JAKARTA, BANPOS – Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan bahwa integritas dan profesionalisme menjadi fondasi utama dalam mewujudkan layanan publik yang berkualitas, termasuk dalam pelayanan penggunaan Tenaga Kerja Asing (TKA).
Penegasan tersebut disampaikan Yassierli saat menghadiri Forum Diskusi Layanan Penggunaan TKA di Balai Besar Pengembangan Kompetensi dan Produktivitas Kerja (BBPKK) Bandung Barat, Jumat (30/1).
Menurut Yassierli, kualitas layanan publik tidak hanya ditentukan oleh sistem dan regulasi, tetapi juga oleh nilai-nilai yang dipegang aparatur.
Integritas dan profesionalisme, kata dia, harus dibarengi kepedulian terhadap persoalan di lapangan agar layanan yang diberikan benar-benar adil, transparan, dan berdampak bagi masyarakat.
“Nilai-nilai ini menjadi fondasi untuk pelayanan publik yang profesional, adil, dan berdampak,” ujar Yassierli.
Ia menjelaskan konsep Meaningful Work: Beyond the Duty, yakni bekerja tidak sekadar memenuhi kewajiban formal, tetapi menghadirkan makna melalui dampak nyata yang dirasakan masyarakat. Dengan melampaui tugas administratif, aparatur negara diharapkan mampu membangun komitmen jangka panjang terhadap kualitas layanan.
“Makna kerja tidak lahir dari jabatan, tetapi dari bagaimana pekerjaan itu dijalankan setiap hari,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Yassierli juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas unit melalui prinsip Satu Tim, Satu Kapal.
Ia meminta seluruh jajaran menghilangkan ego sektoral dan bekerja secara terpadu, terutama dalam pelayanan strategis seperti pengelolaan TKA.
“Organisasi harus bergerak sebagai satu kesatuan. Kolaborasi harus dikedepankan, bukan kompetisi,” tegasnya.
Terkait pengelolaan sumber daya manusia, Yassierli menyoroti prinsip Right Person, Right Position sebagai bagian dari penguatan meritokrasi. Penempatan pegawai, menurutnya, harus berbasis kompetensi, potensi, dan kinerja, dengan integritas dan moralitas sebagai prasyarat utama.
Ia menilai pendekatan tersebut dapat meningkatkan kepercayaan publik karena promosi dan penugasan dilakukan secara rasional dan transparan, bukan semata berdasarkan senioritas.
Selain itu, Yassierli memperkenalkan konsep People-Centric Organization, yang menempatkan aparatur sebagai pusat pengembangan organisasi. Lingkungan kerja, kata dia, harus menjadi ruang yang aman bagi pegawai untuk bertumbuh, berinovasi, dan menyampaikan gagasan.
“Organisasi yang kuat dibangun dari nilai, kepemimpinan, dan rasa bangga pegawainya dalam melayani masyarakat,” tandasnya. (*)


Discussion about this post