Keringat dan Gelar: Jejak Juara Tapak Suci Serang Menyala

DI TENGAH gemuruh sorak-sorai dan dentuman matras serta aroma keringat penuh perjuangan. Sekelompok pendekar muda dari Tapak Suci Putera Muhammadiyah yang tergabung dalam Kontingen Tapak Suci Serang Menyala menancapkan taring mereka di ajang bergengsi, Indonesia Pencak Silat Banten Championship.

Dalam ajang yang mempertemukan pesilat dari berbagai daerah, sekolah dan perguruan silat tersebut, terlihat jelas kebanggaan yang terpancar dari wajah-wajah letih namun bahagia dari pesilat muda Tapak Suci terlepas dari hasil yang diperoleh. Mereka datang dalam ajang kompetisi bukan hanya sekedar mencari juara, melainkan pengalaman berharga dari setiap detik momen pertandingan.

Baca Juga

Salah satu pesilat dari Kontingen Tapak Suci Serang Menyala, Suci Awaliya menyampaikan bahwa ajang kejuaraan menjadi salah satu tantangan sekaligus ruang baginya untuk mengasah dan mengevaluasi hasil latihan selama ditempat latihan.

“Ajang kejuaran ini menjadi tempat kita untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan kita. Apapun hasilnya, yang pasti kita harus terus lebih giat lagi berlatih. Agar ke depan hasilnya bisa lebih baik dari hari ini,” ujarnya dengan nada semangat.

Senyum lebar dan tatapan mata yang penuh keyakinan yang terpaut dari wajah pesilat muda itu seraya menegaskan bahwa medali dan piala adalah hasil dari ribuan jam latihan di tengah terik dan malam.

Gelar juara umum di Kejuaraan Pencak Silat Banten Championship ini bukan sekadar tambahan koleksi trofi. Bagi Tapak Suci Putera Muhammadiyah Kota Serang, ini adalah penegasan akan kualitas pembinaan atlet-atlet muda mereka.

“Ini adalah bukti bahwa semangat “Serang Menyala” bukan sekadar slogan, melainkan api yang terus membakar semangat juang di hati setiap pendekar,” ujar salah satu pelatih dari Kontingen Tapak Suci Serang Menyala, Rohimi.

Di sisi lain, Wakil Gubernur Banten A Dimyati Natakusumah mendorong agat pencak silat menjadi kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) wajib di seluruh jenjang pendidikan di Banten. Menurutnya, pencak silat tidak hanya mengajarkan kemampuan bela diri, tetapi juga dapat membentuk karakter peserta didik.

“Saya meminta agar pencak silat ini menjadi ekstrakurikuler wajib di sekolah-sekolah untuk seluruh jenjang pendidikan,” katanya.

Menurutnya, pencak silat dapat melatih keberanian dan kedisiplinan anak. Olahraga beladiri tersebut juga dinilai dapat menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada peserta didik.

Dimyati menilai pembinaan pencak silat perlu terus diperkuat untuk mencetak atlet-atlet berprestasi. Salah satunya melalui pembinaan yang dilakukan induk cabang olahragasecara berkelanjutan.

“Karena saat memulai pertandingan, kita selalu diingatkan untuk berdoa,” ujarnya.

Bagi para pelatih dan pesilat, kemenangan pada satu kompetisi, tersimpan ribuan cerita tentang perjuangan melawan rasa lelah, mengatasi keraguan diri, dan disiplin tinggi dalam berlatih. Ini adalah cerita tentang persaudaraan yang erat di antara sesama pesilat, tentang bimbingan tulus para pelatih, dan tentang dukungan tanpa henti dari orang tua dan komunitas.

Dengan kemenangan ini, mereka telah mengukir sejarah baru dan memberikan inspirasi bagi generasi muda lainnya untuk terus melestarikan dan mengukir prestasi di dunia pencak silat. “Serang Menyala” bukan lagi sekadar harapan, tapi sebuah realitas yang membanggakan. (*)

Berita Terkait

Discussion about this post