Demo Penolakan Zero ODOL Ganggu Distribusi Pangan

SEMARANG, BANPOS – Salah satu akun yang menun­jukkan foto aksi penolakan kebijakan Zero ODOL adalah @polsekGNP, milik Polsek Gunung Pati. Dalam keterangan­nya, foto unjuk rasa itu terjadi di Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng), Senin (23/6/2025). Meski tak menyebutkan jumlah massa, pihak kepolisian memas­tikan, aksi tersebut berlangsung tertib.

Sebelumnya, aksi serupa juga terjadi di Kota Surabaya, Jawa Timur (Jatim), Kamis (19/6/2025). Berdasarkan se­jumlah foto dan video yang bere­dar, aksi unjuk rasa itu sempat menyebabkan kemacetan pan­jang di Jalan Taman Waru. Hal serupa juga terjadi di Jalur Pan­taumi Utara (Pantura) wilayah Alas Roban, Subah, Batang, Jateng, Jumat (20/6/2025).

Baca Juga

Direktur Ketersediaan Pangan Bapanas Indra Wijayanto mengungkapkan, sejumlah asosiasi pangan berkirim surat kepada lembaganya terkait aksi demon­trasi menolak kebijakan Zero ODOL. Mereka mengeluhkan dampak aksi tersebut terhadap kelancaran pasokan.

“Demo ODOL ini cukup mengganggu. Beberapa asosiasi telur dan cabe telah berkirim surat kepada kami, mengeluhkan tentan keterlambatan pasokan, terutama ke wilayah Jakarta,” ujar Indra di Jakarta, Senin (23/6/2025).

Dia menjelaskan, keterlam­batan distribusi pangan berpo­tensi memicu kenaikan harga komoditas bahan pokok. Sebab itu, tegas Indra, Peemerintah harus memberi perhatian serius, memastikan kebijakan Zero ODOL tidak berdampak nega­tif terhadap stabilitas pasokan pangan nasional.

“Berdasarkan informasi dari asosiasi pangan, distribusi ha­sil panen terancam terhambat, khususnya dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, menuju DKI Ja­karta dan Jawa Barat,” jelasnya.

Indra juga mendorong sinergi lintas sektor dalam penanganan ODOL, agar kebijakan yang dijalankan tetap mendukung kelancaran logistik pangan. Dia berharap, Pemerintah Daerah (Pemda) juga dapat menemukan solusi yang dapat menjembatani pelaksanaan kebijakan dengan kebutuhan distribusi.

Terpisah, Kepala Biro Ko­munikasi dan Informasi Pub­lik Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Ernita Titis Dewi menegaskan, Pemerintah tetap berkomitmen menjalankan ke­bijakan Zero ODOL. Pada tahap awal, Pemerintah melakukan so­sialisasi kepada pemilik barang dan perusahaan angkutan.

“Selanjutnya, pada Juli 2025, akan diberlakukan tahap peringatan sebelum dilakukan penegakan hukum secara bertahap. Penegakan aturan akan dilakukan bersama Kepolisian, Kementerian PUPR, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perda­gangan, dan seluruh pemangku kepentingan terkait,” ujar Titis.

Pemerintah menargetkan penerapan Zero ODOL di ta­hun 2026. Menteri Koordina­tor Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPW)nAgus Harimurti Yud­hoyono (AHY) menegaskan, pelanggaran ODOL tidak hanya menyebabkan kecelakaan lalu lintas, tapi juga menyebabkan kerusakan infrastruktur jalan yang berdampak pada anggaran perbaikan setiap tahunnya.

Maraknya aksi demonstrasi menolak kebijakan Zero ODOL juga ramai diperbincangkan warganet di media sosial X. Meski prihatin dengan aksi tersebut, mereka tetap mendu­kung penghapusan kendaraan ODOL di seluruh ruas jalan.

“Kebijakan Zero ODOL ini juga demi keselamatan sopir. Jangan egois dong,” cuit akun @sunkixedxx.

“Ini gara-gara pembiaran ODOL terjadi sejak lama. Jadi, para pemilik truk merasa ada di zona nyaman. Karena pembiaran ini, semisal besok nggak boleh ada ODOL, saya juga khawatir harga pangan bisa ikut naik,” tulis akun @slmnfhm.

“Saat warga luar negeri su­dah bicara Perang Dunia III, ekonomi global hingga pangan, kita urus ODOL saja nggak rampung-rampung. Makanya, kalau mau tegas, ya tegas seka­lian. Jangan dikasih ruang,” cetus akun @Agusta_AP.

“Sesuai prediksi. Sopir-sopir pengangkut komoditas besar sudah mulai mogok. Segala pendistribusian macet, termasuk pangan. Pasar tidak mempunyai barang, demand melambung tinggi, harga meledak. Niat penghapusan ODOL memang bagus, sekarang bagaimana solusinya. Ditunggu ya,” tutur akun spitfirepepjiz. (RM.ID)

Berita Terkait

Discussion about this post