AMSTERDAM, BANPOS — Sejarawan sekaligus anggota Komisi X DPR RI, Bonnie Triyana, menilai kolonialisme Belanda tidak hanya meninggalkan jejak sejarah, tetapi juga mewariskan mental feodalisme yang masih terasa dalam relasi kekuasaan hingga saat ini.
Pernyataan itu disampaikan Bonnie saat menjadi pembicara dalam diskusi memperingati berakhirnya Perang Dunia II di Amsterdam, Senin (4/5/2026). Kegiatan tersebut diselenggarakan Omroep ZWART bersama OBA Next Lab.
Menurut politikus PDI Perjuangan itu, kolonialisme pada masa lalu membangun sistem kontrol terhadap rakyat melalui pola hubungan patron-klien antara elite dan masyarakat.
“Kolonialisme Belanda merawat feodalisme sebagai cara mengontrol rakyat dan sumber kekayaan alam,” ujar Bonnie dalam keterangannya, Selasa (5/5/2026).
Ia menjelaskan, praktik tersebut telah berlangsung sejak era Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), ketika penguasa kolonial memanfaatkan elite lokal untuk mempertahankan kekuasaan dan mengendalikan sumber daya.
Bonnie mencontohkan tokoh pergerakan nasional, Ki Hadjar Dewantara atau Soewardi Suryaningrat, yang pernah diasingkan ke Belanda akibat kritik keras terhadap pemerintah kolonial.
“Kebebasan bicara pada era kolonial adalah kemewahan yang tak mungkin diperoleh oleh rakyat. Kritik pada era kolonial menjadi tindakan kepahlawanan,” katanya.
Dalam forum itu, Bonnie juga mengkritik pandangan sebagian masyarakat Belanda yang masih menganggap masa VOC sebagai era kejayaan dunia. Menurutnya, kejayaan tersebut dibangun melalui kekerasan dan eksploitasi di wilayah koloni, termasuk Indonesia.
Meski kolonialisme secara formal telah berakhir setelah Perang Dunia II, Bonnie menilai pola pikir kolonial masih bertahan dalam bentuk diskriminasi dan relasi sosial yang timpang.
“Kolonialisme memang sudah berakhir usai Perang Dunia Kedua, namun kolonialitas sebagai mentalitas yang tetap melanggengkan hubungan masyarakat yang diskriminatif, eksploitatif, dan rasialistis masih tetap berlangsung sampai hari ini,” ujarnya.
Ia juga mendorong adanya kesamaan perspektif sejarah antara Indonesia dan Belanda, khususnya terkait periode 1945-1949 yang menjadi fase traumatik dalam hubungan kedua negara.
Menurut Bonnie, pembelajaran sejarah seharusnya tidak lagi terjebak pada trauma masa lalu, melainkan menjadi sarana membangun kesadaran kritis dan kemanusiaan.
“Pelajaran sejarah harus membebaskan diri dari belenggu trauma masa lalu sekaligus memutus rantai kekerasan yang terjadi di tengah masyarakat,” tandasnya. (*)







Discussion about this post