Puisi Taufik Ismail Bikin Aula UIN Banten Hening dan Haru

SERANG, BANPOS – Penutupan kegiatan Studium Generale dan Bedah Buku bertema “Menghidupkan Api Nasionalisme Syekh Nawawi Al-Bantani di Tanah Kelahiran: Jejak Lokal dan Dampak Global” di Aula Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUDA) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Kamis (4/6), berlangsung penuh makna.

Momen istimewa hadir saat sastrawan senior Indonesia, Taufik Ismail, tampil membacakan puisi yang sarat pesan spiritual di hadapan sekitar 300 peserta. Mereka terdiri atas mahasiswa, akademisi, tokoh agama, budayawan, dan masyarakat umum.

Baca Juga

Sebelum membacakan puisi berjudul Celupkan Jarimu ke Air Lautan, Taufik menyampaikan salam dan mengajak peserta merenungkan sebuah hadis Rasulullah SAW tentang perbandingan kehidupan dunia dan akhirat.

Dengan suara tenang dan penuh penghayatan, ia mengisahkan dialog seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah mengenai perbandingan dunia dengan akhirat. Rasulullah kemudian memberikan perumpamaan sederhana namun mendalam: mencelupkan jari ke lautan lalu mengangkatnya kembali.

Menurut hadis tersebut, air yang menetes dari ujung jari menggambarkan kehidupan dunia beserta seluruh isinya. Sementara air yang tersisa di lautan melambangkan kehidupan akhirat yang begitu luas dan abadi.

“Wahai alangkah kecil arti dunia. Wahai alangkah kerdil makna dunia. Wahai alangkah remeh arti dunia,” lantun Taufik Ismail yang membuat seluruh peserta larut dalam suasana hening dan penuh perenungan.

Melalui bait-bait puisinya, Taufik mengingatkan pentingnya menempatkan kehidupan dunia secara proporsional dan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama. Ia juga menyampaikan pesan bahwa mereka yang mengejar akhirat akan memperoleh kemuliaan dunia dan akhirat sekaligus, sedangkan mereka yang hanya mengejar dunia berisiko kehilangan makna yang lebih besar dalam hidup.

Pembacaan puisi tersebut menjadi salah satu momen paling berkesan dalam rangkaian acara. Aula FUDA yang sebelumnya dipenuhi diskusi akademik tentang nasionalisme, sejarah, dan pemikiran Syekh Nawawi Al-Bantani, seketika berubah menjadi ruang perenungan spiritual yang mendalam.

Tepuk tangan panjang dari peserta mengiringi berakhirnya pembacaan puisi. Penampilan Taufik Ismail sekaligus menjadi penutup yang mengesankan bagi kegiatan Studium Generale dan Bedah Buku yang diselenggarakan FUDA UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten bekerja sama dengan Jejaring Dunia Santri. (*)

Berita Terkait

Discussion about this post