DPK Cilegon Kekurangan 940 Ribu Buku

CILEGON, BANPOS – Kesenjangan koleksi buku di Kota Cilegon masih sangat lebar. Dari kebutuhan ideal sekitar 1 juta eksemplar, koleksi yang tersedia di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kota Cilegon baru sekitar 20 ribu eksemplar.

Artinya, masih terdapat kekurangan sekitar 940 ribu eksemplar buku. Kondisi ini membuat ketersediaan bahan bacaan di perpustakaan belum sebanding dengan kebutuhan masyarakat yang jumlahnya hampir mencapai 500 ribu jiwa.

Baca Juga

Kepala DPK Kota Cilegon, Ismatullah, mengatakan jumlah koleksi ideal mengacu pada standar perpustakaan daerah, yakni dua kali jumlah penduduk.

“Idealnya dua kali jumlah penduduk. Kalau penduduk Cilegon hampir 500.000, harusnya ada 1 juta buku. Artinya, kita masih butuh banyak koleksi buku di Kota Cilegon ini,” ujar Ismatullah saat dikonfirmasi, Sabtu (5/9).

Menurutnya, keterbatasan koleksi menjadi pekerjaan rumah dalam memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan. Semakin sedikit koleksi yang tersedia, semakin terbatas pula pilihan buku yang dapat diakses dan dimanfaatkan masyarakat di perpustakaan.

Pemenuhan koleksi dilakukan secara bertahap melalui pengadaan buku yang dialokasikan setiap tahun. Namun, penambahan koleksi membutuhkan jumlah eksemplar yang cukup karena setiap judul buku idealnya tidak hanya tersedia satu eksemplar.

Ismatullah menjelaskan, setiap judul idealnya memiliki minimal empat eksemplar. Dua buku disiapkan untuk dipinjamkan kepada masyarakat, satu untuk dibaca di tempat, dan satu lainnya menjadi koleksi referensi yang tidak dipinjamkan.

“Jadi setiap satu judul itu minimal empat eksemplar. Dua untuk dipinjamkan, satu untuk dibaca di tempat, dan satu untuk referensi yang tidak boleh dipinjamkan,” jelasnya.

Dengan ketentuan tersebut, kata Ismatullah, kebutuhan koleksi bukan sekadar mengejar jumlah buku. DPK juga harus memastikan ketersediaan eksemplar untuk berbagai fungsi layanan, sehingga masyarakat yang datang tidak hanya memiliki akses terhadap judul tertentu, tetapi juga dapat meminjam maupun membaca buku sesuai kebutuhannya.

Di sisi lain, keterbatasan koleksi terjadi ketika fasilitas perpustakaan dari sisi luas gedung telah dinilai memenuhi ketentuan. Dengan jumlah penduduk mendekati 500 ribu jiwa, standar nasional mensyaratkan luas perpustakaan minimal sekitar 4.000 meter persegi.

“Kalau untuk fasilitas luas tanah dan gedung, Kota Cilegon sudah ideal dengan luas 4.000 meter persegi. Daerah lain di Banten yang wilayahnya lebih luas dari Cilegon tentu perlu penyesuaian lagi,” katanya.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena tingginya layanan literasi belum sepenuhnya ditopang ketersediaan koleksi yang memadai.

Ismatullah menyebut Kota Cilegon menjadi daerah dengan Tingkat Pengukuran Layanan Literasi Masyarakat (TPLM) tertinggi di Provinsi Banten dan mampu mempertahankan capaian tersebut.

Menurutnya, capaian tersebut perlu diimbangi dengan penguatan koleksi. Dengan akses dan minat masyarakat terhadap layanan literasi yang sudah baik, penambahan buku diperlukan agar kebutuhan bacaan masyarakat dapat terlayani lebih luas. (CR-03)

Berita Terkait

Discussion about this post