CILEGON, BANPOS – Pemerintah Kota Cilegon mengalokasikan Rp4 miliar dari APBD 2026 untuk melanjutkan pembangunan jaringan perpipaan air bersih di Kecamatan Pulomerak. Proyek yang telah dimulai sejak 2025 tersebut ditargetkan rampung pada Desember 2026 dan diharapkan mampu mengurangi krisis air bersih yang berulang setiap musim kemarau.
Krisis air bersih selama ini terjadi di tiga kelurahan, yakni Mekarsari, Suralaya, dan Tamansari. Wilayah terdampak meliputi tiga lingkungan di Mekarsari, 11 lingkungan di Suralaya, dan tiga lingkungan di Tamansari.
Kepala DPUTR Kota Cilegon Tb Dendi Rudiatna mengatakan pembangunan jaringan perpipaan menjadi salah satu upaya pemerintah menangani persoalan air bersih yang telah berlangsung menahun. Penanganan dilakukan secara bertahap dengan mengubah pola penyediaan air yang sebelumnya mengandalkan sumur bor menjadi jaringan perpipaan.
“Pipanisasi ini menjadi program dan arahan penting dari Walikota Cilegon untuk menyelesaikan persoalan menahun rawan air bersih,” katanya di ruang Kepala DPUTR, Rabu (16/9).
Menurut Dendi, penggunaan sumur bor sebelumnya belum mampu menjadi solusi jangka panjang karena ketersediaan air baku tidak bertahan lama. Karena itu, Pemkot Cilegon mulai mengubah pola penanganan melalui pembangunan jaringan perpipaan sejak 2025.
“Sebelumnya Pemkot melakukan pembangunan sumur bor air baku, cuma kendalanya itu nanti airnya gak tahan lama. Jadi 2025 kami ganti polanya,” ungkapnya.
Pada tahap awal 2025, pembangunan jaringan dilakukan dari jalur ASDP hingga Tanjung Sekong. Pekerjaan tersebut kemudian dilanjutkan pada 2026 melalui pembangunan tiga jalur jaringan baru dengan total anggaran Rp4 miliar.
Tiga jaringan tersebut meliputi jalur Lingkungan Lebak Gede-Suralaya sepanjang 1,5 kilometer dengan anggaran Rp2 miliar. Kemudian jalur Langon-Ciporong-Tembulun sepanjang 1,6 kilometer senilai Rp1 miliar dan Tembulun-Gunung Batur sepanjang 1,5 kilometer dengan anggaran Rp1 miliar.
“Anggaran Rp4 miliar itu murni dari APBD. Pipanisasi ini ditarget selesai Desember 2026,” paparnya.
Setelah pembangunan selesai, jaringan perpipaan tersebut akan dikelola bersama Perumda Air Minum Cilegon Mandiri. Pemerintah daerah akan berkoordinasi dengan Perumda terkait pengelolaan jaringan dan pelayanan air bersih kepada masyarakat.
Dendi optimistis pembangunan dapat diselesaikan sesuai target. Jaringan tersebut diharapkan mampu memberikan akses air bersih yang lebih berkelanjutan bagi warga Pulomerak sehingga persoalan kekurangan air tidak kembali terjadi pada 2027.
“Sesuai arahan dari Pak Walikota kita harus melayani masyarakat, dan kita upayakan sumber air permukaan dari Perumda. Mestinya tahun 2027 nanti gak ada krisis air lagi,” tuturnya. (*)







Discussion about this post