Isu Mundur Massal Jalur SNBP, Ini Pandangan Prof Furtasan

SERANG, BANPOS – Jagat dunia maya belakangan ini dihebohkan oleh peredaran narasi liar mengenai adanya sekitar 60 ribu calon mahasiswa jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) yang kompak tidak melakukan proses daftar ulang. Isu miring tersebut langsung memicu kegaduhan publik lantaran berpotensi mengindikasikan adanya penurunan minat masyarakat terhadap akses pendidikan tinggi negeri akibat mahalnya UKT.

Merespons polemik yang terlanjur menggelinding bak bola salju tersebut, jajaran legislatif di Senayan langsung angkat bicara guna meluruskan distorsi informasi di masyarakat agar tidak berlarut-larut. Berdasarkan hasil pelacakan draf otentik, angka akumulatif yang menjadi bahan perbincangan itu nyatanya merupakan data sektoral pada periode tahun lalu.

Baca Juga

“Pertama, betul itu data ini, itu adalah data tahun 2025, jadi itu adalah akumulasi ya. Sementara tahun 2026 ini kan masih berproses, belum berjalan. Tetapi, dari ketiga jalur yang ada, yaitu adalah SNBP ini, ternyata juga tingkat daftar ulangnya cukup tinggi sebetulnya, sekitar 92%,” cetus Anggota Komisi X DPR RI, Furtasan Ali Yusuf dalam dialog di salah satu stasiun televisi swasta, Kamis (25/6/2026).

Meskipun persentase keterpilihan fungsional masih berada pada ambang batas aman, hilangnya jatah kuota murni sebanyak delapan persen tetap dinilai sebagai sebuah kerugian besar bagi dunia pendidikan. Faktor finansial keluarga dan ketidakcocokan jurusan akibat pemilihan alternatif yang asal-asalan ditengarai menjadi pemicu utama di balik fenomena mundurnya para calon mahasiswa berprestasi tersebut.

Sekolah Diminta Perketat Bimbingan Konseling

Sengkarut ini memicu desakan agar pihak sekolah memperketat bimbingan konseling guna menyelaraskan minat bakat siswa dengan program studi incaran sejak awal pengusulan berkas. Sistem penerimaan juga didorong untuk segera direformasi secara radikal melalui penyediaan slot mekanisme daftar tunggu agar sisa kursi kosong tidak terbuang sia-sia.

“Iya, tadi sudah saya sampaikan, kendalanya itu biasanya kalau kenapa, ini untuk yang 2026 masih proses ya mas ya, tapi untuk 2025 sebetulnya yang saya lihat itu tingkat adaptar ulang cukup tinggi, yaitu saya punya data sekitar 92%, ada sekitar hanya 8% saja yang tidak adaptar ulang,” imbuhnya.

 

Intervensi Anggaran

Di sisi lain, intervensi anggaran dari kantong kas negara untuk membiayai program beasiswa mahasiswa miskin tercatat terus mengalami pembengkakan alokasi kuota setiap musim kelulusan baru. Otoritas parlemen mengingatkan bahwa penyelesaian kendala ini tidak boleh hanya ditinjau dari kacamata ekonomi semata, melainkan harus menyentuh ranah perbaikan edukasi konsekuensi jalur undangan.

Publik berharap jajaran kementerian terkait dapat segera menyederhanakan sistem integrasi informasi daftar ulang demi memberikan kepastian hukum bagi institusi perguruan tinggi maupun masyarakat luas. Evaluasi menyeluruh ini mendesak dilakukan agar alokasi kuota gratis tidak lagi menjadi panggung coba-coba keberuntungan bagi oknum siswa yang tidak bertanggung jawab.

“Sistem perimaan, ini harus diperbaiki agar jalur perimaan masyarakat baru lebih sederhana. Lalu transparan dan memberikan kepastian nih. Jadi faktornya cukup banyak,” jelas Furtasan.

Langkah preventif mutlak diperlukan demi menyalamatkan hak-hak ratusan ribu anak bangsa yang tengah mengantre untuk memperebutkan tiket masuk bangku kuliah di tanah air. Sinergi yang kuat antara pihak sekolah, perguruan tinggi, dan kementerian terkait menjadi kunci utama dalam meminimalisasi terjadinya pemborosan bangku kosong di masa depan.

Pemerintah wajib hadir memberikan proteksi khusus bagi calon mahasiswa rentan agar hambatan administratif tidak memutus asa generasi muda dalam meraih gelar sarjana. Tensi pengawasan terhadap jalannya sirkulasi seleksi nasional tahun ajaran baru ini dipastikan akan terus dikawal ketat oleh berbagai elemen masyarakat sipil Banten.

“8% itu cukup banyak sebetulnya kalau melihat data itu. Tapi ya ini kita menjadi warning ya supaya ada perbaikan kedepan barangkali begitu mas,” tandasnya memungkasi perbincangan. (*)

Berita Terkait

Discussion about this post