Tandon BBS 3 Dikeruk, Banjir Tahunan Cilegon Ditangani

CILEGON, BANPOS – Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon mengerahkan ekskavator untuk menangani banjir yang setiap tahun melanda kawasan BBS 3 dan Kavling Blok E. Alat berat tersebut digunakan untuk mengeruk sedimentasi di Tandon BBS 3 yang menjadi salah satu titik rawan luapan saat hujan deras.

Lurah Ciwaduk, Nurul Hadiyati, mengatakan ekskavator mulai beroperasi sejak Jumat siang dan akan digunakan hingga pengerukan tandon selesai. Penanganan itu dilakukan untuk meningkatkan kapasitas tampungan air sekaligus mengurangi potensi luapan ke permukiman warga.

Baca Juga

“Alhamdulillah Pak Walikota sudah mengirimkan ekskavator ke wilayah Tandon BBS 3. Dari malam Jumat, kemudian sudah beroperasi di Jumat siang dan hingga hari ini,” katanya.

Menurut Nurul, pengerukan berlangsung lebih dari sepekan karena kondisi tandon tidak hanya dipenuhi sedimentasi, tetapi juga tanaman gulma. Tandon seluas sekitar 5.478 meter persegi tersebut direncanakan dikeruk hingga kedalaman dua meter.

Pekerjaan juga tidak dapat dilakukan secara leluasa karena di sekitar tandon terdapat pepohonan, paving blok, dan aspal. Kondisi itu membuat ekskavator harus bermanuver sehingga waktu pengerukan berpotensi lebih lama.

“Jadi kemungkinan ini bisa lebih dari tujuh hari pekerjaan, terlebih ini juga harus memutar, banyak juga yang pohon-pohon dan ada juga paving blok, aspal, jadi harus dikorbankan juga,” ungkapnya.

Bagi warga, pengerukan menjadi bagian penting dalam penanganan banjir yang terjadi setiap tahun. Namun, Nurul berharap pemeliharaan tandon dilakukan secara berkala agar kapasitas tampungan tetap terjaga.

“Ini adalah banjir tahunan, tentunya harus ada ikhtiar. Bukan hanya pengerukan setahun sekali, tapi harus berkala. Pengerukannya harus berkala,” tuturnya.

Kebutuhan penanganan lanjutan terlihat dari cepatnya tandon meluap ketika hujan deras mengguyur kawasan tersebut. Nurul menyebut hujan sekitar satu jam saja dapat memicu luapan sehingga kapasitas pembuangan air juga perlu ditingkatkan.

Karena itu, Pemkot Cilegon menyiapkan rencana pelebaran drainase menuju Sungai Makam Balung. Pelebaran tersebut diharapkan dapat memperlancar aliran air dari kawasan permukiman menuju saluran pembuangan.

“Pak Wali juga menyampaikan melebarkan drainase hingga Sungai Makam Balung. Tentunya ini harus ada dukungan dari warga juga. Kalau warga mendukung, pemerintah akan melakukan pelebaran drainase itu,” pungkasnya.

Selain drainase, pengaturan pintu air di Sungai Makam Balung juga menjadi bagian dari penanganan banjir. Pemerintah Kelurahan Ciwaduk berkoordinasi dengan Kelurahan Citangkil dan Tamanbaru karena pengaturan pintu air berkaitan dengan kebutuhan masyarakat di sekitar sungai.

Menurut Nurul, terdapat kepentingan berbeda dalam pengaturan pintu air tersebut. Petani membutuhkan air untuk kepentingan pertanian, sementara kawasan BBS 3 membutuhkan aliran yang lancar agar air tidak kembali meluap ke permukiman.

“Kalau kami, pintu air harus terbuka. Jadi harus ada koordinasi. Kalau pintu air tertutup ya makin meluap. Arahnya kan ujungnya Sungai Makam Balung,” ucapnya.

Nurul menilai pengerukan tandon dan pelebaran drainase dapat membantu mengurangi risiko banjir. Namun, upaya tersebut perlu dibarengi dengan pemeliharaan saluran dan keterlibatan masyarakat agar aliran air tetap lancar.

“Saya harap warga juga tetap menjaga saluran air agar tidak tersumbat sampah yang dapat menghambat aliran,” ujarnya.

Nurul mengapresiasi dukungan Pemkot Cilegon yang menurunkan alat berat untuk pengerukan tandon. Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menangani persoalan banjir yang dirasakan warga.

“Beliau memang tidak mau setengah-setengah dalam melakukan upaya pencegahan banjir,” jelasnya.

Di sisi lain, Nurul memastikan sampah bukan penyebab utama sedimentasi di Tandon BBS 3. Berdasarkan hasil pengerukan, material yang ditemukan lebih banyak berupa sedimen dan tanaman gulma.

“Pengerukan juga hanya sedimen saja sama tanaman gulma,” tutupnya.

Meski demikian, edukasi kepada masyarakat tetap dilakukan agar warga tidak membuang sampah ke drainase yang alirannya menuju Tandon BBS 3. Pengurus RT dan RW di sekitar tandon juga diminta ikut memantau perkembangan pengerukan.

Penanganan tersebut mencakup wilayah RW 09 BBS 3 dan RW 05 Kavling Blok E. Dengan pengerukan tandon, rencana pelebaran drainase, dan koordinasi pengaturan pintu air, Pemkot Cilegon berupaya menekan risiko banjir yang berulang setiap tahun. (*)

Berita Terkait

Discussion about this post