Menag Gaungkan Ekoteologi Berbasis Kearifan Lokal

SERANG, BANPOS – Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. K.H. Nasaruddin Umar, mengajak mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara Perguruan Tinggi Keagamaan (PTK) se-Indonesia untuk membangun kesadaran ekoteologi dengan menjadikan alam sebagai bagian dari proses belajar, sekaligus menghargai kearifan lokal yang diwariskan masyarakat tradisional.

Dalam sambutannya, Menag menilai masyarakat modern sudah saatnya belajar dari masyarakat tradisional yang mampu hidup selaras dengan alam selama ribuan tahun tanpa bergantung pada teknologi canggih.

Baca Juga

“Sudah saatnya Amerika, sudah saatnya negara masyarakat modern itu meniru masyarakat tradisional,” kata Nasaruddin Umar, Rabu (15/7).

Ia menjelaskan, masyarakat tradisional memiliki hubungan yang harmonis dengan alam. Menurutnya, mereka mampu memahami karakter tanah, laut, hingga perubahan cuaca melalui pengalaman panjang dan kedekatan dengan lingkungan.

Sebagai contoh, Nasaruddin menceritakan pengalamannya ketika menyaksikan seorang petani tradisional di Makassar menolak mengganti tanaman jagung dengan benih kedelai unggulan dari Amerika.

Meski hasil penelitian laboratorium menyatakan lahan tersebut cocok, kenyataannya tanaman kedelai tumbuh subur namun tidak menghasilkan buah.

Menurutnya, pengalaman itu menjadi bukti bahwa pengetahuan lokal yang lahir dari interaksi panjang dengan alam tidak bisa dipandang sebelah mata.

“Orang tua kita dulu tidak pernah ditipu oleh alam,” ujarnya.

Ia juga mencontohkan nelayan tradisional yang mampu membaca tanda-tanda perubahan cuaca tanpa bantuan alat modern karena telah menjalin “persahabatan” dengan laut.

Dalam perspektif ekoteologi, Nasaruddin memaparkan bahwa manusia tidak boleh memandang alam sebagai objek semata, tapi sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan yang sama-sama bertasbih kepada Allah.

Mengutip kandungan Al-Qur’an, ia mengatakan seluruh ciptaan memiliki cara masing-masing dalam memuji Allah sehingga manusia perlu membangun hubungan yang penuh penghormatan terhadap lingkungan.

“Semuanya bertasbih. Dalam Al-Qur’an tidak ada benda mati,” tegasnya.

Karena itu, ia mengingatkan agar praktik masyarakat yang menghormati alam tidak serta-merta dicap sebagai perbuatan syirik. Menurutnya, banyak tradisi merupakan simbol penghormatan terhadap ciptaan Allah, bukan bentuk penyembahan kepada selain-Nya.

Selain berbicara mengenai ekoteologi, Menag juga mengajak mahasiswa menghargai budaya lokal dalam proses dakwah. Ia mencontohkan metode dakwah Walisongo yang berhasil menyebarkan Islam melalui pendekatan budaya tanpa menghilangkan substansi ajaran agama.

Menurutnya, Wali Songo tidak pernah mudah mengkafirkan, membidahkan, ataupun menyalahkan tradisi masyarakat. Justru berbagai budaya lokal diislamkan menjadi media dakwah, seperti penggunaan beduk sebagai penanda waktu salat.

“Wali Songo tidak pernah mengkafirkan orang, tidak pernah mensyirikkan orang, tidak pernah membidaahkan,” katanya.

Nasaruddin juga mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah menghakimi perbedaan. Ia menilai sikap gemar menyalahkan orang lain menunjukkan seseorang masih perlu banyak belajar.

Sebaliknya, orang yang arif adalah mereka yang mampu melihat hikmah dari berbagai sudut pandang dan terus memperbaiki diri.

“Orang arif itu pintar, tapi tidak semua orang pintar itu arif,” ujarnya. (*).

Berita Terkait

Discussion about this post