Dindikbud Kota Serang Luncurkan Inovasi Budaya Sekaligus Tegaskan MPLS Tanpa Perpeloncoan Bagi Siswa

SERANG, BANPOS – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Serang mulai mengalihkan fokus dari pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 menuju Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Ahmad Nuri, mengatakan pihaknya telah menyiapkan berbagai inovasi di bidang pendidikan dan kebudayaan. Selain keberhasilan penyelenggaraan SPMB, Dindikbud juga meluncurkan sejumlah program baru, yakni Jawara Banten (Jelajah Warisan Sejarah Banten) serta Merajut Sejarah dan Nyala Karya.

Baca Juga

Menurut Nuri, program-program tersebut bertujuan memperkuat pendidikan karakter melalui pengenalan sejarah dan kebudayaan lokal kepada peserta didik.

“Jawara Banten itu adalah Jelajah Warisan Sejarah Banten. Merajut Sejarah kita lakukan agar menjadi titik tekan bagi proses pendidikan yang ada di Kota Serang,” ujarnya, Jum’at (10/7).

Ia menjelaskan, penguatan kebudayaan menjadi bagian penting dalam pembangunan Kota Serang. Di tengah pembangunan fisik yang terus dilakukan pemerintah daerah, pendidikan juga harus berperan membangun karakter melalui penguatan identitas budaya.

Karena itu, nilai-nilai sejarah dan warisan budaya Kota Serang akan terus diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran di sekolah.

Menurutnya, peserta didik perlu memahami bahwa daerahnya memiliki kekayaan sejarah, budaya benda maupun budaya tak benda, termasuk berbagai situs bersejarah yang menjadi identitas masyarakat Banten.

“Kita juga harus membangun kebudayaan, mengaktivasi nilai-nilai kesejarahan yang ada di Kota Serang dan dimasukkan kepada proses pendidikan agar anak didik mengetahui bahwa kita memiliki kekayaan kebudayaan yang luar biasa,” katanya.

Ahmad Nuri menambahkan, peluncuran inovasi layanan kebudayaan tersebut dihadiri para kepala sekolah se-Kota Serang. Kegiatan itu menjadi langkah awal untuk memperkuat kolaborasi antara sekolah dan pemerintah dalam mengimplementasikan pendidikan berbasis budaya lokal.

Selain itu, ia memastikan seluruh perhatian kini diarahkan pada pelaksanaan MPLS yang akan segera dimulai. Dindikbud ingin memastikan kegiatan pengenalan sekolah benar-benar menjadi ruang pembelajaran yang menyenangkan bagi peserta didik baru.

“SPMB sudah sukses, sekarang tinggal MPLS. Mudah-mudahan tidak ada lagi perpeloncoan, tidak ada proses penekanan yang menggunakan fisik maupun psikologis,” tegasnya.

Untuk memperkuat komitmen tersebut, Dindikbud sedang menyusun surat edaran yang akan menjadi pedoman bagi seluruh sekolah di Kota Serang.

Menurut Ahmad Nuri, edaran tersebut akan menekankan bahwa seluruh kegiatan MPLS wajib dilaksanakan dengan pendekatan humanis, menggembirakan, dan mampu mengembangkan aspek kognitif, afektif, serta psikomotorik peserta didik.

“Hari ini draf surat edarannya sudah kami susun. Pendekatan MPLS harus humanis, menggembirakan, dan memantik perkembangan kognitif, afeksi, serta psikomotor anak didik,” ujarnya.

Ia juga memberikan peringatan tegas kepada seluruh guru maupun panitia MPLS agar tidak melakukan praktik perpeloncoan dalam bentuk apa pun. Jika ditemukan pelanggaran, Dindikbud akan memberikan sanksi.

“Kalau terbukti guru atau panitia MPLS melakukan perpeloncoan, kita akan panggil dan berikan sanksi. Sekarang tidak ada lagi pendekatan perpeloncoan, yang ada adalah pendekatan humanistik,” katanya.

Terkait penggunaan atribut atau tugas membawa barang saat MPLS, Ahmad Nuri menjelaskan bahwa sekolah tetap diperbolehkan memberikan tugas selama memiliki nilai edukatif dan tidak membebani orang tua.

Ia mencontohkan peserta didik dapat diminta membawa benda-benda yang memiliki keterkaitan dengan materi pembelajaran, seperti bawang putih atau daun kelor, untuk mengenalkan manfaat tanaman obat dan kekayaan hayati di lingkungan sekitar.

“Kalau memiliki relevansi dengan edukasi tidak masalah. Tetapi kalau sifatnya membebani orang tua atau di luar kewajaran, itu tidak boleh,” jelasnya.

Menurutnya, seluruh tugas selama MPLS harus mendukung proses belajar, bukan sekadar menjadi tradisi tanpa manfaat. Karena itu, Dindikbud meminta sekolah menghindari tugas-tugas yang aneh, tidak masuk akal, atau hanya bersifat simbolis tanpa nilai pendidikan.

“Tugas yang tidak aneh-aneh silakan. Yang penting memberikan edukasi kepada peserta didik,” pungkasnya. (*)

Berita Terkait

Discussion about this post