SERANG, BANPOS – Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUDA) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten bekerja sama dengan Jejaring Dunia Santri menggelar Studium General dan Bedah Buku bertajuk “Menghidupkan Api Nasionalisme Syekh Nawawi Al-Bantani di Tanah Kelahiran: Jejak Lokal dan Dampak Global” di Aula FUDA Lantai 2 Kampus 2 UIN SMH Banten, Kamis (4/6).
Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 300 peserta yang terdiri dari mahasiswa, akademisi, sejarawan, pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam, tokoh agama, tokoh masyarakat hingga pejabat pemerintah. Sejumlah narasumber turut hadir, di antaranya Jamal D. Rahman, Ngatawi Al-Zastrouw, Eva Syarifah Wardah, Mufti Ali dan M. Shofin Sugito.
Dekan FUDA UIN SMH Banten, Masykur, mengatakan kegiatan tersebut tidak sekadar membahas ketokohan Syekh Nawawi Al-Bantani, tetapi juga menjadi upaya membangkitkan kembali kesadaran intelektual masyarakat Banten terhadap warisan keilmuan ulama Nusantara.
“Forum ini menjadi penting, bukan sekadar membicarakan sebuah karya Syekh Nawawi, tetapi juga menyalakan kembali kesadaran intelektual kita tentang apa itu Banten, Islam, dan peran ulama Nusantara dalam membentuk peradaban,” ujar Masykur.
Menurutnya, Syekh Nawawi Al-Bantani merupakan simbol kedaulatan ilmu pengetahuan yang berhasil membawa nama Banten ke panggung dunia Islam melalui karya-karya dan pemikirannya.
“Syekh Nawawi lahir di tanah Banten, tetapi pemikirannya melampaui batas geografis. Dari ruang lokal yang menembus jaringan intelektual dunia Islam, beliau membangun otoritas keilmuan yang diakui secara global,” katanya.
Masykur menilai nasionalisme yang diwariskan Syekh Nawawi berbeda dengan nasionalisme yang identik dengan slogan politik atau perebutan kekuasaan. Nasionalisme tersebut dibangun melalui ilmu pengetahuan, pendidikan dan pembentukan moral umat.
“Api nasionalisme Syekh Nawawi adalah nasionalisme ilmu. Ia tidak berteriak dengan slogan-slogan, tetapi berbicara melalui karya. Ia tidak membangun kekuasaan politik, tetapi membangun otoritas moral dan intelektual,” tegasnya.
Ia juga mengajak generasi muda menjadikan khazanah intelektual Banten sebagai sumber pengembangan ilmu pengetahuan dan inspirasi membangun masa depan.
Sementara itu, Rektor UIN SMH Banten Muhammad Ishom yang membuka acara menyoroti sisi nasionalisme Syekh Nawawi yang kerap luput dipahami banyak orang.
“Banyak orang bertanya, di mana letak nasionalisme dalam kitab-kitab Syekh Nawawi. Kalau yang membaca bukan kiai yang waskita, memang tidak akan ketemu,” ujarnya disambut tawa peserta.
Ishom menjelaskan semangat kebangsaan Syekh Nawawi dapat ditemukan dalam berbagai karya tulisnya, terutama kitab Al-Futuhat al-Madaniyah fi Syu’ab al-Iman. Dalam kitab tersebut, Syekh Nawawi menegaskan pentingnya menjaga martabat agama dan umat Islam di tengah dominasi kolonialisme.
Menurut Ishom, Syekh Nawawi menolak segala bentuk ketundukan terhadap penjajah karena dianggap sebagai penghinaan terhadap agama. Sikap tersebut juga tercermin dalam ajarannya untuk melindungi sesama umat Islam, baik jiwa, keluarga maupun harta bendanya.
“Beliau tidak mengobarkan jihad dengan retorika. Tetapi membangun kesadaran dan fondasi keilmuan yang pada akhirnya menjadi bagian dari kekuatan besar umat dalam memperjuangkan kemerdekaan,” katanya.
Dalam sesi bedah buku, penulis Islam, Sastra, dan Pengetahuan, Jamal D. Rahman, mengajak peserta melihat Syekh Nawawi dari perspektif yang lebih luas. Ia menilai Syekh Nawawi dan Multatuli memiliki kesamaan sikap terhadap kolonialisme meskipun tidak pernah bertemu secara langsung.
“Multatuli dan Syekh Nawawi adalah pertemuan tanpa perjumpaan. Mereka bertemu dalam sikap terhadap kolonialisme. Yang satu melawan kolonialisme melalui kitab kuning, yang lain melalui karya sastra,” ujar Jamal.
Menurutnya, spirit nasionalisme Syekh Nawawi ditanamkan secara halus melalui kitab-kitab keagamaan dan diwariskan kepada murid-muridnya.
Jamal juga menyoroti penggunaan identitas At-Tanari, Al-Bantani dan Al-Jawi dalam berbagai karya Syekh Nawawi. Menurutnya, identitas tersebut menunjukkan keterikatan yang kuat terhadap tanah kelahiran dan Nusantara.
Budayawan sekaligus akademisi Ngatawi Al-Zastrouw menambahkan bahwa nasionalisme Indonesia memiliki karakter yang berbeda dengan nasionalisme Barat. Jika nasionalisme Barat lahir dari humanisme liberal dan sekularisme, nasionalisme Indonesia tumbuh dari perpaduan religiusitas, spiritualitas dan rasionalitas.
“Spirit kebangsaan dalam pemikiran Syekh Nawawi lahir dari kesadaran bahwa negara yang berdaulat, adil dan sejahtera merupakan sarana agar umat dapat menjalankan ajaran agama dengan baik,” ujarnya.
Sementara itu, akademisi dan peneliti M. Shofin Sugito menilai Syekh Nawawi tidak hanya berbicara tentang identitas lokal, tetapi juga membangun kesadaran kemanusiaan yang bersifat universal.
Menurutnya, identitas lokal tidak bertentangan dengan keterbukaan terhadap dunia yang lebih luas. Justru dari akar lokal yang kuat lahir kontribusi bagi peradaban global.
“Manusia tidak perlu kehilangan identitas lokalnya ketika berinteraksi dengan dunia. Identitas lokal justru menjadi pijakan untuk membangun nilai-nilai universal yang lebih luas,” pungkasnya. (*)







Discussion about this post