yang berbentuk modernisasi ditolak. Tapi kalau Baduy Luar masih seperti kita. Kenapa? Karena ingin menjaga kelestarian lingkungan,” jelasnya.
Sementara itu, dalam arahan Menteri Agama RI KH. Nasaruddin Umar mengingatkan mahasiswa bahwa seorang pencari ilmu tidak cukup hanya berhenti pada kemampuan akademik.
Menurutnya, puncak dari pendidikan adalah melahirkan sosok cendekiawan yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Sebentar lagi akan kita lepaskan ke medan perjuangan untuk membuktikan bahwa Anda bukan sekadar ilmuwan, bukan sekadar intelektual, tetapi puncak seorang anak yang mencari ilmu adalah menjadi cendekiawan,” ujar Nasaruddin.
Ia menjelaskan bahwa ilmuwan dan intelektual memiliki kemampuan dalam bidang ilmu pengetahuan, tetapi seorang cendekiawan memiliki tanggung jawab moral untuk mengamalkan ilmunya bagi kehidupan masyarakat.
Nasaruddin Umar juga mengingatkan bahwa mahasiswa UIN memiliki tanggung jawab lebih besar di tengah masyarakat.
“Ekspektasi masyarakat terhadap alumni UIN jauh lebih berat ketimbang alumni perguruan tinggi umum. Masyarakat hanya membutuhkan ilmunya orang perguruan tinggi umum, tetapi alumni UIN tidak cukup hanya apa yang kita katakan, mereka juga ingin melihat siapa yang mengatakan,” ujarnya.
Ia menyebut pentingnya menjaga muruah, yakni kehormatan diri yang tercermin melalui sikap, tutur kata, pakaian, dan perilaku.
Menurutnya, mahasiswa yang turun ke masyarakat harus mampu menjadi contoh dalam menjaga etika dan membawa citra baik perguruan tinggi Islam
Dalam kesempatan itu, Menag memberikan pesan khusus agar mahasiswa memiliki karakter istiqamah sebagai bekal menjalankan pengabdian.
“Modal KKN harus ikhlas. Kemudian harus sabar. Harus tawadu kepada orang tua kita. Harus ihsan selalu menebarkan kebajikan, lempar senyum, berbuat baik di dalam masyarakat,” tutupnya. (*).







Discussion about this post