SERANG, BANPOS – Pemerintah Provinsi Banten memberangkatkan 21 petani milenial untuk mengikuti program magang di Jepang selama satu hingga dua tahun.
Pelepasan dilakukan langsung oleh Gubernur Banten, Andra Soni, di Gedung Negara Provinsi Banten, Kota Serang, Kamis (9/4).
Program tersebut merupakan bagian dari inisiatif Kementerian Pertanian yang dilaksanakan di berbagai provinsi.
Tahun ini, jumlah peserta yang diberangkatkan menjadi yang terbanyak sejak program tersebut berjalan.
Andra Soni berharap para peserta dapat membawa pulang pengalaman dan inovasi untuk mengembangkan sektor pertanian di daerah.
“Kita masih banyak lahan-lahan tidur yang bisa dikembangkan untuk teman-teman nanti setelah kembali lagi. Silakan dikembangkan,” katanya.
Ia menilai potensi pertanian di Banten masih besar, namun belum dimanfaatkan secara optimal.
Padahal, kebutuhan pasar terhadap produk pertanian terus meningkat, terlebih dengan posisi Banten yang berdekatan dengan Jakarta.
“Ini penting sekali karena secara transportasi kita lebih kompetitif dari daerah lain,” jelasnya.
Menurutnya, pemerintah daerah terus mendorong minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian, salah satunya dengan memastikan ketersediaan infrastruktur pendukung seperti irigasi dan akses distribusi.
“Belum lagi kebutuhan untuk suplai ribuan SPPG yang sudah beroperasi di Banten. Jadi usaha sektor pertanian itu sebenarnya sangat menjanjikan,” tandasnya.
Ia juga mengingatkan para peserta agar memanfaatkan kesempatan tersebut secara maksimal, sehingga sepulang dari Jepang dapat menjadi penggerak bagi petani muda lainnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten, M Nasir, menyampaikan bahwa seluruh peserta telah melalui pelatihan intensif sebelum diberangkatkan.
“Dari total 48 peserta, yang berhasil lolos sebanyak 21 dari berbagai daerah di Banten. Insya Allah nanti tanggal 13 April diberangkatkan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, selama di Jepang para peserta akan tinggal di lingkungan pedesaan dan terlibat langsung dalam kegiatan pertanian maupun peternakan dengan durasi magang antara 11 hingga 26 bulan.
“Jepang adalah negara barometer dengan penerapan teknologi terbaik dalam sektor pertaniannya. Maka dari itu, saya berharap ketika pulang nanti, teman-teman ini bisa menerapkan yang didapat di sana untuk kemajuan pertanian di Banten,” jelasnya.
Salah satu peserta, Eva Luthfiah, mengaku siap memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengembangkan pertanian di daerah asalnya.
“Dari kecil saya sudah diajarkan bertani oleh orang tua, dan sampai sekarang saya masih menjalani itu,” katanya.
Ia menilai sektor pertanian kini semakin modern dan memiliki prospek yang baik bagi generasi muda.
“Karena tekad saya ingin memajukan pertanian,” tandasnya. (*)







Discussion about this post